Pergolakan Taqlid dalam Sorotan (Bagian Kedua)

On April 25, 2010, in Manhaj, by Admin

Di kota asalnya Aleppo (Syria) saat dia Abu Ghuddah berkhuthbah di atas mimbar pada hari Jum’at, dia menyibukkan diri dengan mencela ahli tauhid yang dikenal di negerinya dengan salafiyyun, dan juga ahli tauhid di Saudi Arabia dan yang lainnya yang dijuluki Wahabiyyah. Dia mengumumkan permusuhannya yang keras terhadap mereka dan nyata-nyata menyesatkannya lewat perkataannya, “Sesungguhnya isti’anah (minta pertolongan) kepada yang sudah mati selain kepada Allah, dan istighotsah kepada mereka adalah boleh bukan syirik. Siapa yang mengira hal itu syirik atau kufur, maka ia kafir!” Dalam keadaan semua orang tahu kalau mereka para ahli tauhid ahlissunnah menyatakan perbuatan itu adalah kesyirikan dan dakwah mereka semata-mata memurnikan peribadahan kepada Allah dan ikhlash dalam hal ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Abu Ghuddah menafikan kalau kalam Allah itu terdiri dari huruf dan suara, seperti keyakinannya Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Pada komentarnya terhadap kitab asma` wash shifat halaman 194 karya Imam Al Baihaqi dia mengatakan, “Sesungguhnya Musa ‘alaihis salam ketika Allah Ta’ala mengajak bicara kepadanya, beliau tidak mendengar suaraNya…”

Ini jelas-jelas sangat bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah aqidahnya para sahabat, tapi nampaknya ini semua adalah buah taqlidnya kepada Al Kautsari di saat Kautsari menolak ketinggian Allah Ta’ala atas makhlukNya.

Sungguh tidak ada baiknya pada diri Abu Ghuddah walau ia sempat tinggal di Saudi Arabia mengajar beberapa tahun lamanya, menyembunyikan jati dirinya berkura-kura dalam perahu alias berpura-pura tidak tahu-menahu.

Bagai bobok manggih gorowong serasa mendapatkan jalan untuk mencela dan menjatuhkan seorang ulama ahlussunnah muhaddits negeri Syam Syaikh Nashiruddin Al Albani, saat beliau mengkritik dan mendho’ifkan salah satu sanad hadits dalam Shahih Bukhari �bukan matannya!-. Abu Ghuddah dan Syaikh Abdullah Al Ghimari menampakkan reaksi pengingkaran yang keras padahal Abu Ghuddah sendiri tahu kalau Al Kautsari yang menjadi guru kebanggaannya mengingkari matan hadits tersebut, lalu kenapa dia diam tidak berkomentar? Karena Kautsari adalah gurunya! Taqlid plus licik, bukan karena ada urusan pribadi dengan Albani tetapi karena memang kebenciannya terhadap sunnah dan ahlissunnah.

Continue reading »

Tagged with: