Da’wah hizbiyyah Sururiyyah

On February 11, 2010, in Manhaj, by Abu Sa'id

Sabtu, 15 April 2006
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Dakwah salafiyayah ahlussunnah wal jama’ah dan da’wah hizbiyyah Surruriyyah

(dimulai dengan khutbah hajah)
Ikhwani fiddin akromani wa akromahullahu jami’an. Pada kesempatan malam ini kita akan berbicara seputar dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama’ah dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah.

Pembicaraan dakwah hizbiyyah Surruriyyah sebenarnya sudah banyak dikupas panjang lebar oleh para ulama. Akan tetapi dalam rangka munashahah dan saling mengingatkan bahaya yang ditimbulkan dari dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini, maka tidak ada salahnya untuk kita kembali mengingatkan dan menjelaskan akan bahaya dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini.

Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…
Berbicara tentang dakwah hizbiyyah Surruriyyah, maka secara tak langsung kita akan bersinggungan dengan tiga pemahaman bid’ah di dalam Islam. Yaitu antara lain pemahaman Qutbiyyah yang diprakarsai oleh Sayyid Qutb. Kemudian yang kedua, pemahaman Ikhwanul Muslimin (IM) yang diprakarsai oleh Hasan al Banna, dan yang ketiga adalah Surruriyyah itu sendiri yang berafiliasi kepada pemahaman Muhammad Surrur Bin Nayif Zainal Abidin (MSBNZA).

Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…
Pemahaman Quthbiyyah, IM dan Surruriyyah ibaratnya setali tiga uang. Masing-masing saling ada keterkaitan. Sehingga kalau kita berbicara tentang Surruriyyah, maka paling tidak akan menyinggung kelompok/ paham Quthbiyyah dan IM.

Ikhwwani fiddiin ‘azakumullah….
Perlu untuk kita pahami bersama bahwa sesungguhnya perbedaan yang terjadi, perbedaan yang ada antara dakwah Salafiyyah ASWJ dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah adalah bukan perbedaan yang disebut ikhtilaful afham –perbedaan penafsiran-. Akan tetapi perbedaan yang ada adalah ikhtilafut thodhar –perbedaan yang kontradiksi- perbedaan yang sangat mendasar, perbedaan ynag terkait dengan hubungan manhaj, perbedaan yang dilandasi dengan berbedanya ideologi. Ini perlu kita ingatkan dan ini perlu kita sampaikan kepada umat bahwa sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam hal manhaj, bukan perbedaan penafsiran. Kenapa kita katakan demikian??
Karena akhir-akhir ini da’i-da’i Surruriyyah menebarkan kerancuan terutama kehadapan orang-orang yang jahil dan orang-orang yang jarang duduk di majlis ilmu. Yaitu mereka (da’i-da’i surruriryyah-red) mengatakan bahwa,

Continue reading »

 

Halalkah Daging Biawak?

On February 11, 2010, in Fiqih, by Abu Sa'id

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabil ‘alamin, semoga shalawat dan salam senantiasa terus dilimpahkan kepada Nabi terakhir, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, amma ba’du.

Telah menjadi sesuatu yang lumrah ketika seorang Indonesia mengartikan Dhabb (الضَبُّ ) dengan kata biyawak, baik itu dalam buku terjemahan, artikel, majalah, ataupun bentuk-bentuk media tulis lainnya. Padahal ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal, yang nantinya berakibat pada penghalalan daging biyawak itu sendiri. Hal tersebut telah diakui oleh kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwasanya penghalalan sesuatu yang Allah dan Rasul Nya haramkan atau sebaliknya, merupakan salah satu bentuk dari praktek kekufuran.
Salah satu penyebab kekeliruan tersebut karena kebanyakan orang Indonesia dalam menerjemahkan kata-kata bahasa arab terlalu bergantung pada kamus-kamus terjemah yang ada. Misalnya kamus Al Munawwir, yang mana didalamnya tidak sedikit terdapat kekeliruan (tidak sesuai) didalam penterjemahan dari bahasa arab ke dalam bahasa Indonesia. Faedah yang dapat diambil, bahwa tidak semua bahasa arab bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara mutlak.
Maka dengan risalah ini penulis ingin mencoba meluruskan kekeliruan yang ada. Wallahul muwaffiq.

APA ITU DHABB?
Untuk mengetahui apa itu dhabb, pembaca -semoga diberkahi Allah- bisa membuka Kitab Al Hayawan karya Abu ‘Utsman ‘Amr bin Bahr Al Jahizh yang terdiri dari delapan jilid atau Tajul ‘Arus karya Murtadha Az Zabidi ataupun kamus arab lainnya . Di dalam dua kitab itu disebutkan tentang apa itu dhabb terlebih lagi pada kitab yang pertama, disana kita bisa mengetahui banyak tentang dhabb.
Dan disini penulis hanya mencukupkan beberapa keterangan saja , diantaranya:
- Dhabb adalah hewan reptil yang hidup di gurun pasir,
- termasuk dari hewan darat bukan laut atau air,
- termasuk dari jenis hewan darat yang kepalanya seperti ular,
- umurnya panjang,
- sekali bertelur bisa mencapai 60 sampai 70 butir dan telurnya menyerupai telur burung merpati,
- warna kulitnya bisa berubah dikarenakan perubahan cuaca panas,
- tidak meminum air bahkan mencukupkan dirinya dengan keringat,
- ekor adalah senjatanya,
- gigi-giginya tumbuh berbarengan,
- mempunyai 4 kaki yang mana semua telapaknya seperti telapak tangan manusia,
- sebagiannya ada yang mempunyai dua lidah,
- hewan yang dimakan hanya belalang,
- terkadang memakan anaknya sendiri,
- makan tetumbuhan sejenis rumput,
- menyukai kurma,
- sebagian orang arab merasa jijik dengannya.

Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya kepada Syaikhuna Shalih Abdul Aziz Al Ghusn (hafizhahullah),
Seperti apa dhabb itu?,
beliau menjawab: “dhabb adalah hewan barr (padang pasir) yang berjalan diatas perutnya”.
Apakah dhabb bertaring?,
beliau menjawab: “dhabb tidak bertaring, hewan ini memakan rerumputan dan tidak meminum air, dan sebagian orang memakan dagingnya”.

APA ITU BIYAWAK?
Berbeda dengan dhabb, diantara keterangan tentang biyawak adalah sebagai berikut:
- biyawak adalah hewan reptil persis seperti komodo akan tetapi ukurannya lebih kecil,
- hidup di gua-gua kecil pinggiran sungai,
- bisa berenang di air dan berjalan di darat seperti halnya buaya,
- makanannya adalah daging karena hewan ini termasuk dari jenis karnivora,
- dia memangsa santapannya (hewan-hewan yang dimakannya seperti katak, tikus, ayam atau burung sekalipun) dengan gigi taring,
- ciri fisiknya mirip dengan komodo dari mulai bentuk perut, leher, kepala, ekor, sampai gaya berjalannya.
Penulis sengaja tidak mencari referensi tentang apa itu biyawak dari kamus-kamus binatang, dikarenakan penulis pernah langsung memelihara hewan tersebut.

DAGING DHABB HALAL DIMAKAN
Berikut ini adalah beberapa hadits yang menjadi dalil akan kehalalan daging dhabb :

عن ابْن عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم:
(الضَبُّ لَسْتُ آكِلَهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).
Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhainya-, ia berkata: telah bersabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
“Aku tidak memakan dhabb dan aku tidak mengharamkannya.”

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما، عَنْ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ:
أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَيْتَ مَيْمُوْنَةَ، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوْذٍ، فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ: أَخْبِرُوْا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَا يُرِيْدُ أَنْ يَأْكُلَ، فَقَالُوْا: هُوَ ضَبٌّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ يَدَهُ، فَقُلْتُ: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: (لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِيْ، فَأَجِدُنِيْ أَعَافُهُ). قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-, dari Khalid bin Walid -semoga Allah meridhainya-: bahwasanya ia bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- masuk ke rumah Maimunah -semoga Allah meridhainya-, lalu didatangkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- daging dhabb panggang, kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melayangkan tangannya kearah daging tersebut, lalu sebagian kaum wanita berkata:
“Beritahu Rasulullah atas apa yang akan dimakannya”,
maka para sahabat berkata:
“Wahai Rasulullah! Itu adalah daging dhabb”,
kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengangkat tangannya, lalu aku -Khalid- bertanya: “Apakah daging ini haram wahai Rasulullah?”,
kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Tidak, akan tetapi hewan ini tidak ada di tanah kaumku dan aku memperbolehkannya”,
Khalid berkata:
“Aku pun mengambilnya lalu memakannya dan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihatnya”.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ. قَالَ:
سَأَلَ رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، عَنْ أَكْلِ الضَّبِّ؟ فَقَالَ:
(لاَ آكِلُهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).
Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-, ia berkata:
“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya ketika sedang berada di atas mimbar tentang memakan dhabb, lalu Beliau menjawab:
“Aku tidak memakannya dan tidak mengharamkannya”.

عن ابْن عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فِيْهِمْ سَعْدٌ. وَأُتُوْا بِلَحْمِ ضَبٍّ. فَنَادَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ.
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (كُلُوْا، فَإِنَّهُ حَلاَلٌ. وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِيْ).
“Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-: bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersama beberapa orang dari sahabatnya -semoga Allah meridhai mereka-, diantaranya adalah Sa’d. Didatangkan kepada mereka daging dhabb, lalu ada seorang wanita berteriak:
“Itu adalah daging dhabb”,
kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya daging ini halal. Akan tetapi bukan dari makananku”.

daging biawak

DAGING BIYAWAK HARAM DIMAKAN
Berbeda dengan dhabb, dikarenakan biyawak termasuk dari jenis hewan buas dan bertaring, maka masuk kepada larangan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits-hadits berikut ini:

عَنِ الزُّهْرِيْ:
نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.
Dari Az Zuhri:
“Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah melarang setiap yang bertaring dari hewan buas (untuk dimakan.pent)”.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.
Dari Abu Tsa’labah Al Khusyni:
“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang untuk memakan setiap yang bertaring dari hewan buas”.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ :
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ (كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، فَأَكْلُهُ حَرَامٌ).
Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya bersabda:
“Setiap yang bertaring dari hewan buas, maka memakannya adalah haram”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ. وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.
Dari Ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-:
“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan dari setiap burung yang bercakar (yakni untuk dimakan.pent)”.

varanus salvator

Kesimpulannya, bahwa kata dhabb dalam bahasa arab tidak bisa kita artikan biyawak dalam bahasa Indonesia, karena keduanya adalah hewan yang saling berbeda. Dan kita di Indonesia tidak bisa mendapatkan satu ekor pun dhabb, karena memang disini bukanlah habibatnya. Sehingga kita ketahui dengan dalil-dalil yang ada bahwa daging dhabb halal untuk dimakan, adapun biyawak tidak, yakni daging biyawak haram untuk dimakan karena masuk pada hewan bertaring yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang umatnya untuk memakannya.
Semoga risalah ini menjadi secercah sinar yang bermanfaat untuk kaum muslimin.
Wal ‘ilmu ‘indallah, wallahu a’lam bish shawab.

Yang senantiasa mengharap ridha dan ampunan Rabbnya,

Syuhada Abu Syakir AlIskandar AlJawaghy AsSalafy
Hayy Ar Royyan, Ad Da`iriy Asy Syarqiy, Riyadh, KSA.

 

“CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah

On February 10, 2010, in Manhaj, by Abu Sa'id

بسم الله الرحمن الرحيم

-“Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah

dan

“CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah-

Semenjak beberapa hari terahir ini saya memang tidak banyak tahu dan melihat perkembangan dan informasi keagamaan yang disajikan di dunia maya .

