<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ma&#039;had Adhwa&#039;us Salaf Bandung &#187; Manhaj</title>
	<atom:link href="http://adhwaus-salaf.or.id/category/manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adhwaus-salaf.or.id</link>
	<description>- Menuju Masyarakat Islami di atas Al Quran dan As Sunnah -</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 21:30:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Download Dauroh &#8220;Bingkisan Untuk Para Pecinta Ihyaut Turots&#8221;</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/29/download-dauroh-bingkisan-untuk-para-pecinta-ihyaut-turots/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/29/download-dauroh-bingkisan-untuk-para-pecinta-ihyaut-turots/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 02:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah &#160; Berikut  rekaman &#8220;Mewaspadai Tersebarnya Bahaya Khawarij Melalui Yayasan Ihya At Turots&#8221; &#160; Dibawakan Oleh : Al-Ustadz Al Fadhil Luqman bin Muhammad Ba&#8217;abduh Hafizhahulloh &#160; Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bismillah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikut  rekaman<strong> &#8220;Mewaspadai Tersebarnya Bahaya Khawarij Melalui Yayasan Ihya At Turots&#8221;</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dibawakan Oleh : <strong>Al-Ustadz Al Fadhil Luqman bin Muhammad Ba&#8217;abduh <em>Hafizhahulloh</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a title="Download" href="http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1973"><strong>Download</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/29/download-dauroh-bingkisan-untuk-para-pecinta-ihyaut-turots/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taklid dan Fanatisme Golongan</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/06/26/taklid-dan-fanatisme-golongan/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/06/26/taklid-dan-fanatisme-golongan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 13:17:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[(ditulis oeh: Al-Ustadz ldral Harits) “Kiai-ku lebih pintar dari kamu!”, “Imamku-lah yang paling benar!”, ungkapan-ungkapan seperti ini sering kita dengar ketika ada nasihat disampaikan. lnilah antara lain gambaran taklid dan fanatisme golongan, penyakit yang telah lama menjangkiti umat. Hancurnya kaum muslimin dan jatuhnya mereka ke dalam kehinaan tidak lain disebabkan kebodohan mereka terhadap Kitab Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2011/06/fanatisme.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-662" title="fanatisme" src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2011/06/fanatisme.jpeg" alt="" width="275" height="183" /></a>(ditulis oeh: Al-Ustadz ldral Harits)</p>
<p><em> </em></p>
<p>“Kiai-ku lebih pintar dari kamu!”, “Imamku-lah yang paling benar!”,  ungkapan-ungkapan seperti ini sering kita dengar ketika ada nasihat  disampaikan. lnilah antara lain gambaran taklid dan fanatisme golongan,  penyakit yang telah lama menjangkiti umat.</p>
<p>Hancurnya kaum muslimin dan jatuhnya mereka ke dalam kehinaan tidak  lain disebabkan kebodohan mereka terhadap Kitab Allah l dan Sunnah  Nabi-Nya <em>Shalallahu&#8217;alaihiwasallam</em>, serta tidak memahami pengertian dan pelajaran yang terdapat  pada keduanya.</p>
<p>Demikian pula yang menjatuhkan umat lslam ke dalam  perbuatan bid’ah dan khurafat. Bahkan kebodohan terhadap agamanya ini  merupakan faktor utama yang menumbuhsuburkan taklid.</p>
<p><span id="more-661"></span></p>
<p>Berbagai  kebid’ahan tumbuh dengan subur di atas ketaklidan dan kebodohan yang ada  di tengah-tengah kaum muslimin. Hal ini juga disebabkan adanya para  dajjal (pembohong besar) dari berbagai golongan (sempalan) yang  menyandarkan dirinya kepada imam-imam mazhab yang telah dikenal. Padahal  pengakuan mereka yang menyebutkan bahwa mereka adalah pengikut para  imam tersebut adalah pengakuan dusta.<br />
Kita dapati dalam kitab-kitab  tentang tafsir, fiqih, tasawwuf, atau syarah hadits Nabi <em>Shalallahu&#8217;alaihiwasallam</em>, berbagai  kebid’ahan bahkan khurafat yang ditulis oleh mereka yang menyatakan  dirinya bermazhab Fulani. lnnaa lillah wa innaa ilaihi raji’un.</p>
<p>Begitu  hebatnya penyakit ini melanda kaum muslimin seakan-akan sudah menjadi  wabah yang tidak ada obatnya di dunia ini, dan akibat taklid ini,  muncullah sikap-sikap fanatik terhadap apa yang ada pada dirinya atau  kelompoknya. Sampai-sampai seorang yang bermazhab dengan satu mazhab  tertentu tidak mau menikahkan putrinya dengan penganut mazhab lain,  tidak mau pula shalat di belakang imam yang berbeda mazhab, dan  sebagainya. Bahkan yang ironis, di antara penganut mazhab ada yang  saling mengafirkan.<br />
lnilah sesungguhnya penyakit yang mula-mula  menimpa makhluk ciptaan Allah l. lblis yang terkutuk, makhluk pertama  yang mendurhakai Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>, tidak lain disebabkan oleh sikap fanatiknya,  yang dia merasa unggul karena unsur yang menjadi asal dia diciptakan.  Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em> menerangkan hal ini:</p>
<p>“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12)</p>
<p>Definisi Taklid<br />
Taklid  secara bahasa diambil dari kata (قَلَّدَ &#8211; يُقَلِّدُ) yang bermakna  mengikatkan sesuatu di leher. Jadi orang yang taklid kepada seorang  tokoh, ibarat diberi tali yang mengikat lehernya untuk ditarik  seakan-akan hewan ternak.<br />
Sedangkan menurut istilah, taklid artinya  beramal dengan pendapat seseorang atau golongan tanpa didasari oleh  dalil atau hujjah yang jelas.<br />
Dari pengertian ini, jelaslah bahwa  taklid bukanlah ilmu dan ini hanyalah kebiasaan orang yang awam (tidak  berilmu) dan jahil. Allah l telah mencela sikap taklid ini dalam  beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Firman Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>:<br />
“Atau adakah Kami  memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al-Qur’an lalu mereka  berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami  mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami  orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.’ Dan  demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi  peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup  mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak  kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut  jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata, ‘Apakah (kamu akan  mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih  (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapak  kalian menganutnya?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari  agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.’ Maka Kami binasakan  mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang  mendustakan itu.” (az-Zukhruf: 21—25)</p>
<p>Al-Imam asy-Syaukani t  sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh Muqbil bin Hadi <em>rahimahullah</em>, mengatakan,  “Ayat-ayat ini adalah dalil terbesar tentang batil dan jeleknya taklid.  Karena sesungguhnya orang-orang yang taklid ini, mengamalkan ajaran  agama mereka hanyalah dengan pendapat para pendahulu mereka yang  diwarisi secara turun-temurun. Apabila datang seorang juru dakwah yang  mengajak mereka keluar dari kesesatan, kembali kepada al-haq, atau  menjauhkan mereka dari kebid’ahan yang mereka yakini dan warisi dari  para pendahulu mereka itu tanpa didasari dalil yang jelas—hanya  berdasarkan katanya dan katanya—, mereka mengatakan kalimat yang sama  dengan orang-orang yang biasa bermewah-mewah, ‘Sesungguhnya kami  mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami  adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ Atau ungkapan lain yang semakna  dengan ini.”</p>
<p>Firman Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>:<br />
“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli ibadah mereka sebagai Rabb selain Allah.” (at-Taubah: 31)<br />
Maksudnya,  mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah di kalangan mereka sebagai  Rabb selain Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>. Artinya, ketika para ulama dan ahli ibadah itu  menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>, mereka  mengikuti penghalalan tersebut. Ketika mereka mengharamkan sesuatu yang  dihalalkan oleh Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>, mereka juga mengikuti pengharaman tersebut.  Bahkan ketika para ulama dan ahli ibadah tersebut menetapkan suatu  syariat yang baru dalam agama mereka yang bertentangan dengan ajaran  para rasul itu, mereka juga mengikutinya. Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em> berfirman:<br />
&#8220;Patung-patung  apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya? Mereka menjawab,  ‘Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya’.” (al-Anbiya’: 52—53)<br />
Perhatikanlah  bagaimana jawaban yang mereka berikan. Walhasil, taklid ini menghalangi  mereka untuk menerima kebenaran, sebagaimana disebutkan oleh Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em>:<br />
“Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (az-Zukhruf: 24)<br />
Para  ulama menjadikan ayat-ayat ini dan yang semakna sebagai hujjah (pedoman  hukum) tentang batilnya taklid. Bukan halangan bagi mereka untuk  berhujjah dengan ayat ini meskipun ayat ini berbicara tentang  orang-orang kafir. Karena kesamaan yang terjadi bukan pada kekufuran  satu golongan atau keimanan yang lain, akan tetapi kesamaannya adalah  bahwa taklid itu terjadi karena keduanya sama-sama mengikuti suatu  keyakinan atau pendapat tanpa hujjah atau dalil yang jelas.<br />
Demi  Allah Yang Mahaagung, sesungguhnya kaum muslimin itu, ketika benar-benar  sebagai kaum muslimin yang sempurna dan benar keislaman mereka, keadaan  mereka senantiasa mendapat pertolongan serta menjadi pahlawan-pahlawan  yang membebaskan berbagai negara dan menundukkannya di bawah kedaulatan  muslimin. Akan tetapi ketika mereka mengubah-ubah perintah-perintah  Allah l, maka Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em> pun memberi balasan kepada mereka dengan mengganti  nikmat-Nya kepada mereka, serta menghentikan kekhalifahan yang ada di  tangan mereka. Inilah kenyataan yang kita saksikan dan kita rasakan.<br />
Al-‘Allamah  al-Ma’shumi mengatakan bahwa termasuk yang berubah adalah adanya  prinsip dan keharusan seorang muslim bermazhab dengan satu mazhab  tertentu serta bersikap fanatik meskipun dengan alasan yang batil.  Padahal mazhab-mazhab ini baru muncul sesudah berakhirnya masa tiga  generasi terbaik umat ini. Akhirnya dengan bid’ah ini, tercapailah  tujuan lblis memecah-belah kaum muslimin, kita berlindung kepada Allah l  dari hal itu.<br />
Beliau juga mengatakan bahwa pendapat yang menyatakan  harusnya seseorang bermazhab dengan satu mazhab tertentu sesungguhnya  dibangun di atas satu kepentingan politik tertentu, serta ambisi-ambisi  atau tujuan pribadi. Sesungguhnya mazhab yang haq dan wajib diyakini  serta diikuti adalah mazhab junjungan kita Nabi Muhammad n yang  merupakan imam yang agung yang wajib diikuti, kemudian para al-Khulafa’  ar-Rasyidin.<br />
Allah <em>Subhanahuwata&#8217;ala</em> berfirman:<br />
“Dan apa-apa yang datang dari  Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang kamu dilarang  mengerjakannya maka jauhilah!” (al-Hasyr: 7)<br />
Adapun yang dimaksud  dengan Sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang harus diikuti tidak lain  adalah jalan hidup mereka yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihiwasallam</em>.<br />
Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>Sumber Bacaan:<br />
1. Jami’ Bayanil ‘llmi wa Fadhlihi, lbnu ‘Abdil Barr<br />
2. Riyadhul Jannah, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i<br />
3. Hadiyyatus Sulthan, Muhammad Sulthan al-Ma’shumi<br />
4. al-Hadits Hujjatun Binafsihi, asy-Syaikh al-Albani<br />
5. Ma’na Qaulil Imam al-Muththalibi, as-Subki<br />
6. lrsyadun Nuqqad, al-Imam ash-Shan’ani<br />
7. al-Mudzakkirah, asy-Syinqithi<br />
8. al-lhkam, lbnu Hazm<br />
9. al-lhkam, al-Amidi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/06/26/taklid-dan-fanatisme-golongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undhur maa qoolaa, walaa tandhur man qoola</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/05/08/undhur-maa-qoolaa-walaa-tandhur-man-qoola/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/05/08/undhur-maa-qoolaa-walaa-tandhur-man-qoola/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 13:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary Pertanyaan: Assalaamu’alaikum, ada sekelompok orang yang mengatakan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” Apa ini benar? (081586190***) Jawaban: Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Ucapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary</p>
