Latest Posts »
Latest Comments »
Popular Posts »

Bagai Menggenggam Bara Api

Written by Admin on 7 March, 2010 – 03:53


Ditulis oleh al Ustadz Abu Hamzah al Atsary
Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Imam asy Syafi’i, “Wahai Abu Abdillah, manakah yang lebih baik bagi seseorang dibiarkan atau diuji?” Al Imam asy Syafi’i menjawab, “Tidak mungkin seseorang itu dibiarkan hingga ia diuji, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad sholawatullah ‘alaihim ajma’in. Maka tatkala mereka bersabar, Allah mengokohkan mereka. Tidak boleh seorang pun mengira akan lepas dari kesusahan.
” Al Allamah Ibnul Qoyyim mengatakan, “Ujian merupakan suatu keharusan yang menimpa manusia dan tidak ada seorang pun yang dapat mengelak darinya, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam Al Qur’an tentang keharusannya menguji manusia…” (Madarijus Salikin 2/283).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (adzab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (QS Al Ankabuut: 1-4).
Allah juga berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al Anbiyaa`: 35).

Para pembaca -sungguh saat ini kita tengah berada di zaman yang benar-benar menuntut kesabaran, dimana orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api, jika dilepas maka akan membakar dirinya dan membahayakannya, namun bila tetap digenggamnya, maka ia membutuhkan kesabaran dan kekokohan yang luar biasa. Bagaimana pula tidak dikatakan demikian, sebab setiap kali nampak orang-orang yang ingin mengamalkan agama beribadah dengan syari’at Allah, akan berdiri ahli bid’ah, para pengekor hawa nafsu, dan orang-orang bodoh yang tidak mengerti agama kecuali dari nenek-nenek moyangnya siap menghadang di hadapannya, melemparkan cercaan, hinaan, tudingan, dan fitnah baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, benar-benar membuat mayoritas muslim in phobi untuk menjalankan tuntunan agamanya. Betapa banyak para da’i-da’i Islam yang bungkam mulutnya tidak berani untuk berbicara yang haq, karena selalu mendapat tekanan dan intimidasi, terorislah, Islam garis keraslah, serta seabreg tudingan dan pelecehan yang lainnya, hanya da’i-da’i pramuka -yang di sana senang di sini senang, di sana senyum di sini senyum- yang aman-aman saja. Da’i-da’i ini tidak punya andil dalam memerangi ahli bid’ah dan syirik malah ikut berkecimpung dan ikut berperan mendukungnya, seolah-olah dirinya mengatakan, “No problem, take it easy man…!” Read more »


Tags: , , ,
Posted in Manhaj | 2 Comments »

Da’wah hizbiyyah Sururiyyah

Written by Abu Sa'id on 11 February, 2010 – 13:20

Sabtu, 15 April 2006
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Dakwah salafiyayah ahlussunnah wal jama’ah dan da’wah hizbiyyah Surruriyyah

(dimulai dengan khutbah hajah)
Ikhwani fiddin akromani wa akromahullahu jami’an. Pada kesempatan malam ini kita akan berbicara seputar dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama’ah dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah.

Pembicaraan dakwah hizbiyyah Surruriyyah sebenarnya sudah banyak dikupas panjang lebar oleh para ulama. Akan tetapi dalam rangka munashahah dan saling mengingatkan bahaya yang ditimbulkan dari dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini, maka tidak ada salahnya untuk kita kembali mengingatkan dan menjelaskan akan bahaya dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini.

Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…
Berbicara tentang dakwah hizbiyyah Surruriyyah, maka secara tak langsung kita akan bersinggungan dengan tiga pemahaman bid’ah di dalam Islam. Yaitu antara lain pemahaman Qutbiyyah yang diprakarsai oleh Sayyid Qutb. Kemudian yang kedua, pemahaman Ikhwanul Muslimin (IM) yang diprakarsai oleh Hasan al Banna, dan yang ketiga adalah Surruriyyah itu sendiri yang berafiliasi kepada pemahaman Muhammad Surrur Bin Nayif Zainal Abidin (MSBNZA).

Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…
Pemahaman Quthbiyyah, IM dan Surruriyyah ibaratnya setali tiga uang. Masing-masing saling ada keterkaitan. Sehingga kalau kita berbicara tentang Surruriyyah, maka paling tidak akan menyinggung kelompok/ paham Quthbiyyah dan IM.

Ikhwwani fiddiin ‘azakumullah….
Perlu untuk kita pahami bersama bahwa sesungguhnya perbedaan yang terjadi, perbedaan yang ada antara dakwah Salafiyyah ASWJ dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah adalah bukan perbedaan yang disebut ikhtilaful afham –perbedaan penafsiran-. Akan tetapi perbedaan yang ada adalah ikhtilafut thodhar –perbedaan yang kontradiksi- perbedaan yang sangat mendasar, perbedaan ynag terkait dengan hubungan manhaj, perbedaan yang dilandasi dengan berbedanya ideologi. Ini perlu kita ingatkan dan ini perlu kita sampaikan kepada umat bahwa sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam hal manhaj, bukan perbedaan penafsiran. Kenapa kita katakan demikian??
Karena akhir-akhir ini da’i-da’i Surruriyyah menebarkan kerancuan terutama kehadapan orang-orang yang jahil dan orang-orang yang jarang duduk di majlis ilmu. Yaitu mereka (da’i-da’i surruriryyah-red) mengatakan bahwa, Read more »


Posted in Manhaj | No Comments »

“CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah

Written by Abu Sa'id on 10 February, 2010 – 09:10

بسم الله الرحمن الرحيم

-“Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah

dan

“CMM” Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah-

Semenjak beberapa hari terahir ini saya memang tidak banyak tahu dan melihat perkembangan dan informasi keagamaan yang disajikan di dunia maya .

Alangkah terkejutnya saya ketika diberitahu seseorang – Semoga Alloh Ta’ala menjaganya – bahwa ada sebuah tulisan yang menyinggung-nyinggung soal saya dan soal CMM, disebutkan bahwa saya nulis buku yang kemudian diterbitkan CMM

Semula saya tidak ingin menanggapinya karena hal tersebut sebelumnya sudah saya jelaskan saat ada yang menanyakannya. tetapi, ketika berita itu semakin menyebar dan akhirnya saya pun melihatnya sendiri , maka saya merasa perlu untuk meluruskan hal yang sebenarnya .

Saya berlindung kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala jika apa yang ingin saya jelaskan ini hanya sebagai pembelaan diri .

Akan banyak waktu terbuang sebetulnya menanggapi hal-hal yang seperti ini, juga hanya akan membuat Si penulisnya merasa dihargai dan besar diri .

Namun ,Si penulis nampaknya tidak merasa puas kalau tulisan miring dan berbau fitnah itu belum tersebar kemana mana , entah apa yang diinginkannya dari itu semua , bisa jadi hasad , bisa jadi tamak terhadap dunia , yang jelas simak syair-syair berikut ini :

Mata- mata pendengki mengintaimu sepanjang masa .

Coba menampakkan kesalahanmu, Sedang kebaikan disembunyikannya .

Para Pemuda menanam kedengkian ketika tidak mendapatkan keinginannya Jadilah semua kaum sebagai lawan dan tandingannya

Rambutku telah beruban, Namun rambut sitamak belum jua beruban .

Orang yang tamak terhadap dunia , sungguh dalam kepayahan .

Saya tegaskan , bahwa saya tidak pernah menulis seperempat buku pun yang kemudian diterbitkan oleh CMM , Apalagi kalau sebuah buku atau satu

buku seperti yang dituduhkan Al Bilaly (Abu Hanan Sabil Ar Rasyad Al Bilaly).

Al Bilaly tidak akan pernah bisa menyebutkan bukti kebenaran tuduhannya selain dari , satu artikel yang saya tulis “Aku Melawan Teroris” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlus Sunnah .

Saya kira kang Bilaly banyak termakan berita – berita yang disebar lewat surat kabar, persisnya ketika tulisan saya itu menjadi ramai diperbincangkan dan menjadi bahan diskusi – diskusi .