Alangkah terkejutnya saya ketika diberitahu seseorang – Semoga Alloh Ta’ala menjaganya – bahwa ada sebuah tulisan yang menyinggung-nyinggung soal saya dan soal CMM, disebutkan bahwa saya nulis buku yang kemudian diterbitkan CMM

Semula saya tidak ingin menanggapinya karena hal tersebut sebelumnya sudah saya jelaskan saat ada yang menanyakannya. tetapi, ketika berita itu semakin menyebar dan akhirnya saya pun melihatnya sendiri , maka saya merasa perlu untuk meluruskan hal yang sebenarnya .

Saya berlindung kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala jika apa yang ingin saya jelaskan ini hanya sebagai pembelaan diri .

Akan banyak waktu terbuang sebetulnya menanggapi hal-hal yang seperti ini, juga hanya akan membuat Si penulisnya merasa dihargai dan besar diri .

Namun ,Si penulis nampaknya tidak merasa puas kalau tulisan miring dan berbau fitnah itu belum tersebar kemana mana , entah apa yang diinginkannya dari itu semua , bisa jadi hasad , bisa jadi tamak terhadap dunia , yang jelas simak syair-syair berikut ini :

Mata- mata pendengki mengintaimu sepanjang masa .

Coba menampakkan kesalahanmu, Sedang kebaikan disembunyikannya .

Para Pemuda menanam kedengkian ketika tidak mendapatkan keinginannya Jadilah semua kaum sebagai lawan dan tandingannya

Rambutku telah beruban, Namun rambut sitamak belum jua beruban .

Orang yang tamak terhadap dunia , sungguh dalam kepayahan .

Saya tegaskan , bahwa saya tidak pernah menulis seperempat buku pun yang kemudian diterbitkan oleh CMM , Apalagi kalau sebuah buku atau satu

buku seperti yang dituduhkan Al Bilaly (Abu Hanan Sabil Ar Rasyad Al Bilaly).

Al Bilaly tidak akan pernah bisa menyebutkan bukti kebenaran tuduhannya selain dari , satu artikel yang saya tulis “Aku Melawan Teroris” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlus Sunnah .

Saya kira kang Bilaly banyak termakan berita – berita yang disebar lewat surat kabar, persisnya ketika tulisan saya itu menjadi ramai diperbincangkan dan menjadi bahan diskusi – diskusi .

Dalam sebuah surat kabar tiba – tiba Tarmidzi Taher memberikan pernyataan ” Kurang lebih ada delapan kesalahan Imam Samudra dan pihaknya akan mengeluarkan sebuah buku bantahan “Aku Melawan Teroris” Sebuah kedustaan atas nama Ulama Ahlus Sunnah . Penulisnya sendiri adalah Al – Ustadz Abu Hamzah Yusuf ,dkk ” itulah kira-kira ungkapan Tarmidzi Taher

Kang Bilaly kelihatannya merasa cocok dengan berita ini – saya tidak tahu apa Al Bilaly membaca langsung berita ini atau dia mendengar hal itu dari orang lain, atau dia mendapatkan kiriman bukunya langsung dari CMM, tapi ini tidaklah penting, yang menarik adalah komentarnya, ”Saya bermesra-mesraan dengan JIL – CMM-“Pengikutnya JIL “…

Kang Bilaly tidak sendirian dalam tuduhan dan hujatan yang dilontarkan pada saya ini, tetapi diikuti juga oleh Abu Salma alias Abu Bur-han [Kang.. kalau di Bandung Burhan itu singkatan dari Bubur-Haneut].

Saya sendiri kaget ketika mendengar kabar berita pernyataan Tarmidzi Taher itu , hingga salah seorang ikhwan memperlihatkan surat kabarnya kepada saya .

Memang tidak lama buku yang dimaksud Tarmidzi Taher itu keluar, seorang ikhwanpun membawanya kehadapan saya dan setelah saya lihat barulah tahu bahwa isi buku itu adalah salinan dari majalah Asy Syari’ah edisi Teroris Berkedok Jihad dan disitulah saya menulis artikel dalam kajian utama dengan judul ” Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlus Sunnah .

Jadi bukan saya yang sengaja mengirim tulisan itu langsung ke CMM kemudian mereka terbitkan, atau saya yang minta agar tulisan itu dibukukan, bagaimana mungkin saya lakukan hal ini sementara saya tahu siapa itu CMM, disamping itu tulisan yang diambil CMM pun bukan tulisan saya saja.

“Aku Melawan Teroris ” sebuah kedustaan atas nama Ulama Ahlus Sunnah, itulah judul yang tertulis disampul depan buku yang dimaksud oleh Tirmidzi Taher , isi buku itu sama persis seperti apa yang ada dalam majalah Asy Syari’ah tanpa dikurangi dan ditambahi , bahkan disalin juga tulian – tulisan dari beberapa asatidz yang mengisi rubrik manhaji, tafsir, dan hadits, karenanya disebutkan penulisnya adalah Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf dan kawan – kawan yang biasa dituliskan dkk.

Kang Bilaly dan Abu Bur-han lupa atau pura pura lupa, atau memang pelupa, atau memang bisa jadi tidak tahu apa-apa, sehingga hal yang seperti ini tidak diperhatikan, yang pada akhirnya dengan semangat mengesankan bahwa saya memang satu-satunya penulis buku itu dan berhubungan dengan penerbit CMM.

Majalah Asy Syari’ah tujuannya memang da’wah, Sehingga siapapun berhak membaca majalah tersebut dan mengambil faidah darinya, karenanya pihak redaksi memperbolehkan bagi siapapun dari pembaca untuk mengutip isi majalah tersebut sebagian atau seluruhnya dengan mencantumkan sumber dan penulisnya, makanya dalam buku terbitan CMM itu dituliskan majalah tersebut sebagai sumbernya

Repotnya pihak CMM yang menerbitkan tulisan – tulisan dimajalah tersebut kedalam bentuk buku, mereka komersilkan untuk kepentingan mereka.

Sejak pertama kemunculan buku itupun saya segera klarifikasi, Sebab pasti ada orang – orang yang memanfaatkan hal tersebut sebagai celah untuk menghasut saya dan para asatidz lainnya, buktinya memang ada dua tokoh “pendekar standar ganda”yang diperankan oleh Al Bilaly dan Abu Bur-han menjadi korbannya .