<p><em><strong>Pertanyaan:</strong></em></p>
<p><strong>Assalaamu’alaikum,  ada sekelompok orang yang mengatakan  “jangan lihat siapa yang bicara,  tapi lihat apa yang dibicarakan!” Apa  ini benar? (081586190***)</strong></p>
<p><a href="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2011/05/shut_up.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-572" title="shut_up" src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2011/05/shut_up.jpg" alt="" width="406" height="393" /></a></p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Wa’alaikumussalaam warahmatullaah.</p>
<p>Ucapan: <strong>“Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang  dibicarakan!” ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah  ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan  tersebut.</strong></p>
<p>Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di  sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar  dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi.</p>
<p><img title="More..." src="../wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><img title="More..." src="../wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-571"></span></p>
<p>Bahkan yang benar adalah kita mengambil ilmu dari orang yang lurus  manhajnya yaitu dari ahlus sunnah wal jama’ah bukan dari sembarang orang  apalagi dari ahli bid’ah.</p>
<p>Al-Imam Ibnu Sirin mengatakan:</p>
<p>إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ</p>
<p><strong>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian  melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahiih  Muslim)</strong></p>
<p>Beliau juga mengatakan: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) pada  awalnya tidaklah menanyakan tentang sanad hadits. Maka ketika terjadi  fitnah (munculnya berbagai firqah sesat seperti Khawarij,  Syi’ah-Rafidhah dan lainnya), mereka berkata: “Sebutkan kepada kami  sanad kalian. Maka dilihat apabila datang dari ahlus sunnah maka  diterima haditsnya dan apabila datang dari ahli bid’ah maka ditolak  haditsnya.” (Ibid.)</p>
<p>Memang, kita tidak memungkiri bahwa bisa jadi setiap orang termasuk  ahli bid’ah mengatakan sesuatu yang benar. Akan tetapi apakah kita  menjamin bahwa mereka tidak mencampurinya dengan kebathilan? Atau mereka  menyampaikannya tetapi dengan tafsiran yang salah? Atau apakah kita  dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah?</p>
<p>Ketika mereka menyampaikan ayat, hadits atapun ucapan para ulama,  mereka ubah lafazhnya atau diselewengkan tafsirnya sesuai dengan hawa  nafsu mereka?</p>
<p>Ketika datang ahli bid’ah kepada seorang ulama salaf, ingin  menyampaikan satu kalimat atau satu ayat, maka ulama tadi mengatakan:<strong> “Tidak, walaupun setengah kata (saya tidak akan mendengarkannya).” Dan  ketika ditanya: “Mengapa engkau tidak mau mendengarkan ayat yang akan  dibacakannya?” Maka sang ulamapun menjawab: “Saya takut kalau dia  membaca satu ayat lalu dia ubah lafazhnya dan hal ini menancap di hatiku  sehingga akupun menjadi sesat karenanya.”</strong></p>
<p>Tidakkah kita takut terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan akibat  mengambil ilmu dari siapa saja? Hendaklah kita lebih berhati-hati dan  waspada dalam mengambil ilmu karena ilmu ini adalah agama yang akan kita  pertanggungjawabkan kepada Allah di hari kiamat nanti.</p>
<p>Di samping itu, kalau kita mengambil ilmu dari ahli bid’ah maka hati  kita akan condong kepadanya sehingga mentolerir kesalahan dan  penyimpangannya yang akhirnya lambat laun kita mengikutinya secara  sempurna, yang pada awalnya kita hanya ingin mengambil kebaikannya saja,  nas`alullaahas salaamah.</p>
<p>Apakah ahlus sunnah tidak memiliki kebaikan atau kurang kebaikannya sehingga kita harus mengambil ilmu dari ahli bid’ah?</p>
<p>Bukankah masih banyak ahlus sunnah yang mendakwahkan Islam  berdasarkan pemahaman salafush shalih? Berhati-hatilah dalam mengambil  ilmu, mudah-mudahan Allah menunjukki kita semua kepada apa yang dicintai  dan diridhai-Nya. Wallaahul Muwaffiq.</p>
<p><strong>Sumber : Buletin Al-Wala’ Wal-Baro’ Edisi ke-23 Tahun ke-3 / 06 Mei 2005 M / 27 Rabi’ul Awwal 1426 H</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/05/08/undhur-maa-qoolaa-walaa-tandhur-man-qoola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergolakan Taqlid dalam Sorotan (Bagian Kedua)</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/25/pergolakan-taqlid-dalam-sorotan-bagian-kedua/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/25/pergolakan-taqlid-dalam-sorotan-bagian-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 16:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[abu ghuddah]]></category>
		<category><![CDATA[aleppo]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[taqlid]]></category>
		<category><![CDATA[wahaby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Di kota asalnya Aleppo (Syria) saat dia Abu Ghuddah berkhuthbah di atas mimbar pada hari Jum&#8217;at, dia menyibukkan diri dengan mencela ahli tauhid yang dikenal di negerinya dengan salafiyyun, dan juga ahli tauhid di Saudi Arabia dan yang lainnya yang dijuluki Wahabiyyah. Dia mengumumkan permusuhannya yang keras terhadap mereka dan nyata-nyata menyesatkannya lewat perkataannya, &#8220;Sesungguhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Di kota asalnya Aleppo (Syria) saat dia Abu Ghuddah berkhuthbah di atas mimbar pada hari Jum&#8217;at, dia menyibukkan diri dengan mencela ahli tauhid yang dikenal di negerinya dengan salafiyyun, dan juga ahli tauhid di Saudi Arabia dan yang lainnya yang dijuluki Wahabiyyah. Dia mengumumkan permusuhannya yang keras terhadap mereka dan nyata-nyata menyesatkannya lewat perkataannya, &#8220;Sesungguhnya isti&#8217;anah (minta pertolongan) kepada yang sudah mati selain kepada Allah, dan istighotsah kepada mereka adalah boleh bukan syirik. Siapa yang mengira hal itu syirik atau kufur, maka ia kafir!&#8221; Dalam keadaan semua orang tahu kalau mereka para ahli tauhid ahlissunnah menyatakan perbuatan itu adalah kesyirikan dan dakwah mereka semata-mata memurnikan peribadahan kepada Allah dan ikhlash dalam hal ittiba&#8217; kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</strong></p>
<p><strong>Syaikh Abu Ghuddah menafikan kalau kalam Allah itu terdiri dari huruf dan suara, seperti keyakinannya Kullabiyyah dan Asy&#8217;ariyyah. Pada komentarnya terhadap kitab asma` wash shifat halaman 194 karya Imam Al Baihaqi dia mengatakan, &#8220;Sesungguhnya Musa &#8216;alaihis salam ketika Allah Ta&#8217;ala mengajak bicara kepadanya, beliau tidak mendengar suaraNya&#8230;&#8221;</strong></p>
<p><strong>Ini jelas-jelas sangat bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jama&#8217;ah aqidahnya para sahabat, tapi nampaknya ini semua adalah buah taqlidnya kepada Al Kautsari di saat Kautsari menolak ketinggian Allah Ta&#8217;ala atas makhlukNya.</strong></p>
<p>Sungguh tidak ada baiknya pada diri Abu Ghuddah walau ia sempat tinggal di Saudi Arabia mengajar beberapa tahun lamanya, menyembunyikan jati dirinya berkura-kura dalam perahu alias berpura-pura tidak tahu-menahu.</p>
<p>Bagai bobok manggih gorowong serasa mendapatkan jalan untuk mencela dan menjatuhkan seorang ulama ahlussunnah muhaddits negeri Syam Syaikh Nashiruddin Al Albani, saat beliau mengkritik dan mendho&#8217;ifkan salah satu sanad hadits dalam Shahih Bukhari �bukan matannya!-. Abu Ghuddah dan Syaikh Abdullah Al Ghimari menampakkan reaksi pengingkaran yang keras padahal Abu Ghuddah sendiri tahu kalau Al Kautsari yang menjadi guru kebanggaannya mengingkari matan hadits tersebut, lalu kenapa dia diam tidak berkomentar? Karena Kautsari adalah gurunya! Taqlid plus licik, bukan karena ada urusan pribadi dengan Albani tetapi karena memang kebenciannya terhadap sunnah dan ahlissunnah.<span id="more-160"></span></p>
<p>Abdullah Al Ghimari yang dielu-elukan para pengikutnya sebagai ahli hadits dunia, tidak ada yang perlu ditanggapi dari pengingkarannya terhadap Syaikh Al Albani, sebab dia dengan lugasnya mendho&#8217;ifkan dua hadits di antaranya dalam Shahih Bukhari dan Muslim, yang aneh alasannya bukan karena cacat pada sanadnya akan tetapi karena menyelisihi Al Qur`an �menurut sangkaannya-. (Lihat bantahan Al Albani dalam Ash Shohihah no. 2814). Hadits pertama, dari A`isyah ia berkata, &#8220;Diwajibkan sholat dua roka&#8217;at dua roka&#8217;at, maka hal itu ditetapkan dalam safar dan ditambah dalam keadaan mukim.&#8221; Al Ghimari mengatakan, &#8220;Dho&#8217;if dan syadz.&#8221; Dalam risalahnya As Subhu As Saafir halaman 16. Kemudian hadits yang kedua, &#8220;Sesungguhnya Allah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian atas musafir dua roka&#8217;at dan bagi yang mukim empat roka&#8217;at&#8230;&#8221; dari sahabat Ibnu Abbas. Dia Abu Ghuddah menghukuminya dho&#8217;if pada halaman 45 dalam risalah yang sama. Masih layakkah dua orang ini dikatakan ahli hadits dunia?! Atau ahli taqlid dunia tepatnya!</p>
<p>Para pembaca, tokoh pembaharu gerakan taqlid berikutnya adalah<strong> Muhammad Sa&#8217;id Al Buthi, Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma&#8217;il Al Hanafi Ad Diyubandi Al Kandahlawi (pendiri Jama&#8217;ah Tabligh) </strong>dan para pengikutnya serta Ali Ash Shobuni (penulis kitab Shofwatut Tafasir) dimana ia mengatakan ihwal taqlid kepada empat Imam (Ahmad, Malik, Syafi&#8217;i dan Abu Hanifah) &#8220;Sungguh ini merupakan kewajiban yang paling wajib&#8221;. Tentu saja ucapannya ditentang banyak ulama seperti Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahullah, beliau berkata, &#8220;Tidak ragu bahwa penentuan ini adalah keliru, sebab tidak wajib untuk taqlid kepada seorang pun dari empat imam itu, tidak pula kepada selainnya walau bagaimanapun keilmuannya, karena kebenaran adalah dalam mengikuti Kitab dan Sunnah bukan dalam bertaqlid kepada seseorang dari manusia. Paling tidak taqlid itu hanya dibolehkan ketika darurat kepada siapa yang diketahui kapasitas keilmuannya, keutamaannya serta kelurusan aqidahnya seperti hal itu telah diterangkan Ibnul Qayyim dalam kitabnya I&#8217;lamul Muwaqqi&#8217;in.&#8221; (Majmu&#8217;ul Fatawa wa Maqolaatusy Syaikh jilid III halaman 52).</p>
<p>Al Allamah Muhammad Sulthon Al Ma&#8217;shumi Al Khujandi As Salafy (w. 1380 H) mengatakan, &#8220;Yang benar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengharuskan berkomitmen kepada madzhab salah seorang a`immah, akan tetapi beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan untuk mengikutinya, siapa yang menyelisihi sunnah Rosulullah setelah tetap adanya, maka penyelisihannya tertolak. Tidak boleh bagi seorangpun yang menisbatkan dirinya kepada Islam untuk mengatakan &#8220;Aku tidak akan mengamalkan hadits, tapi akan mengamalkan ucapan pimpinanku (imamku).&#8221; karena yang demikian akan menyeret kepada kemurtadan wal &#8216;iyadzubillah.</p>
<p>Wajib bagi setiap muslim agar merenungkan apa yang tertera dalam hadits, menjadikannya ada di kedua kelopak matanya, menggigitnya (memegang teguh) dengan kuat, mengikatkan kepadanya sepenuh hati, jangan menyimak siapa yang menyelisihinya. Inilah jalan yang lurus, ambillah ia sebagai satu-satunya madzhab tidak keluar darinya.&#8221; (Lihat Hal Muslimu Mulzamun bittiba&#8217;i Madzhabin Mu&#8217;ayyanin min Madzaahibil Arba&#8217;ah halaman 114).</p>
<p>Al Allamah Ibnul Qayyim berkata, &#8220;Ini (taqlid) adalah kebid&#8217;ahan yang jelek muncul di tengah-tengah umat, tidak ada seorang pun dari a`immah Islam mengatakannya, mereka adalah orang-orang yang tinggi kedudukan dan kemampuan, lebih mengetahui tentang Allah dan RosulNya daripada menuntut manusia untuk taqlid. Sangat jauh melenceng orang yang berkata harus bermadzhab dengan madzhab salah seorang &#8216;alim dari kalangan ulama, apalagi kalau mengharuskan bermadzhab dengan salah satu dari madzhab yang empat.&#8221; (I&#8217;lamul Muwaqqi&#8217;in jilid IV/261 dari Hal Muslimu Mulzamun littiba&#8217;i Madzhabin Mu&#8217;ayyan halaman 122).</p>
<p>Para pembaca, ketika gejolak firqoh sesat semakin menjadi, terutama setelah berlalunya tiga kurun pertama, dari firqoh Khowarij, Jahmiyyah, Mu&#8217;tazilah, dan yang lainnya mulailah aroma bau fanatik tercium di sana-sini, pergolakan taqlid terhadap tokoh-tokoh firqoh tertentu pun kian membara.</p>
<p>Saat itu manusia ditimpa bencana lebih gemar memunculkan ide dan gagasan baru, mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya dari syari&#8217;at yang telah dibawa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kondisi seperti ini terus berkembang beberapa lamanya, mengakibatkan generasi-generasi yang datang kemudian mayoritasnya membelot dari jalan yang ditempuh kaum salaf, menjungkir-balikkan dasar-dasar peletakan agama, akhirnya Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ucapan para Khulafa`ur Rasyidin dan seluruh para sahabat radhiyallahu &#8216;anhum diukur di atas ucapan dan pendapatnya orang-orang yang mereka mentaqlidnya.</p>