Dalam sebuah surat kabar tiba – tiba Tarmidzi Taher memberikan pernyataan ” Kurang lebih ada delapan kesalahan Imam Samudra dan pihaknya akan mengeluarkan sebuah buku bantahan “Aku Melawan Teroris” Sebuah kedustaan atas nama Ulama Ahlus Sunnah . Penulisnya sendiri adalah Al – Ustadz Abu Hamzah Yusuf ,dkk ” itulah kira-kira ungkapan Tarmidzi Taher

Kang Bilaly kelihatannya merasa cocok dengan berita ini – saya tidak tahu apa Al Bilaly membaca langsung berita ini atau dia mendengar hal itu dari orang lain, atau dia mendapatkan kiriman bukunya langsung dari CMM, tapi ini tidaklah penting, yang menarik adalah komentarnya, ”Saya bermesra-mesraan dengan JIL – CMM-“Pengikutnya JIL “…

Kang Bilaly tidak sendirian dalam tuduhan dan hujatan yang dilontarkan pada saya ini, tetapi diikuti juga oleh Abu Salma alias Abu Bur-han [Kang.. kalau di Bandung Burhan itu singkatan dari Bubur-Haneut].

Saya sendiri kaget ketika mendengar kabar berita pernyataan Tarmidzi Taher itu , hingga salah seorang ikhwan memperlihatkan surat kabarnya kepada saya .

Memang tidak lama buku yang dimaksud Tarmidzi Taher itu keluar, seorang ikhwanpun membawanya kehadapan saya dan setelah saya lihat barulah tahu bahwa isi buku itu adalah salinan dari majalah Asy Syari’ah edisi Teroris Berkedok Jihad dan disitulah saya menulis artikel dalam kajian utama dengan judul ” Aku Melawan Teroris ” Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlus Sunnah .

Jadi bukan saya yang sengaja mengirim tulisan itu langsung ke CMM kemudian mereka terbitkan, atau saya yang minta agar tulisan itu dibukukan, bagaimana mungkin saya lakukan hal ini sementara saya tahu siapa itu CMM, disamping itu tulisan yang diambil CMM pun bukan tulisan saya saja.

“Aku Melawan Teroris ” sebuah kedustaan atas nama Ulama Ahlus Sunnah, itulah judul yang tertulis disampul depan buku yang dimaksud oleh Tirmidzi Taher , isi buku itu sama persis seperti apa yang ada dalam majalah Asy Syari’ah tanpa dikurangi dan ditambahi , bahkan disalin juga tulian – tulisan dari beberapa asatidz yang mengisi rubrik manhaji, tafsir, dan hadits, karenanya disebutkan penulisnya adalah Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf dan kawan – kawan yang biasa dituliskan dkk.

Kang Bilaly dan Abu Bur-han lupa atau pura pura lupa, atau memang pelupa, atau memang bisa jadi tidak tahu apa-apa, sehingga hal yang seperti ini tidak diperhatikan, yang pada akhirnya dengan semangat mengesankan bahwa saya memang satu-satunya penulis buku itu dan berhubungan dengan penerbit CMM.

Majalah Asy Syari’ah tujuannya memang da’wah, Sehingga siapapun berhak membaca majalah tersebut dan mengambil faidah darinya, karenanya pihak redaksi memperbolehkan bagi siapapun dari pembaca untuk mengutip isi majalah tersebut sebagian atau seluruhnya dengan mencantumkan sumber dan penulisnya, makanya dalam buku terbitan CMM itu dituliskan majalah tersebut sebagai sumbernya

Repotnya pihak CMM yang menerbitkan tulisan – tulisan dimajalah tersebut kedalam bentuk buku, mereka komersilkan untuk kepentingan mereka.

Sejak pertama kemunculan buku itupun saya segera klarifikasi, Sebab pasti ada orang – orang yang memanfaatkan hal tersebut sebagai celah untuk menghasut saya dan para asatidz lainnya, buktinya memang ada dua tokoh “pendekar standar ganda”yang diperankan oleh Al Bilaly dan Abu Bur-han menjadi korbannya .

Saya dan beberapa ikhwan berusaha untuk dapat menghubungi pihak CMM tetapi tidak pernah berhasil dan nampaknya tidak digubris .