Saya dan beberapa ikhwan berusaha untuk dapat menghubungi pihak CMM tetapi tidak pernah berhasil dan nampaknya tidak digubris .

CMM adalah CMM, dan saya setuju dengan pernyataan “pendekar standar ganda”itu bahwa mereka adalah corongnya JIL di Indonesia dan yang berhaluan “Liberal”.

Darimana kemudian saya dikatakan bermesra-mesra dengan JIL atau bahkan pengikutnya??, lain kali dan kali lain-lain hati-hati kang…

moderate

Perkataan itu bak susu sapi yang telah diperas dari teteknya

Tidak mungkin dapat dikembalikan lagi kedalamnya

Bagaimana mungkin seseorang dapat mengembalikan susu sapi yang telah

diperas dari teteknya

Seperti itulah perkataan tak dapat dikembalikan ke tempat asalnya

Saya berlepas diri dari CMM dan apa yang ada didalamnya. Adapun kedua pendekar “standar ganda” itu mereka majhul disisi saya, entah pengikut aliran mana, beda dengan Abu Qatadah yang sok dibela-belanya itu, saya pergi ke Yaman bareng pulang bareng , ngajar di Pondok pernah bareng, keadaannya sudah wadhih, saya tidak ingin mengupasnya lagi, tulisan ini akan terlalu panjang bila mengupasnya.

Dua Pendekar “standar ganda” itu mungkin merasa girang dan menang ketika saya tidak menanggapi tuduhannya, sebagian ikhwanpun mendesak untuk segera meluruskan persoalan yang sebenarnya.

Tidak ada yang membuat saya tidak semangat untuk membalasnya melainkan saya teringgat bait – bait syair dari Salim bin Maimun Al Khowash :

فخير من اجابته السكوتُ

عييت عن الجواب وماعييت

قذ ًًى فى جوف عيني ما قذيت

خزيت لمن يجافيه خزيت

اذا نطق السفيه فلا تجبْه

سكتّ عن السفيه فظنّ أني

شرارالناس لوكانوا جميعا

فلست مجاوبا أبدًا سفيهًا

Jika Pembaca ingin tahu arti dari syair ini tanyakan saja pada pendekar “standar ganda”itu, Kang Bilaly dan Abu Bur-han, mudah mudahan mereka ngerti tapi hati hati dari tahrif dan ta’wilnya seperti yang terjadi di atas.

Bandung Raya, 20 Desember 2006

Yang selalu mengharap ampunan Rabbnya

Abu Hamzah Yusuf Al-atsary

Note:
Kami berlepas diri dari CMM berkaitan dengan buku tersebut:

http://www.cmm.or.id/cmm-ind.php?id=C0_19_3

Judul : Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama Ahlussunnah
Penulis : Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary
Cetakan I : Juli 2005
Penerbit : Center for Moderate Muslim
Tebal : 122 halaman

 

Nasehat Asy-Syaikh Shalih Abdul Aziz Al-Ghusn (hafizhahullah) untuk Ikhwah Salafiyyin Indonesia

[Alih bahasa oleh Syuhada Abu Syakir Al-Iskandar As-Salafy Al-Andunisy]

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) Rabbil ‘alamin, shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad yang merupakan sebaik-baik makhluk dan yang paling mulianya serta yang sangat indah akhlaknya diantara mereka, Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menyanjung Beliau dengan firmanNya:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berada diatas akhlak yang agung”.

Dan juga berfirman:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حولك (159)

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”.

Dan juga berfirman:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ (13)

“maka maafkanlah mereka dan biarkanlah”.

Ya Ma’syaral Ahibbah! Wahai sekalian yang aku cintai! Aku wasiatkan kalian dan diriku dengan taqwa kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) baik dalam keadaan yang nampak ataupun tersembunnyi, dan taqwa kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) yaitu mematuhi segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.

Taqwa merupakan wasiat dari Allah (Subhanahu wa Ta’ala) untuk generasi awal dan terakhir. Sebagaimana Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا الله (131)

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kalian kepada Allah”.

Maka ini adalah wasiat yang sangat agung yang mencakup hak-hak Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dan hak-hak para hambaNya, agar Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dita’ati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri.

Dan taqwa merupakan wasiat dari Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebagaimana (yang Beliau sampaikan) didalam khutbatul wada’. Dan apabila Beliau mengangkat seseorang untuk dijadikan komando pasukan atau tentara Beliau mewasiatinya denga taqwa kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala).

Sebagaimana Beliau mewasiati Mu’adz (Radhiyallahu ‘anhu) dengan ucapannya:

اتق الله حيثما كنت

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada”.

Dan hendaklah kalian senantiasa ikhlas serta memperbaiki niat dalam ilmu dan amal, karena sesungguhnya kalian diperintahkan akan hal itu sebagaimana didalam firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala):

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (5)

“Dan tidaklah mereka itu diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya”.

Dan:

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14)

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku ibadahi dengan mengikhlaskan agamaku kepadaNya.”

Maka perbaikilah niat niscaya engkau akan termasuk dari ahlinya.

Akupun wasiatkan kalian agar bersemangat terhadap al-ilmu an-nafi’ (ilmu yang bermanfaat), tadaburilah al qur`an, dan bersemangatlah untuk mengikuti sunnah Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang Beliau sendiri telah memerintahkan akan hal itu dengan sabdanya:

فعليكم بسنتي، وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور

“Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para al-khulafa ar-rasyidin al-mahdiyin (yang telah diberi petunjuk oleh Allah) setelahku, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru didalam agama”.