<p>Sungguh gerakan taqlid ini benar-benar menyelisihi perintah Allah dan RasulNya serta petunjuk para sahabat-sahabatnya dan juga keadaan para a`immah, menempuh jalan selain jalannya ahlul ilmi. Allah berfirman, &#8220;Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221; (QS Ali Imran: 31). &#8220;Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.&#8221; (QS Al Hasyr: 7). &#8220;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.&#8221; (QS An Nisa`: 59).</p>
<p>Para pentaqlid telah menggoreskan sejarah yang penuh noda atas umat ini, mereka memecah belah agama dan menjadikan para penganutnya bergolong-golongan, tiap golongan dibela para pengikutnya dengan semangat kefanatikan, mereka tidak mau menerima sesuatu yang jelas-jelas datang dari sunnah Rasulullah yang shahih, karena yang mengamalkannya bukan dari golongannya dan yang terpenting karena jajaran yang dianggap sebagai dewan ulamanya tidak mengamalkan dan tidak menganggapnya sebagai sunnah. Seolah sunnah yang tidak diamalkan sang &#8220;dewan&#8221; adalah agama baru selain agama mereka! Sementara Allah Ta&#8217;ala berfirman, &#8220;(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: &#8220;Seandainya kami dapat kembali ke dunia, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.&#8221; Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.&#8221; (QS Al Baqoroh: 166-167).</p>
<p>Taqlid dan fanatik golongan serta ashobiyyah syaithoniyyah agaknya begitu membelenggu hizb-hizb yang mengibarkan bendera dakwah Islam dewasa ini, semua itu menyeretnya keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta paham kaum salaf dalam mengamalkan keduanya, meninggalkan jalannya para a`immah, para ulama yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah RasulNya.</p>
<p>Tak disangkal di antara hizb itu ada yang mempunyai peraturan dan dewan yang diulamakan tersendiri dimana setiap keputusan-keputusannya tidak boleh diselisihi, tidak boleh keluar dari pemahamannya mereka, mensejajarkan mereka dengan para a`immah, para ulama yang peranannya di dalam membela dan mengikuti sunnah Rasulullah sangat nampak dalam sejumlah karya-karya besarnya �yang menunjukkan kapasitas keilmuan- dan kehidupan sehari-harinya.</p>
<p>Lingkungan seperti ini menyebabkan para muqallidnya (pengikutnya) hanya mau mengambil dan mengamalkan pendapat yang muncul dari tokoh-tokoh madzhabnya atau sang dewan ulamanya, meninggalkan dari beramal dengan fatwa Imam Al Bukhari, Abdullah ibnul Mubarok, Al Auza&#8217;i, Sufyan Ats Tsauri, Sa&#8217;id ibnul Musayyab, dan Hasan Al Bashri, serta para a`immah dan ulama lainnya yang jauh lebih layak untuk diambil ilmunya. Parahnya lagi, pendapat yang berasal dari tokohnya �yang katanya hasil pengkajian berdasarkan Kitab dan Sunnah- lebih didahulukan meski berseberangan dengan fatwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Ibnu Mas&#8217;ud serta seluruh para sahabat radhiyallahu &#8216;anhum.</p>
<p>Lalu bagaimana kiranya jika mewajibkan para pengikutnya untuk mengikuti pendapat para tokoh madzhab dan kesepakatan sang &#8220;dewan ulama&#8221; yang kapasitas keilmuan, pembelaan dan peranan serta ittiba&#8217;nya terhadap sunnah jauh lebih rendah, kemudian melarang untuk mengikuti dan mengambil pendapatnya para a`immah, para salaf para sahabat?!!!</p>
<p>Insya Allah bersambung. Wal &#8216;ilmu &#8216;indallah.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.</strong></p>
<p><strong>SUMBER :  Buletin Al Wala&#8217; Wal Bara&#8217;</strong><span> <strong>Edisi ke-43 Tahun ke-2 / 17 September 2004 M / 02 Sya&#8217;ban 1425 H</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/25/pergolakan-taqlid-dalam-sorotan-bagian-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergolakan Taqlid dalam Sorotan (Bagian Pertama)</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/17/pergolakan-taqlid-dalam-sorotan-bagian-pertama/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/17/pergolakan-taqlid-dalam-sorotan-bagian-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 15:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[hukum taqlid]]></category>
		<category><![CDATA[membebek]]></category>
		<category><![CDATA[taklid menurut salafy]]></category>
		<category><![CDATA[taqlid menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz abu hamzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Allah Jalla Sya`nuhu telah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrikin benci. Dia menurunkan kitabNya yang berisikan petunjuk dan cahaya bagi siapa yang mengikutinya. Kemudian Dia membebaninya untuk menerangkannya seraya berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ &#8220;Dan kami turunkan kepadamu Al [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Allah Jalla Sya`nuhu telah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrikin benci. Dia menurunkan kitabNya yang berisikan petunjuk dan cahaya bagi siapa yang mengikutinya. Kemudian Dia membebaninya untuk menerangkannya seraya berfirman,</strong></p>
<p><strong>وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ</strong></p>
<p><strong>&#8220;Dan kami turunkan kepadamu Al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.&#8221; (QS An Nahl: 44).</strong></p>
<p><strong>Beliaupun melaksanakannya dengan baik dan sempurna, beliaulah pengungkap Kitabullah, penunjuk akan makna-maknanya, hal itu dipersaksikan para sahabat-sahabatnya yang Allah telah meridhai dan memilih mereka untuk NabiNya, sehingga merekalah orang-orang yang pertama yang menukilnya.</strong></p>
<p><strong>Menjadi sebuah aksioma bila kemudian mereka adalah manusia-manusia yang paling tahu terhadap Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan terhadap apa yang diinginkan Allah dalam kitabNya, tampil sebagai peran pengganti dalam mengungkap isi-isinya setelah Rasulullah, selaras dengan penuturan salah seorang di antaranya sahabat Jabir bin Abdillah, &#8220;Rasulullah ada di hadapan kami sedang Al Qur`an turun kepadanya, beliau mengetahui tafsirnya, maka apa yang beliau amalkan kami pun mengamalkannya.&#8221; (HR Muslim, Abu Daud). Karenanya para sahabat Nabi paling berpegang teguh dengan syariat dan berpijak di atas nash-nash sebab mereka tahu kalau agama telah sempurna tidak membutuhkan tambahan dan syariat pun telah terang lagi gamblang tidak butuh penjelasan ulang perkaranya hanyalah taslim (penyerahan) dan patuh.</strong></p>
<p>Para pembaca, fenomena kepribadian yang seperti itu sangatlah nadir (sedikit / sukar dicari) di zaman kita ini, di dalam memahami agama orang lebih cenderung berusaha menambah penjelasan baru apalagi kalau dirasa bertolak belakang dengan amalannya atau bahkan tuturut munding. Kumaha kalolobaan jelema atawa kumaha ceuk nu ditokohkeun bari jeung teu nyaho hujahna lantaran kadung mercayakeun alias taqlid, tanpa sedikitpun melirik kitab ataupun sunnah apalagi faham para sahabat dalam menginterpretasikan keduanya. Wa ilallahil musytaka.<span id="more-153"></span></p>
<p>Taqlid secara bahasa artinya memasang qiladah (kalung) di leher, sedangkan menurut istilah &#8220;taqlid adalah merujuk pada satu pendapat dimana tidak ada hujjah bagi si pencetusnya&#8221;, atau dengan ungkapan lain: &#8220;setiap orang yang engkau ikuti ucapannya tanpa engkau haruskan dirimu menerimanya dengan dalil yang mendukungnya, maka engkaulah pentaqlidnya&#8221;. Adapun ittiba&#8217; adalah &#8220;apa yang di atasnya hujjah&#8221;, dengan kata lain, setiap yang menuntutmu adanya dalil untuk mengikuti ucapannya maka engkau ittiba&#8217; kepadanya.</p>
<p>Ittiba&#8217; di dalam agama adalah hal yang dibolehkan, sementara taqlid perkara yang sangat tercela. Allah berfirman, &#8220;Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur`an lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;(Rosul itu) berkata: &#8220;Apakah (kamu akan mengikuti juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih nyata memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.&#8221; &#8220;Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.&#8221; (QS Az Zukhruf: 21-25).</p>
<p>اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p>&#8220;Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.&#8221; (QS At Taubah: 31).</p>
<p>Akibat dari kebodohan akan prinsip-prinsip mengkaji dan mengamalkan ajaran agama dengan benar, banyak kalangan kaum muslimin yang akhirnya terjerumus dalam lingkaran taqlid dan fanatik, lebih mengunggulkan ucapan gurunya, tokohnya ataupun madzhabnya ketimbang mengedepankan Al Qur`an dan sunnah serta faham salaf (para pendahulu), gilanya lagi mereka yang ekstrim berkeyakinan bahwa mengambil dalil adalah haknya seorang mujtahid, kemudian mensifati mujtahid dengan sifat-sifat yang pada sosok Abu Bakar Ash Shiddiq sekalipun tidak didapati, malahan dengan tegas menyatakan para tokoh-tokoh madzhab kami, dewan ulama kami lebih paham terhadap dalil daripada kita, walhasil ketika ada yang menyampaikan dalil yang shahih, mereka tidak mau menerimanya bahkan mencela orang yang mengamalkannya dengan dalih tidak sesuai dengan madzhab atau tidak ada keputusan &#8220;sang dewan&#8221;. Apa yang ada pada mereka sangatlah nampak dimana seruan-seruan dakwahnya semata ajakan tuk bermadzhab dan manut sama tokoh tertentu tidak peduli meski dalil yang diselisihi.</p>
<p>Tokoh gerakan pembaharu taqlid abad ini adalah Muhammad Zahid Al Kautsary, ia seorang yang fanatik hanafy, sekaligus pembawa bendera aqidah Jahmiyyah zaman ini, celaannya luar biasa terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, dan juga Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia mengatakan, &#8220;Jika Ibnu Taimiyyah masih dianggap syaikhul Islam, maka semoga keselamatan menyertai Islam.&#8221; Dalam salah satu tulisannya ia kembali berkata, &#8220;Kalau kita bilang tidaklah Islam di masa akhir-akhir ini ditimpa musibah yang lebih berat kecuali karena adanya Ibnu Taimiyyah yang telah memporak-porandakan kesatuan muslimin, tentu hal itu tidaklah berlebihan.&#8221;</p>
<p>Al Kautsary ini, pengetahuannya dalam bidang ilmu hadits dan rijalnya boleh dikata mumpuni, namun disayangkan ternyata itu semua menjadi hujjah atasnya dan malapetaka baginya, ilmu tidak menambahnya petunjuk dan cahaya baik dalam masalah furu (cabang), apalagi ushul (pokok), ia seorang yang berakidah Jahmiyyah, kebenciannya sangat nyata terhadap ahli hadits, para imam-imam sunnah dan terhadap seluruh ahli sunnah. Di antara a`immah yang kena sentilannya adalah Ibnu Khuzaimah, penulis kitab &#8220;At Tauhid&#8221;. Al Kautsary mengatakan, &#8220;Ini kitab syirik!&#8221;. Imam Malik, Syafi&#8217;i dan Ahmad pun tak luput dari sentilannya wallahul musta&#8217;an.</p>
<p>Kefanatikan terhadap Hanafy, membuatnya buta, dia menshohihkan salah satu hadits, yang semua ahli hadits mengerti dan menyatakan kalau hadits itu palsu -sebagai sikap pembelaan di atas ashobiyyah madzhabiyyah-, yakni, &#8220;Abu Hanifah adalah pelita umatku.&#8221; Bukan suatu yang aneh pula bila dia mendho&#8217;ifkan puluhan hadits Bukhori dan Muslim dalam keadaan tanpa didapati pada keduanya cacat yang berarti. Walhamdulillah Al Allamah &#8216;Abdurrahman Al Mu&#8217;allimy Al Yamaniy telah membantahnya dan membongkar kebobrokannya dalam kitab &#8220;Tholi&#8217;atut Tankil&#8221; dan &#8220;At Tankil bima fi tanibi Al Kautsary minal Abathil&#8221;. (Silahkan merujuk pada keduanya bagi yang menggeluti bidang ilmu hadits &#8211; penting!).</p>
<p>Para pembaca, seperti dikatakan, &#8220;Tiap kaum mesti ada saja yang menjadi pewaris kaum sebelumnya.&#8221; Abdullah Al Ghimary dan Abdul Fatah Abu Guddah. Dua &#8220;syeikh&#8221; sejoli ini betul-betul turunannya Al Kautsary dari sisi akidah maupun madzhab, mereka berdua adalah muridnya yang menyanjung bebeakan alias habis pisan dengan sanjungan setinggi langit, seperti: Al Faqih, Al Muhaddits, Al Hujjah, Ats Tsiqoh&#8230;, Al Muhaqqiq, Al Allamah, Al Kabir, atau juga roh &#8230; ustadz Muhaqqiq, Al Hujjah&#8230;, Annimah Al Kubro, dan sanjungan lainnya, dalam keadaan permusuhan Al Kautsary terhadap sunnah dan ahli sunnah sangat keras di samping akidahnya bejat.</p>
<p>Lain daripada itu Abdul Fatah Abu Guddah sangat bangga terhadapnya, dia sangat fanatik dan taqlid kepada gurunya itu, sedikitpun dia tidak pernah berkomentar tentang gurunya, malah nampak begitu terkesan. Hal itu amat kentara ketika dia namai anak yang paling besarnya dengan nama &#8220;Zahid&#8221; dalam rangka tabarruk dan mengenang sang guru pujaannya.</p>
<p>Seperti halnya Al Kautsary yang celaan dan tuduhannya terhadap ahli hadits dan sunnah amat sangat keji, maka tak jauh beda apa yang ada pada diri Abdul Fatah Abu Guddah maupun Abdullah Al Ghimary, celaan dan tuduhannya tak kalah keji dilontarkan kepada ahli hadits dan ahli sunnah.</p>