CMM adalah CMM, dan saya setuju dengan pernyataan “pendekar standar ganda”itu bahwa mereka adalah corongnya JIL di Indonesia dan yang berhaluan “Liberal”.

Darimana kemudian saya dikatakan bermesra-mesra dengan JIL atau bahkan pengikutnya??, lain kali dan kali lain-lain hati-hati kang…

moderate

Perkataan itu bak susu sapi yang telah diperas dari teteknya

Tidak mungkin dapat dikembalikan lagi kedalamnya

Bagaimana mungkin seseorang dapat mengembalikan susu sapi yang telah

diperas dari teteknya

Seperti itulah perkataan tak dapat dikembalikan ke tempat asalnya

Saya berlepas diri dari CMM dan apa yang ada didalamnya. Adapun kedua pendekar “standar ganda” itu mereka majhul disisi saya, entah pengikut aliran mana, beda dengan Abu Qatadah yang sok dibela-belanya itu, saya pergi ke Yaman bareng pulang bareng , ngajar di Pondok pernah bareng, keadaannya sudah wadhih, saya tidak ingin mengupasnya lagi, tulisan ini akan terlalu panjang bila mengupasnya.

Dua Pendekar “standar ganda” itu mungkin merasa girang dan menang ketika saya tidak menanggapi tuduhannya, sebagian ikhwanpun mendesak untuk segera meluruskan persoalan yang sebenarnya.

Tidak ada yang membuat saya tidak semangat untuk membalasnya melainkan saya teringgat bait – bait syair dari Salim bin Maimun Al Khowash :

فخير من اجابته السكوتُ

عييت عن الجواب وماعييت

قذ ًًى فى جوف عيني ما قذيت

خزيت لمن يجافيه خزيت

اذا نطق السفيه فلا تجبْه

سكتّ عن السفيه فظنّ أني

شرارالناس لوكانوا جميعا

فلست مجاوبا أبدًا سفيهًا

Jika Pembaca ingin tahu arti dari syair ini tanyakan saja pada pendekar “standar ganda”itu, Kang Bilaly dan Abu Bur-han, mudah mudahan mereka ngerti tapi hati hati dari tahrif dan ta’wilnya seperti yang terjadi di atas.

Bandung Raya, 20 Desember 2006

Yang selalu mengharap ampunan Rabbnya

Abu Hamzah Yusuf Al-atsary

Note:
Kami berlepas diri dari CMM berkaitan dengan buku tersebut:
http://www.cmm.or.id/cmm-ind.php?id=C0_19_3

Judul : Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama Ahlussunnah
Penulis : Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary
Cetakan I : Juli 2005
Penerbit : Center for Moderate Muslim
Tebal : 122 halaman


Posted in Manhaj | No Comments »

Islam is “Take It” and “Leave It”

Written by Abu Sa'id on 8 February, 2010 – 16:29

Penulis: Ust. Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
[Buletin Al Wala-Wal Bara, 17 Jan 2003/13-DzulQo'dah-1423]

Manusia membutuhkan syariat dalam mengarungi kehidupan dunia, sebab yang namanya manusia sudah tentu akan melakukan gerak yang dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Sedangkan syariat yang akan membedakan mana yang akan menghasilkan kemaslahatan dan mana yang menjerumuskan ke dalam kemudharatan. Itulah keadilan Allah pada makhluqnya, cahaya-Nya di tengah-tengah hambanya. Tidak mungkin Bani Adam akan hidup tanpa ada syariat yang mengarahkan kepada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Allah berfirman, “…Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl : 44). “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al Maidah : 15-16). Allah juga berfirman, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy Syura : 52)
Itulah Islam, Islam adalah perintah untuk beribadah kepada Allah dan melepaskan peribadahan-peribadahan kepada selainnya. Islam adalah perintah untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dan menjauhi larangannya. Islam adalah pengagungan terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, yang dengan itu semua manusia diatur kehidupannya sesuai dengan kehendak Sang Pencipta dan pengatur alam jagad raya ini. Yang dengan itu semua manusia dimulyakan atas makhluq-makhluq ciptaan lainnya.
Islam bukanlah seperti yang difilm-kan oleh Si Boy atau yang digambarkan oleh seorang cow-boy, bukan pula seperti yang dicita-citakan oleh seorang sinting Ulil Abshar Abdala (Koordinator Jaringan Iblis Liberal), yang mengatakan bahwa Islam yang disuguhkan dengan cara “take it” or “leave it” itu membahayakan kemajuan Umat Islam.