Akupun wasiatkan kalian dengan sesuatu yang mana Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah memerintahkannya didalam sabdanya:

لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ؛ لا يَظْلِمُهُ ، وَلا يَخْذُلُهُ ، وَلا يَحْقِرُهُ ، التَّقْوَى هَاهُنَا ، و يُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثلاث مرات بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling bermusuhan, dan janganlah sebagian dari kalian melakukan penjualan diatas penjualan sebagian yang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah dia menzholiminya, dan jangan pula menelantarkannya, dan jangan pula merendahkannya, taqwa itu disini, dan Beliau berisyarat pada dadanya sebanyak tiga kali, cukuplah seseorang dikatakan jahat ketika ia merendahkannya saudaranya yang muslim, setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”.

pantai

Hadits yang mulia ini dimulai dengan peringatan dari perbuatan hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan seperti halnya api melalap kayu bakar, dan jika engkau merasakan sesuatu dari sifat tersebut maka sembunyikanlah, janganlah engkau menampakkannya dan jangan pula membicarakannya, karena sungguh telah dikatakan bahwa:

ما خلا جسد من حسد, لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه

“Tidak ada jasad yang terlepas dari hasad, akan tetapi orang yang hina akan menampakkannya sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya”.

Ya Ahibbati! Wahai sekalian yang aku cintai! Hendaklah kalian bersatu, saling mencintai, dan menyatukan kalimat, serta melaksanakan hak-hak yang mana Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah memerintahkan dan mewasiatkannya ketika Beliau bersabda:

حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ رواه مسلم

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam:

Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,

Dan jika ia menyerumu maka penuhilah seruannya,

Dan jika ia meminta nasehat darimu maka nasehatilah,

Dan jika ia bersin lalu memuji Allah (yakni mengucapkan alhamdulillah) maka doakanlah,

Dan jika ia sakit maka jenguklah,

Dan jika ia wafat maka ikutilah (yakni mengantarkannya ke pekuburan)”, diriwayatkan oleh Muslim.

Hak-hak atas saudara tidaklah terbatas pada perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits diatas, akan tetapi ini hanyalah merupakan contoh-contoh dan arahan-arahan yang mana kita harus memahami dan memperhatikannya.

Akupun wasiatkan kalian agar menghormati para Ulama dan mengambil ilmu dari mereka, karena sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, maka haruslah kita menghormati dan memuliakan mereka, karena sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah mengangkat derajat dan meninggikan kedudukan mereka.

Dan jikalau salah seorang dari mereka keliru didalam sebagian permasalahan ijtihad, maka hal itu tidaklah menjadi penghalang untuk kita istifadah (mengambil faidah) dari ilmu-ilmu mereka, dan tidaklah ada yang selamat dari kesalahan serta kekeliruan kecuali siapa saja yang dijaga oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala), dan kesempurnaan hanyalah milik Allah (Subhanahu wa Ta’ala).

Dan hendaklah kalian berhias dengan akhlak yang baik dan adab yang mulia, karena sesungguhnya akhlak yang baik akan menyebabkan timbangan alhasanat (amal kebaikan) menjadi berat, dan sifat itupun merupakan sebab memasuki jannah, dan juga sebab yang dapat menimbulkan rasa cinta kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dan RasulNya, serta sebab untuk dekat dengan Beliau di hari kiamat kelak.

Dan tidak ada sesuatupun yang diletakkan diatas timbangan seorang hamba yang lebih berat daripada akhlak yang baik, dan sungguh seorang yang berakhlak baik akan sampai kepada derajat orang yang melakukan shalat dan shaum dikarenakannya.

Disebutkan didalam hadits Abdullah bin Amr (Radhiyallahu ‘anhuma) secara marfu’:

Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

ألا أخبركم بأحبكم إلي وأقربكم منى مجلسًا يوم القيامة قالوا بلى قال أحسنكم خلقًا

“Maukah kalian aku beritahukan tentang seseorang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku tempat duduknya pada hari kiamat kelak?”, para sahabat menjawab: “tentu”, Beliaupun bersabda: “dia adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian”.

Dan disebutkan didalam hadits Abu Hurairah (Radhiyallahu ‘anhu):

أكثر ما يدخل الجنة تقوى الله وحسن الخلق

“(Amalan) yang paling banyak memasukkan ke jannah adalah akhlak yang baik dan taqwa kepada Allah”.

Dan termasuk dari perkara yang akan memperkuat ikatan persaudaraan, dan mempersatukan hati, serta menghilangkan (kejelekan) yang ada dalam jiwa, yaitu hendaklah seorang hamba mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan hendaklah menahan diri untuk menyakiti saudaranya baik itu dengan tangan, atau lisan, ataupun yang lainnya.

Sebagaimana disebutkan didalam hadits Abu Dzar (Radhiyallahu ‘anhu), ia berkata:

قلت يا رسول الله أيّ الأعمال أفضل قال الإيمان بالله والجهاد في سبيله, قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ ؟ قَالَ : تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ، قُلْتُ : أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ : فكُفّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ, فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ

Aku bertanya: “Wahai Rasulallah amalan apakah yang paling utama?”, Beliau menjawab: “iman kepada Allah dan jihad dijalanNya”, aku bertanya: “jika aku tidak bisa melakukannya?”, Beliau menjawab: “hendaklah engkau menolong orang yang melakukannya atau engkau beramal untuk seorang yang jahil”, aku bertanya: “apa pendapatmu jika aku tidak mampu dalam sebagian amalan?”, Beliau menjawab: “tahanlah sikap jahatmu dari manusia, karena sesungguhnya hal itu adalah shadaqah darimu untuk dirimu”.

Dan termasuk dari perkara yang akan mendatangkan rasa cinta serta akhlak yang baik yaitu hendaklah memaafkan kesalahan-kesalahan ikhwan dan janganlah mencela mereka dikarenakan kekelirua-keliruan yang terjadi, dan hendaklah berusaha dengan sungguh agar tercipta sedikitnya perselisihan, dan bersungguh-sungguhlah untuk tegak diatas kebersamaan.

Dan jika salah seorang dari ikhwan tergelincir berbuat kesalahan, maka carilah untuknya sembilan puluh udzur, dan janganlah sibuk dengan aib-aib ikhwan sedangkan engkau lupa dengan aib diri sendiri.