<p><strong>Bersambung</strong></p>
<p><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.</strong></p>
<p><strong>SUMBER :  Buletin Al Wala&#8217; Wal Bara&#8217; <span>Edisi ke-41 Tahun ke-2 / 03 September 2004 M / 18 Rajab 1425 H</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/17/pergolakan-taqlid-dalam-sorotan-bagian-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagai Menggenggam Bara Api</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/07/bagai-menggenggam-bara-api/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/07/bagai-menggenggam-bara-api/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 20:53:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bara api]]></category>
		<category><![CDATA[memegang sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[menggenggam bara api]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Bagai Menggenggam Bara Api Ditulis oleh al Ustadz Abu Hamzah al Atsary Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Imam asy Syafi&#8217;i, &#8220;Wahai Abu Abdillah, manakah yang lebih baik bagi seseorang dibiarkan atau diuji?&#8221; Al Imam asy Syafi&#8217;i menjawab, &#8220;Tidak mungkin seseorang itu dibiarkan hingga ia diuji, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: verdana; font-size: 11px; line-height: 19px;"></p>
<div><span style="font-size: 14px; font-family: Tahoma,Verdana,sans-serif; font-weight: bold; line-height: 21px;"><a style="color: #127700; text-decoration: none;" name="sub1">Bagai Menggenggam Bara Api</a></span></div>
<div><span style="font-size: 14px; font-family: Tahoma,Verdana,sans-serif; font-weight: bold; line-height: 21px;"><br />
</span></div>
<div><strong><span style="font-family: verdana; font-size: 11px; line-height: 19px;"><span style="line-height: 16px;">Ditulis oleh al Ustadz Abu Hamzah al Atsary</span></span></strong></div>
<div><span style="line-height: 16px;"><img class="alignleft" title="Bara api sunnah" src="http://4.bp.blogspot.com/_EnvdhQRrJ6s/Sjptn9kgGtI/AAAAAAAAAAk/nUVvTZwT4Aw/s320/api.JPG" alt="" width="230" height="173" />Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Imam asy Syafi&#8217;i, &#8220;Wahai Abu Abdillah, manakah yang lebih baik bagi seseorang dibiarkan atau diuji?&#8221; Al Imam asy Syafi&#8217;i menjawab, &#8220;Tidak mungkin seseorang itu dibiarkan hingga ia diuji, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, Musa, &#8216;Isa, dan Nabi Muhammad sholawatullah &#8216;alaihim ajma&#8217;in. Maka tatkala mereka bersabar, Allah mengokohkan mereka. Tidak boleh seorang pun mengira akan lepas dari kesusahan.</span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">&#8221; Al Allamah Ibnul Qoyyim mengatakan, &#8220;Ujian merupakan suatu keharusan yang menimpa manusia dan tidak ada seorang pun yang dapat mengelak darinya, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menyebutkan dalam Al Qur&#8217;an tentang keharusannya menguji manusia&#8230;&#8221; (Madarijus Salikin 2/283). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman, &#8220;Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, &#8216;Kami telah beriman&#8217; sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (adzab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.&#8221; (QS Al Ankabuut: 1-4). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Allah juga berfirman, &#8220;Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.&#8221; (QS Al Anbiyaa`: 35).</span></div>
<div><span style="line-height: 16px;"><br />
Para pembaca -sungguh saat ini kita tengah berada di zaman yang benar-benar menuntut kesabaran, dimana orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api, jika dilepas maka akan membakar dirinya dan membahayakannya, namun bila tetap digenggamnya, maka ia membutuhkan kesabaran dan kekokohan yang luar biasa. Bagaimana pula tidak dikatakan demikian, sebab setiap kali nampak orang-orang yang ingin mengamalkan agama beribadah dengan syari&#8217;at Allah, akan berdiri ahli bid&#8217;ah, para pengekor hawa nafsu, dan orang-orang bodoh yang tidak mengerti agama kecuali dari nenek-nenek moyangnya siap menghadang di hadapannya, melemparkan cercaan, hinaan, tudingan, dan fitnah baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, benar-benar membuat mayoritas muslim in phobi untuk menjalankan tuntunan agamanya. Betapa banyak para da&#8217;i-da&#8217;i Islam yang bungkam mulutnya tidak berani untuk berbicara yang haq, karena selalu mendapat tekanan dan intimidasi, terorislah, Islam garis keraslah, serta seabreg tudingan dan pelecehan yang lainnya, hanya da&#8217;i-da&#8217;i pramuka -yang di sana senang di sini senang, di sana senyum di sini senyum- yang aman-aman saja. Da&#8217;i-da&#8217;i ini tidak punya andil dalam memerangi ahli bid&#8217;ah dan syirik malah ikut berkecimpung dan ikut berperan mendukungnya, seolah-olah dirinya mengatakan, &#8220;No problem, take it easy man&#8230;!&#8221;<span id="more-98"></span></span></div>
<div><span style="line-height: 16px;"><br />
Para pembaca -keadaan seperti ini janganlah membuat kita surut langkah untuk tetap beramal dan menampakkan diri sebagai muslim sejati, seorang muslim yang berjenggot bersyukurlah dan tidak perlu merasa khawatir, justru ia harus bangga mendapat nikmat untuk melaksanakan perintah Nabi akan wajibnya memelihara jenggot. Seorang muslimah yang berhijab bersyukurlah dan berbangga dirilah di saat mayoritas para wanita lebih menyukai laknat dan siksa Allah dengan berbusana setengah telanjang bangga menampakkan auratnya yang murahan. Tetaplah kembali berpegang teguh kepada pemahaman salafush sholih muslimin periode pertama di kala banyak orang meninggalkannya, tetaplah konsisten terhadap sunnah di kala tak sedikit orang melupakannya, bersatulah untuk menghancurkan tirani kebid&#8217;ahan dan ahlinya, mendobrak belenggu kemusyrikan dan ahlinya, serta membungkam mulut-mulut ulama-ulama su` dan pengekor hawa nafsu. </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Rosulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tiada seorang Nabi yang diutus sebelumku, melainkan mempunyai sahabat-sahabat yang setia yang mengikuti benar-benar tuntunan ajarannya. Kemudian timbullah di belakang mereka turunan yang hanya banyak bicara dan tidak suka berbuat dan mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, ia mu`min, dan siapa yang menentang mereka dengan lidahnya, ia mu`min, dan siapa yang membenci mereka dengan hatinya, ia mu`min. Selain dari itu tidak ada lagi iman walau seberat biji sawi.&#8221; (HR Muslim dalam Kitabul Iman no: 80, Ahmad 1/458-461 dari sahabat Abdullah ibnu Mas&#8217;ud). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Hendaknya kita mengetahui bahwa sudah menjadi hikmah Allah, mengadakan bagi tiap-tiap Nabi musuh-musuhnya. </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Allah berfirman, &#8220;Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin&#8230;&#8221; (QS Al An&#8217;aam: 112). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Allah juga berfirman, &#8220;Dan seperti itulah telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.&#8221; (QS Al Furqan: 31). Jika seorang da&#8217;i menyeru kepada tauhid ia akan mendapatkan di hadapannya da&#8217;i-da&#8217;i kepada kesyirikan, jika seorang da&#8217;i mengajak kepada sunnah, ia akan mendapatkan di hadapannya ahli bid&#8217;ah dan pengekor hawa nafsu, jika seorang da&#8217;i menuntun ummat mengamalkan agama sesuai syari&#8217;at Allah, ia akan mendapatkan di hadapannya ahli syubhat dan ulama-ulama su&#8217;, jika seorang da&#8217;i menjauhkan umat dari kemungkaran dan kemaksiatan, ia akan mendapatkan di hadapannya ahli syahwat, orang-orang fasiq, dan sejenis mereka. Oleh karena itu, segala apa yang menimpa kita kaum muslimin dari berbagai macam intimidasi, eksploitasi, dan semua usaha-usaha Islamophobia adalah ujian tuk meraih janji Allah dan membuktikan keimanan di hadapanNya. </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Waroqoh bin Naufal pernah berkata kepada Nabi kita shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Tiada seorangpun yang datang membawa seperti apa yang telah engkau bawa melainkan ia akan diuji.&#8221;<br />
</span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan &#8220;sabar&#8221; sebagai senjata ampuh kaum mu`minin dalam membendung bahaya syahwat, fitnah, dan segala macam ujian; dan yang telah menjadikan yakin sebagai tameng untuk membendung lajunya syubhat. </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Allah berfirman, &#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.&#8221; (QS Al Baqoroh: 155). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">&#8220;Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu&#8230;&#8221; (QS Muhammad: 31). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">&#8220;Cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).&#8221; (QS Luqman: 17). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Dan Allah berfirman, &#8220;Katakanlah: &#8216;Hai hamba-hambaku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.&#8217; Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.&#8221; (QS Az Zumar: 10). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Dan Allah juga berfirman, &#8221; Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (QS Ar Ruum: 60). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Tidak ada lagi yang patut dikhawatirkan bagi para pengemban al haq, walau bagai menggenggam bara api, kesabaran dan keyakinannya yang akan menghantarkan pada kedudukan yang tinggi menggapai janji dan karunia Allah. Allah berfirman, &#8220;Hai hamba-hambaku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.</span></div>
<div><span style="line-height: 16px;"> Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan.&#8221; (QS Az Zukhruf: 68-73). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Allah juga berfirman, &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman. (Yaitu) di dalamnya taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari adzab neraka sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.&#8221; (QS Ad Dukhaan: 51-57). </span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">Hasbunallah wa ni&#8217;mal wakil, wal &#8216;ilmu &#8216;indallah, wal hamdulillahi robbil &#8216;alamin.</span></div>
<div><span style="line-height: 16px;"><br />
</span></div>
<div><span style="line-height: 16px;">* * *<br />
</span></div>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/07/bagai-menggenggam-bara-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da’wah hizbiyyah Sururiyyah</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/da%e2%80%99wah-hizbiyyah-sururiyyah/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/da%e2%80%99wah-hizbiyyah-sururiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 06:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Sa&#39;id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 15 April 2006 Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Dakwah salafiyayah ahlussunnah wal jama’ah dan da’wah hizbiyyah Surruriyyah (dimulai dengan khutbah hajah) Ikhwani fiddin akromani wa akromahullahu jami’an. Pada kesempatan malam ini kita akan berbicara seputar dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama’ah dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah. Pembicaraan dakwah hizbiyyah Surruriyyah sebenarnya sudah banyak dikupas panjang lebar oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 15 April 2006<br />
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf<br />
Dakwah salafiyayah ahlussunnah wal jama’ah dan da’wah hizbiyyah Surruriyyah</p>
<p>(dimulai dengan khutbah hajah)<br />
Ikhwani fiddin akromani wa akromahullahu jami’an. Pada kesempatan malam ini kita akan berbicara seputar dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama’ah dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah.</p>
<p>Pembicaraan dakwah hizbiyyah Surruriyyah sebenarnya sudah banyak dikupas panjang lebar oleh para ulama. Akan tetapi dalam rangka munashahah dan saling mengingatkan bahaya yang ditimbulkan dari dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini, maka tidak ada salahnya untuk kita kembali mengingatkan dan menjelaskan akan bahaya dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini.</p>
<p>Ikhwani fiddiin ‘azakumullah&#8230;<br />
Berbicara tentang dakwah hizbiyyah Surruriyyah, maka secara tak langsung kita akan bersinggungan dengan tiga pemahaman bid’ah di dalam Islam. Yaitu antara lain pemahaman Qutbiyyah yang diprakarsai oleh Sayyid Qutb. Kemudian yang kedua, pemahaman Ikhwanul Muslimin (IM) yang diprakarsai oleh Hasan al Banna, dan yang ketiga adalah Surruriyyah itu sendiri yang berafiliasi kepada pemahaman Muhammad Surrur Bin Nayif Zainal Abidin (MSBNZA).</p>
<p>Ikhwani fiddiin ‘azakumullah&#8230;<br />