take it and leave it

Pernyataan yang ngaco, yang penulis kira dia bukan seorang muslim. Bagaimana tidak, dengan pernyataan itu dia menginginkan Umat Islam bebas dari syariat yang memerintah dan melarang. Tidak ada manfaatnya ketaatan dan tidak akan membahayakan kemaksiatan-kemaksiatan. Tak ada bedanya orang yang beribadah dan yang bermaksiat. Tak ada gunanya amalan-amalan shalih. Tak ada bedanya antara yang haq dan yang batil. Tidak ada prinsip Al Wala’ wal Bara’, bahkan tidak ada bedanya antara Islam dan kafir. Jelas ini adalah penghinaan terhadap syariat Allah dan penghinaan terhadap Umat Islam yang menurut dia -dengan pernyataanya itu- Umat Islam harus seperti binatang yang hidup bebas tanpa batasan norma-norma kemanusiaan. Kalau bagi dia wajar, karena dia memang seekor binatang. Tetapi kita, kita adalah Umat Islam yang dimuliakan dengan Islam -seperti pernyataan sahabat Umar ibnul Khaththab-.
Sesungguhnya tidak ada istimewanya tulisan dan pernyataan Ulil Abshar sehingga penulis harus menghabiskan waktu untuk membantahnya, karena isinya hanya sampah dan kotoran-kotoran najis yang wajib setiap Muslim untuk menjauhinya. Penulis hanya ingin mengingatkan para pembaca -Kaum Muslimin- dengan firman Allah, “…Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS Al Maidah : 49)
Hanya dengan kembali kepada agama-Nya, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, mematuhi segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya Umat Islam akan maju dan mulia, sebagaimana pernyataan Nabi, “Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Semua perintah maupun larangan Allah dan Rasul-Nya adalah sesuai dengan fitrah manusia, mengarahkan Umat Islam kepada sesuatu yang bermaslahat dan menjauhkan dari sesuatu yang mudharat, di antara yang menunjukkan hal itu:
Pertama: Allah memerintahkan untuk memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar…” (QS Ali Imran : 110).
Kedua: Allah memerintahkan untuk ta’awun (tolong menolong) dalam hal kebaikan dan melarang dari ta’awun dalam hal dosa dan maksiat: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS Al Maidah : 2).
Ketiga: Allah memerintahkan untuk menjadi para penegak keadilan: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…” (QS An Nisa : 135).
Keempat: Rasulullah memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang dari berdusta: “Hendaklah kalian jujur karena kejujuran menghantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menghantarkan ke surga. Dan janganlah kalian berdusta karena kedustaan akan menghantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan menghantarkan ke neraka.” (HR. Bukhori Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Kelima: Rasulullah melarang dari berburuk sangka: “Janganlah kalian berprasangka buruk karena ia adalah perkataan yang paling dusta.” (HR Bukhori Muslim dari Abu Hurairah)
Keenam: Rasulullah memerintahkan untuk menyebarkan nasihat: “Agama itu nasihat” -diulangi tiga kali-, kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, Rasul-Nya dan bagi para pemimpin muslimin dan Kaum Muslimin umumnya.” (HR. Muslim dari Abi Ruqoyah Tamim Ad Dari)
Akhirnya sekali lagi penulis mengingatkan kepada para pembaca -Kaum Muslimin- bahwa sekarang ini telah muncul orang-orang yang berhati syaitan tetapi bertubuh manusia seperti yang digambarkan Rasulullah dalam Shahih Bukhori, hendaknya berhati-hati dan waspada terhadap mereka. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan Kaum Muslimin di manapun berada, Amin ya Mujibas saailiin.


Posted in Manhaj | 2 Comments »