Sebagian Ulama (Rahimahumullah) mengatakan:

المؤمن يطلب معاذير اخوانه, والمنافق يطلب عثراتهم

“Seorang mukmin akan mencari berbagai udzur bagi saudaranya, sedangkan seorang munafik akan mencari-cari segala kesalahan mereka”.

Dan terakhir, ketahuilah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ (90)

“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”.

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) memerintahkan (agar kita berlaku) inshaf dan bersikap adil dengan seadil-adilnya walaupun hanya pada diri sendiri, atau terhadap kedua orang tua, ataupun terhadap sanak kerabat.

Dan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) memerintahkan agar kita bersegera terhadap perkara yang akan mendatangkan ampunanNya dan akan menghantarkan kedalam jannah yang luasnya seluas tujuh langit dan bumi, Dia berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

KSA Riyadh, 29 Dzulqo’dah 1430 H

Bertepatan dengan 17 November 2009 M

Ket:

Kurang-lebih 20 tahun yang lalu beliau pensiun dari Majlis Al-Qadha di kota suci Makkah Al-Muharramah sebagai Al-Mufti Al-Qadhi, semenjak itu sampai saat ini beliau bermukim di kota Riyadh dan beliau menghabiskan waktunya untuk duduk di maktabah.

Beliau adalah Shahibul fadhilah Asy-Syaikh Al-Mukarram Shalih bin Abdul Aziz bin Abdillah Al-Ghusn lahir di Buraidah Al-Qashim pada tanggal 01 Rajab tahun 1356 H (berarti usia beliau sekarang kurang lebih 75 tahun).

—-

text asli:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله ربّ العالمين وصلّى الله وسلّم على أشرف خلقه وأكرمهم وأحسنهم خُلُقا أثنى الله عليه

بقوله: وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)

وقال تعالى: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ (159)

وقال تعالى: فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ (13)

فيا معشر الأحبّة أوصيكم ونفسي بتقوى الله في السّرّ والعلن, وتقوى الله هي امتثال أوامره واجتناب نواهيه, والتقوى وصية الله للأوّلين والأخرين,

كما قال تعالى: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا الله (131)

فهي الوصية العظيمة الجامعة لحقوق الله وحقوق عباده, بأن يطاع فلايعصى, ويذكر فلاينسى, ويشكر فلايكفر, والتقوى وصية الرسول صلى الله عليه وسلم لأمّته كما في خطبة الوداع,

وكان إذا أمّر أميرا على جيش أو سرية أوصاه بتقوى الله, ووصّى بها معاذا رضي الله عنه

قائلا له: اتق الله حيثما كنت

وعليكم بالإخلاص وحسن النية في العلم والعمل, فإنكم مأمورين بذلك

في قوله تعالى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (5)

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14)

فانو الخير تكن من أهله,

كما أوصيكم بالحرص على العلم النافع, تدبّر كتاب الله, واتباع سنّة رسوله صلى الله عليه وسلم التي حثّ عليها الرسول صلى الله عليه وسلم

بقوله: فعليكم بسنتي، وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور

كما أوصيكم بما أرشد إليه المصطفى صلى الله عليه وسلم

بقوله: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ؛ لا يَظْلِمُهُ ، وَلا يَخْذُلُهُ ، وَلا يَحْقِرُهُ ، التَّقْوَى هَاهُنَا ، و يُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثلاث مرات بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

فبدأ هذا الحديث الشريف بالتحذير من الحسد, فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب, وإذا أحسست شيئً من ذلك لأحد إخوانك فاكتمه ولاتظهره ولاتحدّث به, فإنه قد قيل ما خلا جسد من حسد, لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه,

وعليكم ياأحبّتي بالتآلف والمحبّة وجمع الكلمة وأداء الحقوق التي حثّ عليها الرسول صلى الله عليه وسلم ورغّب فيها

قائلا: حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ رواه مسلم

وحقوق الإخوة ليست محصورة في هذه, وإنما هي نماذج وتوجيهات ينبغي فهمها والإعتناء بها,

كما أوصيكم باحترام العلماء والأخذ منهم فإن العلماء ورثة الأنبياء, فينبغي احترامهم واجلالهم, فإن الله رفع قدرهم وأعلى شأنهم, حتى ولو غلِط بعضهم في بعض مسائل الإجتهاد, فلايكون ذلك مانعا من الإستفادة من علومهم, ولايسلَم من الأخطاء الا من عصَمه الله والكمال لله وحده,

وعليكم بالأخلاق الحسنة والآداب الفاضلة فإن حسن الخلق يثقل ميزان الحسنات, وهو سبب لدخول الجنة, والى محبة الله ومحبة رسوله والقرب منه يوم القيامة,

فإنه ما من شيئ يوضع في ميزان العبد أثقل من حسن الخلق, وإن صاحب حسن الخلق ليبلغ به درجة صاحب الصوم و الصلاة,

وفي حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما مرفوعا

ألا أخبركم بأحبكم إلي وأقربكم منى مجلسًا يوم القيامة قالوا بلى قال أحسنكم خلقًا

وفي حديث ابي هريرة رضي الله عنه

أكثر ما يدخل الجنة تقوى الله وحسن الخلق

ومما يقوّي الترابط بين الإخوة ويألّف قلوبهم ويزيل ما في النفوس, أن يحبّ المرء لأخيه ما يحبّ لنفسه, وأن يكُفّ عنهم الأذى باليد أو بالسان أو غيره,

كما في الصحيحين من حديث ابي ذرّ رضي الله عنه قال:

قلت يا رسول الله أيّ الأعمال أفضل قال الإيمان بالله والجهاد في سبيله, قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ ؟ قَالَ : تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ، قُلْتُ : أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ : فكُفَّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ, فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ

ومما تقتضيه المحبة وحسن الخلق, الصفْح عن عثْرات الإخوان وترك تأنيبهم بها والحرص على قلّة الخلاف والحرص على لزوم الموافقة,

وإذا زلّ أحد اخوانك فاطلب له تسعين عذرا, و لا تشتغل بعيوب الناس وتنسى عيب نفسك,

قال بعض الفضلاء: المؤمن يطلب معاذير اخوانه, والمنافق يطلب عثْراتهم,

وأخيرا اعلموا

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ (90)