Pemahaman Quthbiyyah, IM dan Surruriyyah ibaratnya setali tiga uang. Masing-masing saling ada keterkaitan. Sehingga kalau kita berbicara tentang Surruriyyah, maka paling tidak akan menyinggung  kelompok/ paham Quthbiyyah dan IM.</p>
<p>Ikhwwani fiddiin ‘azakumullah&#8230;.<br />
Perlu untuk kita pahami bersama bahwa sesungguhnya perbedaan yang terjadi, perbedaan yang ada antara dakwah Salafiyyah ASWJ dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah adalah bukan perbedaan yang disebut ikhtilaful afham –perbedaan penafsiran-. Akan tetapi perbedaan yang ada adalah ikhtilafut thodhar –perbedaan yang kontradiksi- perbedaan yang sangat mendasar, perbedaan ynag terkait dengan hubungan manhaj, perbedaan yang dilandasi dengan berbedanya ideologi. Ini perlu kita ingatkan dan ini perlu kita sampaikan kepada umat bahwa sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam hal manhaj, bukan perbedaan penafsiran. Kenapa kita katakan demikian??<br />
Karena akhir-akhir ini da’i-da’i Surruriyyah menebarkan kerancuan terutama kehadapan orang-orang yang jahil dan orang-orang yang jarang duduk di majlis ilmu. Yaitu mereka (da’i-da’i surruriryyah-red) mengatakan bahwa,<span id="more-78"></span><br />
‘Kami dituduh sebagai da’i Surruriyyah atau berpemahaman Surruriyyah, hanyalah karena ketika kami mengambil bantuan dari sebuah lembaga yang menyalurkan dananya untuk anak yatim, faqir miskin, dan kegiatan-kegiatan dakwah islam. Buktinya apa yang kami kaji adalah kitab-kitab salaf, apa yang kami sampaikan adalah ucapan-ucapan para ulama salaf.’<br />
Dengan demikian tertanamlah didalam benak kaum muslimin bahwa sesungguhnya mereka sama (ASWJ dan hizbiyyah Surruriyyah -red), yang berbeda adalah penafsiran saja, manhajnya sama! Nah ini yang perlu kita tekankan bahwa sesungguhnya perbedaan ini menyangkut perbedaan ideologi, menyangkut masalah manhaj.</p>
<p>Ikhwani fiddiin ‘azakumullah&#8230;..<br />
Sebelum lebih lanjut kita membahas tentang dakwah hizbiyyah Surruriyyah dan juga keterkaitan da’i-da’i yang kita nyatakan sebagai dai yang berafiliasi dengan pemahaman Surruriyyah, maka alangkah baiknya kalau kita mengetahui gembong atau orang yang memprakarsai lahirnya pemahaman Surruriyyah ini yaitu Muhammad Surrur, seperti apa pemahamannya? Lalu setelah itu kita akan berbicara tentang orang-orang yang terkait dengan pemahaman dia (M Surrur –red).</p>
<p>Istilah Surruriyyah adalah istilah yang keluar dari lisan para ulama salaf. Merekalah orang-orang yang pertama mengistilahkan paham Surruriyyah. Disampaikan oleh Syaikh Abdul Wahab al-Wushobi hafidhahullah beberapa point yang ada kaitannya dengan pemahaman Surruriyyah, diantaranya beliau mengatakan: (bahasa kaset kemudian di transkip)<br />
1.	M Surur di dalam bukunya yang berjudul ‘minhajul ‘anbiya’ fi dakwati ilallah’ mengatakan kalimat-kalimat yang kufur diantaranya (hal 81): “Aku perhatikan buku-buku aqidah yang ada sekarang ini aku jumpai, aku dapatkan hanyalah uslub-uslub yang usang, uslub-uslub yang kuno, yang kadaluwarsa, karena didalamnya hanya nash-nash kitabullah saja dan didalamnya disebutkan seputar hukum-hukum.”<br />
-Jadi nash-nash kitabullah dia katakan ushlub-ushlub yang usang, yang kuno yang kadaluwarsa-<br />
(lanjut M surur -red) “O, karena itu maka banyak para syabab, para pemuda yang tak menyukai untuk mengkaji persoalan aqidah.”</p>
<p>Dari sini terlihat bahwa apa yang diusahakan MSZA ini bukan dalam rangka memahamkan umat dalam masalah aqidah, yang dia pahamkan ke tengah-tengah pemuda itu adalah bagaimana caranya supaya para pemuda itu lebih memahami apa yang diistilahkan dengan fiqhul waqi’ –kondisi realita yan ada-. Ini jelas mirip sekali dengan prinsip dakwah IM, karena IM juga merupakan kelompok yang memiliki pemahaman mengesampingkan dakwah kepada tauhid. Penyebab dari apa yang dilakukan oleh IM itu adalah karena mereka meyakini bahwa kesyirikan yang terjadi saat ini bukan dalam hal ibadah, akan tetapi dalam hal politik.<br />
“Sehingga kita tidak perlu berbicara tentang masalah tauhid, yang kita butuhkan ini bicara tentang realita, kondisi saat ini.“<br />
Tentang apa yang diucapkan oleh M Surur ini ditanyakan kepada Syaikh Utsaimin rohimahullah, maka beliau mengatakan:”kalimat yang diucapkannya ini adalah kalimat kufur.” Ketika ditanyakan juga pertanyaan M Surur ini kepada Syaikh Solih Fauzan, beliau juga mengatakan bahwa kalimat ini adalah kaliamt yang kufur, bahkan beliau bertanya, ” Siapa yang mengucapakan kalimat seperti ini? Penanya menjawab bahwa yang mengatakan adalah M Surur. Syaikh Fauzan mengatakan, ”Orang ini adalah orang yang brengsek orang yang jelek!!” demikian pula Syaikh bin Baz ditanya tentang pertanyaan M Surur ini, maka beliau mengatakan: “Ini adalah kalimat riddah, kalimat yang dapt mengeluarkan seseorang dari keislamannya, dan hal yang jelek sekali.” Beliau juga ditanya, ”Bagaiamana hukum menjual bukunya yaitu ’minhajul ‘anbiya fi da’wati ilallah’ karya M Surur itu?” Syaikh menjawab, ”Haram! Haram untuk menjual buku tersebut bahkanyang layak buku tersebut disobek-sobek sehingga tidak ada orang yang bisa membacanya.”<br />
2.	Kemudian yang berikutnya: M Surur pernah mengatakan bahwa para ulama dalam bidang aqidah –yang diamksud aadalah ulama ASWJ salafiyyah &#8211; mereka itu sesungguhnya orang-orang yang munafik, mereka itu adalah para pendusta, mereka itu adalah jasus (mata-mata – red).<br />
Ini adalah ucapan dia – m.surur- yang juga ia ucapkan dalam kitabnya –minhajul anbiya fi da’wati ilallah- yang kemudian ucapan ini kemudian ia tuangkan dalam majalah yang disebut dengan majalah ‘as-sunnah’. Dia punya majalah namanya as-sunnah, namanya bagus, tapi pada hakikatnya sangat-sangat bertolak belakang dengan nama majalahnya. Karena justru yang ada dalam majalah tersebut adalah penghinaan, pelecehan terhadap para ulama ahlus sunnah. Ini yang kedua<br />
3.	Kemudian point yang ketiga. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi hafidhahullah mengatakan: ”M Surur adalah orang yang menyanjung Hasan At-Turabi. Saat Hasan Atturabi mengatakan bahwa seorang muslim dibolehkan menganut agama Yahudi dan Nasrani sebagaimana mereka dibolehkan menganut agama Islam.”<br />
Hal itu dipuji habis-habisan oleh MSZA!!? Padahal termasuk mutaqodahnya ahlus-sunnah waljamaah adalah bahwa siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang akfir yang tulen, yang asli maka dia kafir dan siapa yang masih ragu akan kekafiran orang-orang kafir tulen atau yang asli maka dia kafir. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-bayyinah ayat 6:</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul kitabdan orang-oragn musyrik masuk dalam neraka jahannam, mereka kekal didalamnya, mereka itulah sejelek-jelek makhluk.”</p>
<p>Sementara Hasan At-Turabi dengan lantangnya mengatakan bahwa tidak boleh kita mengatakan orang Yahudi kafir, mengatakan kepada orang nashrani kafir, karena bagaimanapun Yahudi dan Nasrani ini adalah agama samawi yang diturunkan dari langit. Oleh karena itu bagaimanapun kenyataannya pada hakikatnya kita bersaudara dengan mereka. Ini ucapan Hasan at Turabi.</p>
<p>Ucapan Hasan at-Turabi yang seperti ini dipuji habis-habisan oleh M Sururi.</p>
<p>Dalam point dua (2) dia sikat, dia habisi ulama Ahlus-sunnah, dalam point yang ketiga diangkat orang yang bejat akhlaknya, seoarnga yang bejat aqidahnya, seorang yang bejat ideologinya, mana keadilannya???!!! Padahal M Surur dan para pengikutnya itu adalah orang yang senantiasa menggembar-gemborkan ‘kita harus inshaf, kita harus adil’. Dia sendiri tidak adil!! Menghujat habis-habisan ulama ahlus-sunnah dan mengangkat habis-habisan orang yang ideologinya sesat. Dan inshaf/keadilan menurut Surruriyyah adalah kalo kita mengkritik seseorang tidak boleh kita hanya menyebutkan kesalahan-kesalahan saja, tetapi harus disertai penyebuan kebaikannya. Ini timbangaan inshaf/keadilan menurut mereka.</p>
<p>Tentu saja timbangan inshaf dan keadilan yang seperti ini salah!! Menyelesihi manhaj ahlus-sunnah!! Inshaf ataupun adil menurut ulama ahlus-sunnah adalah meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya. Menyatakan yang hak adalah hak dan yang bathil adalah bathil, berani mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu adalah benar. Sementara timbangan M Surur terbalik, entah berlandaskan di atas apa pernyataannya itu!! Hasan at-turabi juga mengatakan –seperti yang tadi telah kita singgung- bahwa seorang muslim boleh menganut agama yahudi dan nashrani. Tentu saja ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dinyatakan oleh Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahabat Ibnu Abbas:<br />
”Siapa yang mengubah agamanya, siapa yang keluar  dari agamanya, perangi dia, bunuh dia!”<br />
ini malah seenak perutnya mengatakan, ”boleh-boleh saja orang islam menganut agama Yahudi dan Nashrani.”</p>
<p>4.	kemudain point yang lain:<br />
MSBNZA juga memuji habis-habisan orang-orang yang mencela dan melecehkan hijab islami, yang melecehkan hijab yang melecehkan cadar, yang melecehkan pakaian muslimah yang sempurna. Dimana banyak orang yang mengatakan kalo hijab islami yang sempurna, hijab mar’ah yang sempurna adalah seperti kemah (tenda –red)!!! Orang yang mengatakan seperti ini dipuji habis-habisan oleh M Surur.<br />
Dan tentu saja kalimat yang seperti ini adalah kalimat kufur, karena persoalan seperti ini pernah disampaikan kepada Lajnah Daimah (Komisi fatwa ulama Saudi) –semoga Allah merahmati mereka semua- . Ketika ditanya tentang orang yang mencela hijab wanita muslimah dan mengatakan bahwa hijab wanita muslimah itu adalah seperti kemah, maka mereka para ulama semua mengatakan:”Ini merupakan kekufuran, siapa yang berani melecehkan, siapa yagn berani menghina wanita muslimah karena berpegang teguh dengan ajaran agama atau melecehkan seorang muslim yang berpegang teguh terhadap agama, maka dia kafir” Mereka berdalil dengan sebuah ayat yang berbunyi: (QS At-taubah 65-66) ”Katakanlah apakah terhadap Allah dan ayat-ayatnya serta rasulnya kalian melecehkan? Tidak alasan bagi kalian, sungguh kalian telah kufur setelah kalian beriman”<br />
Kemudian para ulama juga menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hatim di dalam kitab tafsirnya. Di dalam hadist tersebut dikatakan, ”Ada seorang laki-laki di saat terjadi perang Tabuk laki-laki itu mengatakan: ’aku tidak melihat orang-oragn yang ahli Qiroahitu kecuali mereka adalah para pendusta-pendusta sunnah dan aku tak melihat keadaan mereka itukecuali sebagai orang-orang yang paling pengecut ketika berjumpa dnegan musuh-musuh Allah dan aku juga tak melihat mereka kecuali merka adalah orang-orang yang mementingkan perutnya.’ Kemudian ada laki-laki yang mendengarkan, dia berkata, ’Demi Allah, aku akan beritahukan kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam dengan apa yang diucapkannya’. Diapun datang kehadapan rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam, ketika itu Allah menurunkan ayat tadi (QS At taubah:65-66). Dan ayat tersbut seolah menjadi jawaban dari kejadian yang ada saat itu.<br />
Orang yang pertama (yaitu yang mengucapkan kalimat-kalimat yang isinya penghinaan) datang kepada rasulullah saw sambil memegangi pelana untanya dia berkata, ”Wahai rasulullah (yang saat itu sedang menunggangi unta), sesungguhnya apa yang kami katakan hanya sendaugurau saja, tidak serius, hanya main-main saja&#8230;.” Namun rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam tetap menjawab dengan ayat Allah tadi.<br />
Setelah menyampaikan hadis ini, berkata para ulama yang tergabung dalam Lajnah -Komisi Fatwa-: Allah menjadikan cemoohan, penghinaan, dan pelecehan yang ditujukan kepada kaum mukiminin adalah berarti pelecehan dan penghinaan terhadap Allah dan kepada ayat-ayat-Nya, juga terhadap rasul-Nya. Memang pada hakikatnya orang tersebut tidak mendustakan Allah, tidak menghina rasulullah, akan tetapi yang dihina hanyalah seorang ahli qiroah, seorang quro. Akan tetapi Allah menyatakan kekufuranya setelah dia beriman. Karana pada hakikatnya siapa yang menghina seorang mukmin berari dia telah menghina Allah, menghina yat-ayatnya, dan menghina rasulnya. Sehingga ucapan atau pujian yang menjurus kepada kekufuran yagn dilontarkan oleh M surur kepada para penghina hijab adalah pujian yang menjurus kepada kekufuran dan dinyatakan oleh para ulama sebagai kalimat yang kufur.<br />
5.	Point yang berikutnya: MSBNZA mengatakan tentang kaum luth:<br />
”Andaikata mereka kaum Luth itu beriman kepada Allah maka sesungguhnya tidak akan bermanfaat keislaman itu bagi mereka, kecuali jika mereka meninggalkan perbuatan homoseksualnya”</p>