وحثّ على الإنصاف والقوامة بالقسط ولو على النفس أو الوالدين أو الأقربين,

وأمر الله بالمسارعة إلى ما يوجب مغفرته ويدخل الجنة التي عرضها السموات والأرض,

قائلا: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

 

Islam is “Take It” and “Leave It”

On February 8, 2010, in Manhaj, by Abu Sa'id

Penulis: Ust. Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
[Buletin Al Wala-Wal Bara, 17 Jan 2003/13-DzulQo'dah-1423]

Manusia membutuhkan syariat dalam mengarungi kehidupan dunia, sebab yang namanya manusia sudah tentu akan melakukan gerak yang dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Sedangkan syariat yang akan membedakan mana yang akan menghasilkan kemaslahatan dan mana yang menjerumuskan ke dalam kemudharatan. Itulah keadilan Allah pada makhluqnya, cahaya-Nya di tengah-tengah hambanya. Tidak mungkin Bani Adam akan hidup tanpa ada syariat yang mengarahkan kepada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Allah berfirman, “…Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl : 44). “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al Maidah : 15-16). Allah juga berfirman, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy Syura : 52)
Itulah Islam, Islam adalah perintah untuk beribadah kepada Allah dan melepaskan peribadahan-peribadahan kepada selainnya. Islam adalah perintah untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dan menjauhi larangannya. Islam adalah pengagungan terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, yang dengan itu semua manusia diatur kehidupannya sesuai dengan kehendak Sang Pencipta dan pengatur alam jagad raya ini. Yang dengan itu semua manusia dimulyakan atas makhluq-makhluq ciptaan lainnya.
Islam bukanlah seperti yang difilm-kan oleh Si Boy atau yang digambarkan oleh seorang cow-boy, bukan pula seperti yang dicita-citakan oleh seorang sinting Ulil Abshar Abdala (Koordinator Jaringan Iblis Liberal), yang mengatakan bahwa Islam yang disuguhkan dengan cara “take it” or “leave it” itu membahayakan kemajuan Umat Islam.

take it and leave it

Pernyataan yang ngaco, yang penulis kira dia bukan seorang muslim. Bagaimana tidak, dengan pernyataan itu dia menginginkan Umat Islam bebas dari syariat yang memerintah dan melarang. Tidak ada manfaatnya ketaatan dan tidak akan membahayakan kemaksiatan-kemaksiatan. Tak ada bedanya orang yang beribadah dan yang bermaksiat. Tak ada gunanya amalan-amalan shalih. Tak ada bedanya antara yang haq dan yang batil. Tidak ada prinsip Al Wala’ wal Bara’, bahkan tidak ada bedanya antara Islam dan kafir. Jelas ini adalah penghinaan terhadap syariat Allah dan penghinaan terhadap Umat Islam yang menurut dia -dengan pernyataanya itu- Umat Islam harus seperti binatang yang hidup bebas tanpa batasan norma-norma kemanusiaan. Kalau bagi dia wajar, karena dia memang seekor binatang. Tetapi kita, kita adalah Umat Islam yang dimuliakan dengan Islam -seperti pernyataan sahabat Umar ibnul Khaththab-.
Sesungguhnya tidak ada istimewanya tulisan dan pernyataan Ulil Abshar sehingga penulis harus menghabiskan waktu untuk membantahnya, karena isinya hanya sampah dan kotoran-kotoran najis yang wajib setiap Muslim untuk menjauhinya. Penulis hanya ingin mengingatkan para pembaca -Kaum Muslimin- dengan firman Allah, “…Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS Al Maidah : 49)
Hanya dengan kembali kepada agama-Nya, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, mematuhi segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya Umat Islam akan maju dan mulia, sebagaimana pernyataan Nabi, “Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Semua perintah maupun larangan Allah dan Rasul-Nya adalah sesuai dengan fitrah manusia, mengarahkan Umat Islam kepada sesuatu yang bermaslahat dan menjauhkan dari sesuatu yang mudharat, di antara yang menunjukkan hal itu:
Pertama: Allah memerintahkan untuk memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar…” (QS Ali Imran : 110).
Kedua: Allah memerintahkan untuk ta’awun (tolong menolong) dalam hal kebaikan dan melarang dari ta’awun dalam hal dosa dan maksiat: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS Al Maidah : 2).
Ketiga: Allah memerintahkan untuk menjadi para penegak keadilan: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…” (QS An Nisa : 135).
Keempat: Rasulullah memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang dari berdusta: “Hendaklah kalian jujur karena kejujuran menghantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menghantarkan ke surga. Dan janganlah kalian berdusta karena kedustaan akan menghantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan menghantarkan ke neraka.” (HR. Bukhori Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Kelima: Rasulullah melarang dari berburuk sangka: “Janganlah kalian berprasangka buruk karena ia adalah perkataan yang paling dusta.” (HR Bukhori Muslim dari Abu Hurairah)
Keenam: Rasulullah memerintahkan untuk menyebarkan nasihat: “Agama itu nasihat” -diulangi tiga kali-, kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, Rasul-Nya dan bagi para pemimpin muslimin dan Kaum Muslimin umumnya.” (HR. Muslim dari Abi Ruqoyah Tamim Ad Dari)
Akhirnya sekali lagi penulis mengingatkan kepada para pembaca -Kaum Muslimin- bahwa sekarang ini telah muncul orang-orang yang berhati syaitan tetapi bertubuh manusia seperti yang digambarkan Rasulullah dalam Shahih Bukhori, hendaknya berhati-hati dan waspada terhadap mereka. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan Kaum Muslimin di manapun berada, Amin ya Mujibas saailiin.