<p>Maknanya apa perkataan ini??? Maknanya adalah bahwa MSBNZA mengkafirkan pelaku dosa besar. Dia kafirkan!!!? Dan ini merupakan menhajnya khawarij dan bukan manhajnya ahlussunnah. Adapun aswj mereka tidak mengkafirkan seorang muslim hanya karena dia melakukan dosa besar dan pernyataan ’kafir’ –menurut ahlus sunnah- terhadap seseorang mempunyai syarat-syarat dan mempunyai ketentuan-ketentuan syar’inya. Sehingga aswj mengatakan, ”Andaikata mereka -kaum luth- beriman kepada Allah, maka sesungguhnya akan bermanfaat keimanan mereka itu, adapun perbuatan homoseksualnya –dosa besar- selam mereka tidak menganggap homoseksual tersebut sebagai sesuatu yang halal, setealh menyampaikan hujjah kepadanya, maka mereka masih tetap di atas kehendak Allah. Jika Allah berkehendak mengampuni merkea, maka mereka akan diampuni, dan jika Allah berkehendak untuk tidak mengampuni mereka, maka tidak akan diampuni. Ini merupakan mu’taqod aslussunnah. Jelas berbeda!!!! Yach berbeda 100% dengan apa yang diyakini oleh MSBNZA</p>
<p>6.	Point yang berikutnya:<br />
Muhammad Surrur juga memberikan pujian terhadap orang yang mencela Khilafah Usman bin Affan. Dia mengatakan bahwa Khilafah Usman adalah khilafah yang hampa, kosong, khilafah yang tidak ada artinya. Khilafah yang tidak berguna.<br />
Dan orang-orang yang mengatakan demikian adalah Sayyid Qutb, dipuji oleh Muhammad Surrur!! Padahal Usman bin Affan adalah salah seorang yang diberi kabar gembira oleh rasulullah bahwa usman bin affan akan masuk jannah,  Usmn bin Affan akan masuk jannah!!! Sementara Sayyid Qutb mencelanya! Dan Usman bin Affan dibunuh sebagai seorang syuhada, dibunuh oleh orang-orang Khawarij saat Usman bin Affan membaca Alquran. Adapun disebut dalam sejarah yang lainny saat Usman sholat tahajud didatangi oleh orang-oragn Khawarij kemudian mereka membunuh Usman, dikatakan dalam sebuah kisahada tetesn darah yang keluar dari tubuh Usman yang kemudian jatuh dalam alquran tepat pada ayat yang berbunyi  ’fasayakfikahumullah’-Allah swt akan membalas kejahatan mereka- Jadi Usman bin afffan adalah salah seorang sahabat yang mulia. Jadi tidak benar kalo dikatakan khilafahnya adalah khilafah yang hampa, yang tak berguna, yang kosong.<br />
7.	Kemudian point yang lainya: M Surur memuji bahkan membela orang yang menuduh sebagian sahabat Nabi dengan tuduhan kemunafikan. Dan orang tersebut adalah Sayyid Qutb. Dia menuduh salah seorang sahabat Nabi –yaitu Amir bin Ash- dengan tuduhan kemunafikan.<br />
Padaha Nabi dalam banyak hadis menyampaikan tentang keutamaan-keutamaan mereka, ”Barangsiapa yang mencintai Anshor maka itu merupakan tanda keimananya, demikian pula barangsiapa yang mencintai Muhajirin dan keseluruhan Sahabat.”<br />
Namun Dia –Sayyid Qutb- berani mengatakan Amir bin Ash adalah salah seorang sahabat yang munafiq. Ini adalah Sayyid Qutb, kemudian dipuji oleh MSBNZA<br />
8.	Point berikutnya: M Surur membela orang yang mengatakan bahwa ajaran islam merupakan kompilasi, campuran dari ajaran-ajaran nashrani dengan penganut Sosialisme.<br />
Orang yang mengatakan ini adalah Sayyid Qutb bahwa ajaran Islam itu adalah kompilasi, campuran, hasil rangkuman dari ajaran nashrani dan paham sosialisme. Dan ini merupakan kalimat yang jelek sekali karena Allah menyatakan dalam Al-quran:<br />
”Siapa yang menghendaki selain agama Islam meka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong kepada golongan orang yang merugi”<br />
Bagaimana bisa dia –Sayyid Qutb- mengatakan bahwasanya ajaran islam ini merupakan rangkuman dari ajaran nashrani dan paham sosialisme. Dan hal ini dipuji habis-habisan oleh MSBNZA</p>
<p>9.	Kemudian MSBNZA membela orang yang mengatakan bahwa permusuhan kita, peperangan kita terhadap yahudi dan nashrani bukan karena agama.<br />
Orang ini adalah Hasan al-Banna. Karena itu kita katakan dimuka tadi bahwasanya paham Surruriyyah, Quthbiyyah dan IM adalah setali tiga uang, masing-masing ada saling keterkaitan. M Surur membela Hasan Al-Banna yang mengatakan bahwa permusuha  kita, peperangan kita terhadap Yahudi dan Nashrani bukan karena agama, akan tetapi karena negara saja; hanya karena tanah saja; hanya karena wilayah saja; hanya dalam rangka membela wilayah, bukan karena mereka kafir. Ini&#8230;.!! padahal Allah menyatakan dalam Al-Quran,<br />
”Tidak akan ridlo akan kalian orang-orang Yahudi dan Nashrani sehingga kalian mengikuti ajaran mereka.”<br />
Di dalam ayat ini Allah tidak menyatakan bahwasanya orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani tidak akan ridho kepada kamu sampai kamu menyerahkan ’sepetak tanah’ kepada mereka atau menyerahkan kekeuasaanmu kepada mereka, tetapi sampai kamu mengikuti agama mereka!!! Berarti landasan permusuhan kita dengan Yahudi adalah karena kekafiran mereka, karena agama, bukan karena tanah!! Demikian pula Allah menyatakan dalam firmannya,<br />
”Mereka tetap berusaha untuk memerangi kalian sampai mereka bisa memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka mampu untuk melakukan hal itu.”<br />
dan inilah (point 9 -red) hasil pemahaman yang diyakini oleh M Surur sebagai fiqhul waqi’, fiqh realita hingga menjerumuskan dia kepada pemahaman yang bejat seperti ini, pemahaman yang salah seperti ini!!<br />
10.	kemudian juga M Surur memuji Hasan al-Banna dan para dai-dainya yang menyeru kepada teori plualis; penyatuan agama<br />
11.	Disebutkan oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab al-Wushobi bahwa M Surur membela orang yang menyeru kepada pemahaman sosialisme, orang yang menyatakan behwasanya dinnul islam itu adalah berarti paham sosialisme. Orang yang menyatakan seperti ini tidak lain adalah pentolan-pentolan IM yaitu: Al-Ghozali dan Musthofa as-Siba’i. Buku-buku mereka berdua banyak dikonsumsi oleh kaum muslimin di Indonesia. Mereka berdua mengatakan bahwa ajaran Islam adalah paham sosialismem. Ini berbahaya!!!<br />
12.	M Surur jugamengatakan bahwa Ahlus sunnah, mereka adlah orang-orang khawarij, murji’ah dan qodariyyah.<br />
Ini ucapan M Surur, dia mencoba menutup mata, sebab dia sendiri juga tahu kalau ahlus-sunnah itu selalau mengingatkan ummat dari bahaya Khawarij, mengingatkan ummat dari bahaya murji’ah, mengingatkan ummat dari bahaya qodariyyah. Tetapi dia ingin mengelabui ummat dengan emngatkan bahwasanya ahlus-sunnah itu adalah Murji’ah, ahlus-sunnah itu adalah Khawarij, ahlus-sunnah itu adalah qodariyyah.<br />
13.	kemudian M Surur juga memuji dan membela orang yang mengatakan bahwasanya Syaikh bin Baz itu mendekati kekufuran dan orang itu tiada lain adalah tokoh IM yaitu al-Mis’ari.<br />
Al-Mis’ari menyatakan bahwa Syaikh bin Baz itu mendekati kekufuran. Dipuji habis-habisan oleh M Surur.<br />
14.	M Surur juga memberikan pembelaannya kepada orang yang mengatakanbahwa para anbiya’, mereka tidak sukses di dalam mengemban kepentingan-kepentingan Allah untuk menyampaikan dakwah islam dan tidak ada yang sukses kecuali imam-imam kami.<br />
Orang yang mengatakan seperti ini adalah Khumaini, dan dipuji oleh M Surur bahwa Khumaini adalah Imam Kabir, dengan pujian yang luar biasa tingginya.</p>
<p>Itulah diantara pemahaman-pemahaman yang dianut oleh M Surur, dan kalo kita simpulkan dari pemahaman tadi, maka paling tidak menjadi lima point:<br />
Point I:  Bahwa dakwah Surruriyyah adalah dakwah yang tidak perhatian yang namanya manhaj, tidak perhatian terhadap yang namanya ideologi. Menurut mereka hal itu tidak penting. Dan tentu saja hal ini sangat dekat sekali dengan dakwah IM. Karena itu dai manapun, siapapun yang perhatiannya sedikit bahkan kurang bahkan tidak sama sekali adalah dai-dai yang berafiliasi kepada pemahaman sururi. Kaitannya dengan beberapa dai yang kita nyatakan sebagai dai Surruriyyah adalah termasuk dari point yang pertama ini.<br />
a.	Ada seorang da’i yang bernama Abdul Hakim Abdat. Dalama sebuah ceramah yang dia sampaikan di Sumatra –datanya ada bukti tentang masalah ini ada-. Dia mengatakan bahwa semua murid-murid yang keluar dari LIPIA manhajnya bagus dan bahasa arabnya bagus.</p>
<p>Sedangkan orang yang beelajar di LIPIA –semua tahu- campur aduk , ada IM, ada NII, bahkan saya tahu kebanyakan yang belajar disana saya tahu karena pernaha sama-sama belajar di Ngruki, NII. Berarti kalau dia katakan ’semua murid keluaran LIPIA itu manhajnya bagus’, dia menyatakan kalau IM manhajnya bagus, NII manhajnya bagus, dan pinter-pinter bahasa arabnya!!?? Ini ucapannya Abdul Hakim Abdat. Lho kok bisa begitu?? Padahal dalam perjalanannya LIPIA dari berdiri hingga sekarang, tidak pernah mngeluarkan seorang dai salafy, tidak pernah!! Lalu siapa yang dimaksud Abdul Hakim Abdat ini, bahwa murid-murid LIPIA manhajnya bagus? Siapa? Abu Qotadah? Abu Qotadah ketika belajar di LIPIA dia tidak mengenal manhaj salaf, sampai keluar dari LIPIA pun tidak mengenal manhaj salaf. Yang dia kenal adalah prinsip NII, manhajnya NII. Dia –Abu Qotadah- baru kenal salaf ketika dia duduk di majlis Syaikh Muqbil, ketika belajar disana. Setelah keluar dari LIPIA tidak ngerti!! Jadi tidak ada seorang pun yang kelaur dari LIPIA langsung bermanhaj salaf, paham tentang salaf, tidak ada!! Justru kenyataan yang ada adalah sebaliknya, yang tadinya IM masuk kedalam LIPIA keluar jadi daimya IM, yang tadinya NII masuk LIPIA, keluar tetap jadi dainya NII. Ini nyata! Ini realita!! Kalau kita buktikan banyak sekali ya orang-orangnya, ini menunjukkan orang ini –abdul hakim- betul-betul goblok dalam masalah manhaj, nggak ngerti maslah manhaj, nggak ada perhatian dalam masalah manhaj!!</p>
<p>b.	Kemudian ada dai yang bernama Yazid Abdul Qodir Jawwaz. Ini ucapannya sungguh sangat masyhur, dia pernah menyatakan bahwasanya urusan tahdzir –karena ini terkait dengan masalah manhaj- itu urusan ulama, kalau kita itu masih tingkatannya tholabul ilm, masih penuntut ilmu, lagipula disamping kita itu kebanyakan orang-orang yang awwam, nggak pas kalau kita main tahdzir, menyatakan fulan min ahlul bid’ah itu nggak pas.<br />
Ini juga sama!! Menunjukkan kalau dia tidak perhatian dengan yang namanya manhaj!! Jadi jarang sekali pada kenyataannya kita dapatkan pengajian-pengajian mereka yang membahas seputar masalah manhaj. Bagaimana sih prinsip ahlussunnah di dalam bermuamalah dengan ahlul bidah, sehingga ketika sebuah buku meluncur yang ditulis oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad yang berjudul ’Rifqon ahlussunnah li ahlussunnah’ itu mereka sambutannya luar biasa, senaaang sekali mereka, dikaji di berbagai tempat, bahkan diterjemahkan buku itu, padahal para ulama telah mengatakan bahwa buku tersebut khawatir menjadi salah satu jalan ahlul bid’ah untuk menghantam ahlussunnah dan ternyata kenyataannya pun demikian. mereka orang-orang yang kita nyatakan berafiliasi dengan faham Surruriyyah, itu sangat senang semangat untuk mengkaji kitab ini. Bahkan menerjemahkannya ’seperti ini dakwah ahlussunnah, harus rifqon, tidak boleh keras, tidak boleh men-tahdzir, tidak boleh mengatakan kalau ini salah, tidak boleh mengatakan kalau ini bidah’ maknanya kan begitu!! Kalau tidak ada tahdzir berarti makanaya begitu, tidka ada bidah. Tidak ada yang dislahkan, semuanya benar!! Ini buktinya bahwa mereka perhatiannya sangat sedikit terhadap masalah manhaj. Lalu kalau tidak perhatia dengan masalah manhaj, lalu perhatiannya terhadap apa?? Perhatian mereka sesungguhnya ya ikhwan&#8230;..terhadap harta!! Terhadap mal!! Saya kasih tahu bukti yang otentik –datanya ada jelas-: Abu Qotadah, yang mungkin, barangkali, sekarang menjadi kebanggaan mereka -dai-dai yang mita nyatakan sebagai dai surrurriyyah.<br />
c.	Abu Qotadah itu pernah manyatakan bahwa harta itu sedikit dan banyaknya itu fitnah, maka nikmati sajalah&#8230;.!!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-79" title="hizbiyyah" src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2010/02/hizbiyyah-194x300.jpg" alt="hizbiyyah" width="194" height="300" /></p>
<p>Syubhat ini !! talbis menyatakan begitu!! Sehingga ketika dia mendapatkan dana untuk membangun sebuah lembaga pendidikan yang disebut darul aitam khusus anak-anak yatim. Yach ketika dapat dana tersebut, kemudian dia ingin membangun di sebuah tempat yang dekat masyarakat, akan tetapi masyarakatnya menolaknya, kemudian apa yang ia lakukan?? Yang dia lakukan adalah meminta bantuan kepada seorang Quburi, Quburi!!! Jelas ana tahu orang itu&#8230; kalau ada yang mati, berbondong-bondong bersamanya santrinya datang kebukuran, baca yasinan dana segala macam kuburi!! Dia meminta tolong kepada Quburi itu agar menyampaikan kepada masyarakat supaya diijinkan supaya dia-abu qotadah- diijinkan membangun lembaga pendidikan Darul aitam disitu. Bayangkan!! Sampai kejadian seperti itu ada beberapa muridnya yang keluar, merasa bingung, lo kok begini? Inikah manhaj ahlussunnah meminta bantuan kepada ahlul bid’ah? Keluar, dan sekarang alhamdulillah ngaji bersama kita. Bukan disitu saja, ia (Abu Qotadah -red) berusaha untuk terus berusaha membangun lembaga pendidikan di tempat itu, juga dengan cara menyogok, riswah, menyogok aparat sampai kurang lebih habis 300 juta, untuk hanya sekedar sogok-menyogok, bayangkan!! Awalaupun bukan ia yang terjun secara langsung mengurusi masalah ini, tetapi ia menyetujuinya, dia menyetujuinya!! Ini Abu Qotadah, bekerjasama dengan seorang Quburi, sufi. Jelas semua orang tahu, orang awwam pun tahu kalau ia sufi quburi, itu dimintai tolong sama Abu Qotadah, bagaimana manhajnya? Berarti ia tidak perhatian terhadap manhaj? Jawabnya: ia, dia tidak perhatian terhadap manhaj!! Dan dari atu sisi ini saja menunjukkan bahwa ia berafiliasi pada pemahaman Surruriyyah, M Surur adalah orang yang perhatian dalam masalah aqidah, tidak perhatian dalam masalah manhaj, sehingga dia banyak memuji dai-dai teologi pluralis dan dai-dai yang lain.<br />
Point 2: Penghinaan, pelecehan, cemoohan yang dilontarkan terhadap ulama salaf dan salaffiyyin. Ini juga bisa dibuktikan:<br />
Abdul Hakim Abdat mengatakan  dalam sebuah ceramahnya di Sumatera, ”Orang-orang yang keluar dari LIPIA itu bahasa arabnya bagus, sedangkan salaf lemah bahasa arabnya” (dengan gaya dia)</p>
<p>Ini benar-benar pelecehan penghinaan terhadap salafiyyin dan pujian terhadap hizbiyyin.</p>
<p>Dia juga mengatakan bahwa saat ini kita tidak mungkin untuk tidak bersinggungan dengan IM dan hizbiyyin yang lainnya, sangat tidak mungkin, pasti saja kita akan bersinggungan dengan mereka. (Ini Talbis/dusta)<br />
Contohnya majlis Syaikh Muqbil ada orang-orang ikhwani, majlis Syaikh Rabi’ ada orang-orang ikhwani, majlis Syaikh Utsaimin ada orang-orang ikhwani.</p>
<p>Ini dusta!! Kapan dia bertemu dengan Syaikh Muqbil?? Orang dia duduk dengan para ulama aja tidak, kok berani dia mengatakan seperti itu, dan ini adalah pelecehan terhadap mereka -para ulama!! Kita tahu bagaimana kerasnya Syaikh Muqbil terhadap IM, demikian pula Syaikh Rabi demikian pula Syaikh Utsaimin. Lalu dikatakan di majlis mereka ada IM, lo kok bisa?? Ini kedustaan, ini talbis, ini penipuan, penipuan dalam rangka membuat kerancuan. Ini Abdul Hakim Abdat.<br />
Mereka, ketika kita beritahukan bahwa lembaga Ihyaut-turots adalah lembaga yang diingatkan, yang diwanti-wanti oleh para ulama agar tidak bekerjasama dengannya. Merka malah mengatakan ulam itu bukan hanya Syaikh Mugqbil saja, bukan hanya Syaikh Robi aja ini secara tidak langsung mengandung celaan, cemoohan terhadap Syaikh Muqbil, juga terhadap Syaikh Robi.</p>
<p>Demikian juga Abu Qotadah, ketika disampaikan kepadanya –data ada bisa dibuktikan, dipertanggungjawabkan- ketika kita sampaikan  padanya bahwa Syaikh Muqbil telah berbicara tentang Yayasan At-turost, atau lembaga Ihyaut-turost dia mengatakan apa?<br />
”Itu hanyalah informasi yang disampaikan oleh Syaikh Muqbil, sedangkan saya disini, saya masih dalam rangka melihat. Saya coba bergabung dengan mereka untuk mengetahui apa mereka hizbi atau bukan.” (perkataan Abu Qotadah –red)</p>
<p>Lancang ucapannya! Dia anggap apa Syaikh Muqbil?! Dia anggap informasi yang disampaikan Syaikh Muqbil tetang masalah Ihyaut-turost itu kadzab semua? Tidak sesuai kenyataan, padahal nama Syaikh Muqbil dia sandang kemana-mana. Setiap dia mengadakan kajian ada embel-embel dibawahnya murid Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’ie. Tapi sikapnya terhadap Syaikh Muqbil seperti itu. ”Itukan informasi dari dia” bayangkan!! Seperti inikah orang yang bermanhaj salaf? Tentu tidak, tidak bia kita terima pernyataannya yang seperti itu.</p>
<p>Dia –abu Qotadah- pernah ditanya dalam sebuahmajlis taklim –data bisa dibuktikan- pernah ditanya, ”Apa yang menyebabkan antum berselisih dengan Abu hamzah?” jawabanyya apa, ”Saya ingin menjawab selain dari apa pertanyaan ini, coba kalau ada pertanyaan lain jangan pertanyaan seperti ini!”</p>
<p>Ndak di jawab! Padahal umat butuh keterangan bahwa perselisihan antara saya-Abu Hamzah dan dia bukan masalah pribadi bukan masalah harta tapi semata-mata urusan ideologi. Umat butuh penjelasan tapi dia tidak mau menjawabnya, malah dia mengatakan,</p>
<p>”Ya ikhwan sekarang ini mendingan perhatian kepada ibadah, bagaimana cara wudlu yang benar, cara sholat yang benar ini saja kalian belum pada bisa” ini ucapan dia.</p>
<p>Padahal kita yakini bahwa urusan masalah manhaj, wudlu, sholat dan ibadah yang lainnya sama saja. Semua adalah perkara yang harus kita ketahui dan bagian dari ajaran Islam dan Syariat Islam. Karena Allah menyatakan,&#8230;”Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.” ambil islam dari segala sisinya, urusan manhaj juga bagain agama, tentang sholat, tentang wudlu juga bagian agama. Ummat butuh penjelasan ini semua. Ya tak bisa kita mengesampingkan urusan manhaj ini, padahal urusan manhaj adalah urusan yang sangat prinsip. Ini Abu Qotadah</p>
<p>Point 3: Diantara prinsip dakwah Surruriyyah adalah memuji para hizbiyyin, memuji ahlul bid’ah dan bekerjasama dengan mereka. Lagi-lagi sebagai contoh yang jelas adalah Abdul Hakim Abdat, memuji LIPIA, memuji orang-orang yang keluar dari LIPIA, memuji lulusan-lulusan LIPA sebagai orang-orang yang manhajnya bagus.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa dia sangat tolol terhadap masalah manhaj, tidak bisa membedakan mana manhaj ikhwani, seperti apa manhaj NII, dan seperti apa manhaj salaf, akhirnya dia manyatakan semua manhajnya bagus.</p>
<p>Abu Haidar juga sama, dia memuji habis-habisan lembaga As-sofwa, ketika dinasehati Ust Muhammad dia katakan, ”As-sofwa ini termasuk pihak yang didholimi”</p>
<p>Ini Abu Haidar yang memuji As-sofwa, kalau Abu Qotadah tidak hanya memuji, tetapi menjadi bagian dari As-sofwa. Padahal semua orang tahu, semua orang bisa membuktikan kalau diantara deretan dai-dai yang tergabung dalam as-sofwa itu ada IM, ada NII dan lain sebagainya. Karena sifatnya as-sofwa itu ada semacam penerimaan dai, dites, kalau lulus jadi dai as-sofwa, akibatnya yang daftar banyak, bermacam-macam, berarti secra tidak langsung dia bekerjasama dengan Lembaga As-sofwa. Ana masih ingat, ketika masih di Ngruki, As-sofwa memberikan bantuan dana untuk pembuatan sebuah perpustakaan plus buku-bukunya. Kita tahu manhajnya Ngruki, Abu Bakar Ba’asyir itu dibantu sama as-Sofwa. Ini merupakan bukti yang tidak bisa diingkari kalau as-sofwwa menumbuhsuburkan semua gerakan dakwah, teramsuk didalmnya orang-orang yang berafiliasi kedalam pemahaman Surruriyyah. Tentu saja seorang Ikhwan yang menjadi dai as-sofwah, dia akan menyeru ummat kepada pemahaman ikhwannya, demikian pula orang-orang yang berafiliasi kepada paham Surruriyyah. Lucu jadinya&#8230;., dia mendakwahkan orang, mengajak orang kepada salaf, menyampaikan ucapan-ucapan salaf, tentu saja kondisi ini dimanfaatkna dengan baik oleh As-sofwa untuk mengelabui ummat bahwa mereka itu benar, mereka itu adalah ahlussunnah, mereka adalah pengikut salaf, bahkan Abu Haidar pernah didatangi seseorang yang kemudian ia sudah kelaur dari Abu Haidar dan ngaji di saya, itu pernah mangatakan, ”Saya tidak pernah bertemu Abu Hamzah, kalau sewandainya mereka mengkritik saya karena saya berhubungan dengan as-sofwa, maka saya sudah keluar” Tapi sayang ucapannya ini tidak dibuktikan secara nyata, ia masih berhubungan dengan As-Sofwa, meski tidak secara langsung berhubungan dengan dai-dainya, seperti Abu Qotadah yang masih berhubungan kuat. Ini Abu Haidar.<br />
Point 4:  Mengikuti manhajnya Quthbiyyah, sebagaimana yagn telah diucapkan M Surur di atas.<br />
Point 5:  Mengikuti prinsipnya IM, yaitu ”kita saling bekerjasama dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaafkan dalam perkara-perkara yang kita berbeda di dalamnya”<br />
Ini persis apa yang menimpa Abu Qotadah, apa yang menimpa Yazzid Jawaas, apa yang menimpa Abu Haidar, apa yang menimpa Abdul Hakim Abdat, dan yang lainnya yang kita klaim sebagai orang-orang atau dai-dai Surruriyyah karena mereka terbukti jelas berhubungan dengannya baik langsung maupun tidak langsung, baik mereka rasa ataupun tidak rasa. Yazzid Jawwas pergaulannya banyak berhubungan dengan ikhwan bahkan dia menjadi salah satu dai dewan dakwah, abu qotadah juga demikian, jelas dia menjadi dai As-Sofwa, apalagi Abdul Hakim Abdat. Kemudian juga dalam kenyataan yang ada, banyak sekali melanggar [rinsip-prinsip ahlus-sunnah seperti terlalu mudah untuk belerjasama dan meminta bantuan kepada para hizbiyyun seperti apa yang menimpa Abu Qotadah, bahkan lucunya, lucunya Abu Qotadah dan pengikutnya itu dia katakan,<br />
”Kami semua menyatakan bahwa As-Sofwa itu bukan salaf (mereka mengatakan begitu) kami hanya menerima dana mereka, ya&#8230; dari pada diambil ahlul bidah ya diambil sama kita saja”<br />
NDASMU KUWI mengatakan seperti itu!!! Ini nampak jelas ketololannya atau kebidahannya, dan ini semua akibat dari ketidakhati-hatianya mereka dalam pergaulan dan mereka sangat berambisi untuk mengikuti hawa nafsu, dalam segal persoalan mereka selalu bermudah-mudahan. Dan itupun kita bisa buktikan, banyak contoh yang meninjukkan akan hal tersebut.</p>
<p>Ikhwani fiddin azzakumullah&#8230;<br />
Itulah tadi diantara kesimpulan dari beberapa prinsip dakwah Surruriyyah, mudah-mudahan hal ini menjadi kejelasan bagi kita semua, dan harapan kita adalah bahwa kita senantiasa diberi petunjuk-Nya dan dilindungi oleh Allah Swt. Dan kita berdoa kepada Allah dengan doanya kaum mukminin:<br />
”Wahai Rabb kami, anugerahkan kepada kami kesabaran dan kokohkanlah pendirian-pendirian kami dan tolonglah kamia atas kaum-kaum yang kafir.”</p>
<p>Kita cukupkan sampai disini.<br />
(Doa penutup majlis.)<br />
Wallahu a’lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/da%e2%80%99wah-hizbiyyah-sururiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/%e2%80%9ccmm%e2%80%9d-sebuah-kedustaan-atas-nama-asatidz-ahlussunnah/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/%e2%80%9ccmm%e2%80%9d-sebuah-kedustaan-atas-nama-asatidz-ahlussunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 02:10:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Sa&#39;id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم -“Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah dan “CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah- Semenjak beberapa hari terahir ini saya memang tidak banyak tahu dan melihat perkembangan dan informasi keagamaan yang disajikan di dunia maya . Alangkah terkejutnya saya ketika diberitahu seseorang &#8211; Semoga Alloh Ta’ala menjaganya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>-“Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah</p>
<p>dan</p>
<p>“CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah-</p>
<p>Semenjak beberapa hari terahir ini saya memang tidak banyak tahu dan melihat perkembangan dan informasi keagamaan yang disajikan di dunia maya .</p>
<p>Alangkah terkejutnya saya ketika diberitahu seseorang  &#8211; Semoga Alloh Ta’ala  menjaganya – bahwa ada sebuah tulisan yang menyinggung-nyinggung soal saya dan soal CMM, disebutkan bahwa saya nulis buku yang kemudian diterbitkan CMM</p>
<p>Semula saya tidak ingin menanggapinya karena hal tersebut sebelumnya sudah saya jelaskan saat ada yang menanyakannya. tetapi, ketika berita itu semakin menyebar dan akhirnya saya pun melihatnya sendiri , maka saya merasa perlu untuk meluruskan  hal yang sebenarnya .</p>
<p>Saya berlindung kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala jika apa yang ingin saya jelaskan ini hanya sebagai pembelaan diri .</p>
<p>Akan banyak waktu terbuang sebetulnya menanggapi hal-hal yang seperti ini, juga hanya akan membuat Si penulisnya merasa dihargai dan besar diri .</p>
<p>Namun ,Si penulis nampaknya tidak merasa puas kalau tulisan miring dan berbau fitnah itu belum tersebar kemana mana , entah apa yang diinginkannya dari itu semua , bisa jadi hasad , bisa jadi tamak terhadap dunia , yang  jelas simak syair-syair berikut ini :</p>
<p>Mata- mata pendengki mengintaimu sepanjang masa .</p>
<p>Coba menampakkan kesalahanmu,  Sedang kebaikan disembunyikannya .</p>
<p>Para Pemuda menanam kedengkian ketika tidak mendapatkan keinginannya Jadilah semua kaum sebagai lawan dan tandingannya</p>
<p>Rambutku telah beruban, Namun  rambut sitamak belum jua beruban .</p>
<p>Orang yang tamak terhadap dunia , sungguh dalam kepayahan .</p>
<p>Saya tegaskan , bahwa saya tidak pernah menulis seperempat buku pun yang kemudian diterbitkan oleh CMM , Apalagi kalau sebuah buku atau satu </p>
<p>buku seperti yang dituduhkan Al Bilaly (Abu Hanan Sabil Ar Rasyad Al Bilaly). </p>
<p>Al Bilaly tidak akan pernah bisa menyebutkan bukti kebenaran tuduhannya selain dari , satu artikel  yang saya tulis “Aku Melawan Teroris” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlus Sunnah .</p>
<p>Saya kira kang Bilaly banyak termakan berita &#8211; berita yang disebar lewat surat kabar, persisnya ketika tulisan saya itu menjadi ramai diperbincangkan  dan menjadi bahan diskusi &#8211; diskusi .</p>
<p> Dalam sebuah surat kabar tiba – tiba Tarmidzi Taher memberikan pernyataan ” Kurang lebih ada delapan kesalahan Imam Samudra dan pihaknya akan mengeluarkan  sebuah buku bantahan  “Aku Melawan Teroris” Sebuah kedustaan atas nama Ulama Ahlus Sunnah . Penulisnya sendiri adalah Al – Ustadz Abu Hamzah Yusuf ,dkk ” itulah kira-kira ungkapan Tarmidzi Taher</p>