 

Jadwal Ta’lim Ma’had Adhwaus-Salaf Bandung

On February 8, 2010, in Info Dakwah, by Abu Sa'id

mahad2

Jadwal Ta’lim Ma’had Adhwaus-Salaf Bandung

———————————————————————————
TA’LIM IKHWAN/ABA
Tempat: Masjid Imam Syafi’i , Ma’had Adhwaus-Salaf Bandung
Peserta: Laki-laki

=== Ta’lim Ba’da Shubuh ====

Senin & Jum’at – Ba’da Shubuh
Pengajar: Ust. Abu Yasir
Kitab: Syarh Riyadus Sholihin
Karya Syaikh Utsaimin

Selasa & Rabu – Ba’da Shubuh
Pengajar: Ust Abu Hamzah Yusuf Al Atsari
Kitab: Tafsir Taisirul Karimirrahman
Karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

Kamis – Ba’da Shubuh
Pengajar: Ust. Mundzir
Kitab: Syarh Durusul Muhimmah ‘ala ammatil ummah
Karya: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Sabtu – Ba’da Shubuh
Kitab: Nawaqidul Islam
Karya: SyaikhMuhammad bin Abdul Wahhab

=== Ta’lim Ba’da Dhuhur ===

Setiap Hari – Ba’da Duhur
Pengajar: Ust. Abu Marwan
Kitab: Arba’una Hadits fi tarbiyah wa Manhaj
Karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As Sadlan

=== Ta’lim Ba’da Ashar ===

Setiap Hari – Ba’da Ashar
Pengajar: Ust. Abu Yasir
Kitab: Syarh Riyadus Sholihin
Karya Syaikh Utsaimin

=== Ta’lim Ba’da Magrib ===

Senin & Selasa – Ba’da Magrib
Pengajar: Ust. Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
Kitab: AlQoulul Mufid ala kitabit Tauhid- Syarh Kitabut Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Karya Syaikh Utsaimin

Rabu – Ba’da Magrib
Pengajar: Ust. Abu Ibrohim M. Mundzir
Kitab: Umdatul Ahkam*
Karya: Syaikh Abdul Ghoni bin Abdul Wahid Almaqdasi
* (8 Feb 2010) tinggal 3 hadits lagi, insha Allah dilanjutkan dengan Kitab Shohih Muslim

Kamis, Jum’at & Ahad – Ba’da Magrib
Pegajar: Ust. Abu Yasir
Kitab: Bulughul Marom
Karya: Ibnu Hajar al asqolani

Sabtu – Ba’da Magrib
Pengajar: Ust. Abu Marwan
Kitab: Nawaqidul Islam
Karya: SyaikhMuhammad bin Abdul Wahhab

=== Ta’lim Ba’da Isya ===
Setiap Hari – Ba’da Isya
Pengajar: Ust. Abu Yasir
Kitab: Durusul Lughotul ‘arobiyah li ghoiri natiqina biha – Jilid 2

———————————————————————————-
TA’LIM UMAHAT/AKHWAT
Tempat: Aula Umahat – Ma’had Adhwaus-Salaf Bandung
Peserta: Perempuan

=== Ta’lim ba’da Ashar ===

Jum’at – Ba’da Ashar
Pengajar: Ust. Mundzir
Kitab: Nasihati linnisa
Karya: Ummu Abdillah al wadi`iyah

Sabtu – Ba’da Ashar
Pengajar: Ust. Abu Yasir
Kitab:

———————————————————————————–
TA’LIM WARGA SEKITAR MA’HAD

Tempat: Masjid Baitullah, Blok E, Perumahan Manglayang Regency, Cileunyi, Bandung

Sabtu – Ba’da MAgrib
Pengajar: Ust. Abu Yasir
Kitab: Riyadus Sholihin

Jum’at – Ba’da Magrib
Pengajar: Ust. Abu Hamzah
Kitab: Tafsir Taisurul Karimirrahman
Karya: Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

 

Beda Al-Qur`an dengan Hadits Qudsy

Oleh : Al-Ustadz Abu Muawiah

Tanya:
Bismillah. Apa yg dimaksud dgn hadits qudsy dan apa perbedaannya dgn al-qur’an? Jazakumullahu khoiron
“M. Aziz singkep”

Jawab:
Hadits qudsi adalah hadits yang disnisbatkan kepada Zat yang quds (suci), yaitu Allah Ta’ala. Yang mana hadits qudsi ini disampaikan kepada kita oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun perbedaan antara dia dengan Al-Qur’an, maka ada beberapa perkara yang disebutkan oleh para ulama. Di antaranya:

Continue reading »

Biografi singkat Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib


1. Nama : Muhammad bin Ghalib Hassan Al-’Umari

2. Domisili : Madinah, Saudi Arabia

3. Pendidikan:
S-1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Madinah
S-2 Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah
Sekarang sedang menempuh Program Doktoral di Fakultas Dakwah,
Universitas Islam Madinah

4. Guru-guru :

Continue reading »

Biodata beliau:
Nama: Abdullah bin Umar bin Mar’i bin Bariik Al Adeni
Kunyah: Abu Abdirrahman
Tempat dan Tanggal Lahir: Al Manshurah – Aden, pada hari Selasa tanggal 27 Syawwal 1389 H

Keluarga beliau:
Syaikh Abdullah menikah di Kerajaan Saudi Arabia, Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada beliau seorang istri yang shalihah, seorang pengajar dan mustafidah. Allah pun menganugerahkan tujuh orang anak yang terdiri dari empat putra dan tiga orang putri. Adapun putra beliau adalah:

1. Abdurrahman, kunyah Syaikh diambil dari nama putra beliau ini.

2. Umar

3. Muhammad

4. Abdullah, ini yang paling bungsu.

Proses Beliau Menuntut Ilmu:

Continue reading »

SAFARI DAKWAH MASYAYIKH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH

Bismillah…

Hadirilah dengan mengharap ridho Allah Ta’ala

Safari Dakwah Masyayikh Ahlus Sunnah

Pembicara :

Asy Syaikh Abdullah Al Mar’i

dan

Asy Syaikh Muhammad Ghalib

Insya Allah akan berlangsung pada tanggal 28 Safar – 7 Rabi’ul Awal 1431 H atau bertepatan dengan tanggal 13 – 21 Februari 2010

Continue reading »