<p>Kang  Bilaly kelihatannya merasa cocok dengan berita ini  &#8211; saya tidak tahu  apa Al Bilaly membaca langsung berita ini atau dia mendengar hal itu dari orang lain, atau dia mendapatkan kiriman bukunya langsung dari CMM, tapi ini tidaklah penting, yang menarik adalah komentarnya, ”Saya bermesra-mesraan dengan JIL &#8211;  CMM-“Pengikutnya JIL “&#8230;</p>
<p>Kang  Bilaly tidak sendirian dalam tuduhan dan hujatan yang dilontarkan pada saya ini, tetapi diikuti juga oleh Abu Salma alias Abu Bur-han [Kang.. kalau di Bandung Burhan itu singkatan dari Bubur-Haneut].</p>
<p>Saya sendiri kaget ketika mendengar kabar berita pernyataan Tarmidzi Taher itu , hingga salah seorang ikhwan memperlihatkan surat kabarnya kepada saya .</p>
<p>Memang tidak lama buku yang dimaksud Tarmidzi Taher itu keluar, seorang ikhwanpun membawanya kehadapan saya dan setelah saya lihat barulah tahu bahwa isi buku itu adalah salinan dari majalah Asy Syari’ah edisi Teroris Berkedok Jihad dan disitulah saya menulis artikel dalam kajian utama dengan judul ” Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlus Sunnah .</p>
<p>Jadi bukan saya yang sengaja mengirim tulisan itu langsung ke CMM kemudian mereka terbitkan, atau saya yang minta agar tulisan itu dibukukan, bagaimana mungkin saya lakukan hal ini sementara saya tahu siapa itu CMM, disamping itu tulisan yang diambil CMM pun bukan tulisan saya saja.</p>
<p> “Aku Melawan Teroris ” sebuah kedustaan atas nama Ulama Ahlus Sunnah, itulah judul yang tertulis disampul depan buku yang dimaksud oleh Tirmidzi Taher , isi buku itu sama persis seperti apa yang ada dalam majalah Asy Syari’ah  tanpa dikurangi dan ditambahi , bahkan disalin juga tulian – tulisan dari beberapa asatidz yang mengisi rubrik manhaji, tafsir, dan hadits, karenanya disebutkan penulisnya adalah Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf dan kawan – kawan  yang biasa dituliskan dkk.</p>
<p>Kang Bilaly dan Abu Bur-han lupa atau pura pura lupa, atau memang pelupa, atau memang bisa jadi tidak tahu apa-apa, sehingga hal yang seperti ini tidak diperhatikan, yang pada akhirnya dengan semangat mengesankan bahwa saya memang satu-satunya penulis buku itu dan berhubungan dengan penerbit CMM.</p>
<p>Majalah Asy Syari’ah tujuannya memang da’wah, Sehingga siapapun berhak membaca majalah tersebut dan mengambil faidah darinya, karenanya pihak redaksi memperbolehkan bagi siapapun dari pembaca untuk mengutip isi majalah tersebut sebagian atau seluruhnya dengan mencantumkan sumber dan penulisnya, makanya dalam buku terbitan CMM itu dituliskan majalah tersebut sebagai sumbernya</p>
<p>Repotnya pihak CMM yang menerbitkan tulisan – tulisan dimajalah tersebut kedalam bentuk buku, mereka komersilkan untuk kepentingan mereka.</p>
<p>Sejak pertama kemunculan buku itupun saya segera klarifikasi, Sebab pasti ada orang &#8211; orang yang memanfaatkan hal tersebut sebagai celah untuk menghasut saya dan para asatidz lainnya, buktinya memang ada dua tokoh “pendekar standar ganda”yang diperankan oleh Al Bilaly dan Abu Bur-han menjadi korbannya .</p>
<p>Saya dan beberapa ikhwan berusaha untuk dapat menghubungi pihak CMM tetapi tidak pernah berhasil dan nampaknya tidak digubris .</p>
<p>CMM adalah CMM, dan saya setuju dengan pernyataan “pendekar standar ganda”itu bahwa mereka adalah corongnya JIL di Indonesia dan yang berhaluan “Liberal”.</p>
<p>Darimana kemudian saya dikatakan bermesra-mesra dengan JIL atau bahkan pengikutnya??, lain kali dan kali lain-lain hati-hati kang&#8230;</p>
<p> <img src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2010/02/moderate.JPG" alt="moderate" title="moderate" width="253" height="87" class="aligncenter size-full wp-image-66" /></p>
<p>Perkataan itu bak susu sapi yang telah diperas dari teteknya</p>
<p>Tidak mungkin dapat dikembalikan lagi kedalamnya</p>
<p>Bagaimana mungkin seseorang dapat mengembalikan susu sapi yang telah</p>
<p>diperas dari teteknya</p>
<p>Seperti itulah perkataan tak dapat dikembalikan ke tempat asalnya</p>
<p>Saya berlepas diri dari CMM dan apa yang ada didalamnya. Adapun kedua pendekar “standar ganda” itu mereka majhul disisi saya, entah pengikut aliran mana, beda dengan Abu Qatadah yang sok dibela-belanya itu, saya pergi ke Yaman bareng pulang bareng , ngajar di Pondok pernah bareng, keadaannya sudah wadhih, saya tidak ingin mengupasnya lagi, tulisan ini akan terlalu panjang bila mengupasnya.</p>
<p>Dua Pendekar “standar ganda” itu mungkin merasa girang dan menang ketika saya tidak menanggapi tuduhannya, sebagian ikhwanpun mendesak untuk segera meluruskan persoalan yang sebenarnya.</p>
<p>Tidak ada yang membuat saya tidak semangat untuk membalasnya melainkan saya teringgat bait – bait syair dari Salim bin Maimun Al Khowash :</p>
<p>فخير من اجابته السكوتُ</p>
<p>عييت عن الجواب وماعييت</p>
<p>قذ ًًى فى جوف عيني ما قذيت</p>
<p>خزيت لمن يجافيه خزيت</p>
<p>اذا نطق السفيه فلا تجبْه             </p>
<p>سكتّ عن السفيه فظنّ أني         </p>
<p>شرارالناس لوكانوا جميعا      </p>
<p>فلست مجاوبا أبدًا سفيهًا  </p>
<p>Jika Pembaca ingin tahu arti dari syair ini tanyakan saja pada pendekar “standar ganda”itu, Kang Bilaly dan Abu Bur-han, mudah mudahan mereka ngerti tapi hati hati dari tahrif dan ta’wilnya seperti yang terjadi di atas.</p>
<p>Bandung Raya, 20 Desember 2006</p>
<p>Yang selalu mengharap ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Hamzah Yusuf Al-atsary</p>
<p>Note:<br />
Kami berlepas diri dari CMM berkaitan dengan buku tersebut:</p>
<p>http://www.cmm.or.id/cmm-ind.php?id=C0_19_3</p>
<p>Judul : Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama Ahlussunnah<br />
Penulis : Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary<br />
Cetakan I : Juli 2005<br />
Penerbit : Center for Moderate Muslim<br />
Tebal : 122 halaman </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/%e2%80%9ccmm%e2%80%9d-sebuah-kedustaan-atas-nama-asatidz-ahlussunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam is &#8220;Take It&#8221; and &#8220;Leave It&#8221;</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/08/islam-is-take-it-and-leave-it/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/08/islam-is-take-it-and-leave-it/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 09:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Sa&#39;id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ust. Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari [Buletin Al Wala-Wal Bara, 17 Jan 2003/13-DzulQo'dah-1423] Manusia membutuhkan syariat dalam mengarungi kehidupan dunia, sebab yang namanya manusia sudah tentu akan melakukan gerak yang dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Sedangkan syariat yang akan membedakan mana yang akan menghasilkan kemaslahatan dan mana yang menjerumuskan ke dalam kemudharatan. Itulah keadilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ust. Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari<br />
[Buletin Al Wala-Wal Bara, 17 Jan 2003/13-DzulQo'dah-1423]</p>
<p>Manusia membutuhkan syariat dalam mengarungi kehidupan dunia, sebab yang namanya manusia sudah tentu akan melakukan gerak yang dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Sedangkan syariat yang akan membedakan mana yang akan menghasilkan kemaslahatan dan mana yang menjerumuskan ke dalam kemudharatan. Itulah keadilan Allah pada makhluqnya, cahaya-Nya di tengah-tengah hambanya. Tidak mungkin Bani Adam akan hidup tanpa ada syariat yang mengarahkan kepada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Allah berfirman, &#8220;…Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.&#8221; (QS. An Nahl : 44). &#8220;Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.&#8221; (QS Al Maidah : 15-16). Allah juga berfirman, &#8220;Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.&#8221; (QS Asy Syura : 52)<br />
Itulah Islam, Islam adalah perintah untuk beribadah kepada Allah dan melepaskan peribadahan-peribadahan kepada selainnya. Islam adalah perintah untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dan menjauhi larangannya. Islam adalah pengagungan terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, yang dengan itu semua manusia diatur kehidupannya sesuai dengan kehendak Sang Pencipta dan pengatur alam jagad raya ini. Yang dengan itu semua manusia dimulyakan atas makhluq-makhluq ciptaan lainnya.<br />
Islam bukanlah seperti yang difilm-kan oleh Si Boy atau yang digambarkan oleh seorang cow-boy, bukan pula seperti yang dicita-citakan oleh seorang sinting Ulil Abshar Abdala (Koordinator Jaringan Iblis Liberal), yang mengatakan bahwa Islam yang disuguhkan dengan cara &#8220;take it&#8221; or &#8220;leave it&#8221; itu membahayakan kemajuan Umat Islam.</p>
<p><img src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2010/02/take-it-and-leave-it.JPG" alt="take it and leave it" title="take it and leave it" width="387" height="238" class="aligncenter size-full wp-image-57" /></p>
<p>Pernyataan yang ngaco, yang penulis kira dia bukan seorang muslim. Bagaimana tidak, dengan pernyataan itu dia menginginkan Umat Islam bebas dari syariat yang memerintah dan melarang. Tidak ada manfaatnya ketaatan dan tidak akan membahayakan kemaksiatan-kemaksiatan. Tak ada bedanya orang yang beribadah dan yang bermaksiat. Tak ada gunanya amalan-amalan shalih. Tak ada bedanya antara yang haq dan yang batil. Tidak ada prinsip Al Wala&#8217; wal Bara&#8217;, bahkan tidak ada bedanya antara Islam dan kafir. Jelas ini adalah penghinaan terhadap syariat Allah dan penghinaan terhadap Umat Islam yang menurut dia -dengan pernyataanya itu- Umat Islam harus seperti binatang yang hidup bebas tanpa batasan norma-norma kemanusiaan. Kalau bagi dia wajar, karena dia memang seekor binatang. Tetapi kita, kita adalah Umat Islam yang dimuliakan dengan Islam -seperti pernyataan sahabat Umar ibnul Khaththab-.<br />
Sesungguhnya tidak ada istimewanya tulisan dan pernyataan Ulil Abshar sehingga penulis harus menghabiskan waktu untuk membantahnya, karena isinya hanya sampah dan kotoran-kotoran najis yang wajib setiap Muslim untuk menjauhinya. Penulis hanya ingin mengingatkan para pembaca -Kaum Muslimin- dengan firman Allah, &#8220;…Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…&#8221; (QS Al Maidah : 49)<br />
Hanya dengan kembali kepada agama-Nya, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, mematuhi segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya Umat Islam akan maju dan mulia, sebagaimana pernyataan Nabi, &#8220;Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian&#8221;. Semua perintah maupun larangan Allah dan Rasul-Nya adalah sesuai dengan fitrah manusia, mengarahkan Umat Islam kepada sesuatu yang bermaslahat dan menjauhkan dari sesuatu yang mudharat, di antara yang menunjukkan hal itu:<br />
Pertama: Allah memerintahkan untuk memerintah kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar: &#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar…&#8221; (QS Ali Imran : 110).<br />
Kedua: Allah memerintahkan untuk ta&#8217;awun (tolong menolong) dalam hal kebaikan dan melarang dari ta&#8217;awun dalam hal dosa dan maksiat: &#8220;…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…&#8221; (QS Al Maidah : 2).<br />
Ketiga: Allah memerintahkan untuk menjadi para penegak keadilan: &#8220;Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…&#8221; (QS An Nisa : 135).<br />
Keempat: Rasulullah memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang dari berdusta: &#8220;Hendaklah kalian jujur karena kejujuran menghantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menghantarkan ke surga. Dan janganlah kalian berdusta karena kedustaan akan menghantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan menghantarkan ke neraka.&#8221; (HR. Bukhori Muslim dari Ibnu Mas&#8217;ud).<br />
Kelima: Rasulullah melarang dari berburuk sangka: &#8220;Janganlah kalian berprasangka buruk karena ia adalah perkataan yang paling dusta.&#8221; (HR Bukhori Muslim dari Abu Hurairah)<br />
Keenam: Rasulullah memerintahkan untuk menyebarkan nasihat: &#8220;Agama itu nasihat&#8221; -diulangi tiga kali-, kami bertanya, &#8220;Untuk siapa wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, Rasul-Nya dan bagi para pemimpin muslimin dan Kaum Muslimin umumnya.&#8221; (HR. Muslim dari Abi Ruqoyah Tamim Ad Dari)<br />
Akhirnya sekali lagi penulis mengingatkan kepada para pembaca -Kaum Muslimin- bahwa sekarang ini telah muncul orang-orang yang berhati syaitan tetapi bertubuh manusia seperti yang digambarkan Rasulullah dalam Shahih Bukhori, hendaknya berhati-hati dan waspada terhadap mereka. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan Kaum Muslimin di manapun berada, Amin ya Mujibas saailiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/08/islam-is-take-it-and-leave-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

