<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ma&#039;had Adhwa&#039;us Salaf Bandung &#187; Fiqih</title>
	<atom:link href="http://adhwaus-salaf.or.id/category/fiqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adhwaus-salaf.or.id</link>
	<description>- Menuju Masyarakat Islami di atas Al Quran dan As Sunnah -</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 21:30:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Keutamaan Berpuasa di Bulan Muharram</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/05/keutamaan-berpuasa-di-bulan-muharram/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/05/keutamaan-berpuasa-di-bulan-muharram/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 03:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[Bulan muharram, merupakan salah satu bulan yang dimuliakan didalam islam. Sebelum diwajibkan berpuasa pada bulan ramadhan, tanggal 10 muharram atau yang disebut hari Asyura&#8217; merupakan puasa yang diwajibkan bagi kaum muslimin. Berkata Aisyah radhiallahu anha: كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/05/keutamaan-berpuasa-di-bulan-muharram/image25/" rel="attachment wp-att-835"><img class="alignleft size-full wp-image-835" title="image25" src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2011/12/image25.jpg" alt="" width="300" height="169" /></a>Bulan muharram, merupakan salah satu bulan yang dimuliakan didalam islam. Sebelum diwajibkan berpuasa pada bulan ramadhan, tanggal 10 muharram atau yang disebut hari Asyura&#8217; merupakan puasa yang diwajibkan bagi kaum muslimin.</p>
<p><span id="more-834"></span></p>
<p>Berkata Aisyah radhiallahu anha:</p>
<p><strong>كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ ، فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ</strong></p>
<p><em>&#8220;hari Asyura&#8217; adalah puasa yang dilakukan kaum Qurays pada masa jahiliyyah,dan Nabi Shallallahu alaihi wa-aalihi wasallam berpuasa.Tatkala Beliau tiba di Madinah beliau tetap berpuasa, dan Beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.Maka tatkala turun (kewajiban puasa) ramadhan, maka ramadhan menjadi wajib, dan ditinggalkan (kewajiban) puasa Asyura&#8217;, maka siapa yang ingin silahkan dia berpuasa, dan siapa yang ingin boleh untuk tidak berpuasa.&#8221;</em> <strong>(Muttafaq alaihi)</strong></p>
<p>Dan dari Abu Musa Al-Asy&#8217;ari radhiallahu anhu bahwa Beliau berkata:</p>
<p>&#8220;haru Asyura&#8217; adalah merupakan hari yang bangsa Yahudi menganggap itu sebagai hari raya. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>« </strong><strong>فَصُومُوهُ أَنْتُمْ</strong><strong> </strong><strong>»</strong></p>
<p><em>&#8220;berpuasalah kalian padanya.&#8221; </em><strong>(HR. Bukhari: 2005)</strong></p>
<p>Secara umum, berpuasa pada bulan muharram merupakan amalan yang disunnahkan oleh Nabi kita Shallallahu Alaihi wasallam, pada waktu dan tanggal yang mana saja dibulan muharram, dianjurkan berpuasa. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>« </strong><strong>أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ</strong><strong> </strong><strong>»</strong></p>
<p><em>&#8220;Puasa yang paling afdhal setelah ramadhan adalah puasa dibulan Allah &#8220;Muharram&#8221;, dan shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat lail&#8221;. </em><strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa bulan muharram secara umum, disunnahkan untuk berpuasa dihari yang mana saja, tanpa tertentu waktu dan tanggalnya.Namun lebih dianjurkan dan ditekankan berpuasa pada tanggal 10 muharram, yang disebut hari Asyura&#8217;. disebut Asyura&#8217; dari kata &#8216;aasyirah, yang berarti malam kesepuluh. Lalu kemudian menjadi satu nama bagi hari kesepuluh tersebut. Meskipun terjadi silang pendapat dikalangan para ulama tentang apa yang dimaksud hari asyura&#8217;, namun mayoritas para ulama menetapkan bahwa yang dimaksud adalah hari kesepuluh dibulan muharram.</p>
<p><strong>(Fathul bari, Ibnu Hajar:</strong><strong> </strong><strong>6/280, maktabah syamilah).</strong></p>
<p>Dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam ditanya tentang berpuasa asyura&#8217;, maka Beliau menjawab:</p>
<p><strong>« </strong><strong>يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ</strong><strong> </strong><strong>»</strong><br />
<em>&#8220;</em><em>M</em><em>enghapus kesalahan setahun yang lalu.&#8221;</em><em> </em><strong>(HR. Muslim: 2804)</strong></p>
<p>Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Berpuasa pada hari Asyura&#8217; , aku berharap Allah Azza wajalla menghapus kesalahan setahun yang lalu.&#8221; </em><strong>(HR.Muslim)</strong></p>
<p>Sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam senantiasa menjaga untuk memelihara puasanya pada hari Asyura&#8217;, dan Beliau berusaha untuk tidak meninggalkannya. Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma:</p>
<p><strong>مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ . يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wasallam menjaga satu puasa yang Beliau lebih mengutamakan diatas yang lainnya, kecuali hari ini yaitu hari Asyura&#8217;, dan bulan ini yaitu bulan ramadhan.&#8221;</em> <strong>(Muttafaq alaihi)</strong></p>
<p>Demikian pula pada tanggal Sembilan dari bulan muharram ditekankan pula untuk berpuasa padanya, berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata:</p>
<p><strong>لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع</strong></p>
<p><em>&#8220;Jika aku masih hidup dimasa mendatang,aku akan berpuasa pada hari kesembilan.&#8221;</em> <strong>(HR. Muslim:1134)</strong></p>
<p>Dalam riwayat lain dengan lafazh:</p>
<p><strong>إن عشت إن شاء الله إلى قابل صمت التاسع مخافة أن يفوتني يوم عاشوراء</strong></p>
<p><em>&#8220;Jika aku insya Allah masih hidup dimasa mendatang, aku akan berpuasa pada hari kesembilan, karena khawatir aku tertinggal berpuasa pada hari asyura&#8217;.&#8221;</em></p>
<p><strong>(HR. Thabarani dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma,dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 350)</strong></p>
<p>Sebagian juga ada yang menyebutkan anjuran berpuasa pada tanggal sebelas, berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa RAsulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>« </strong><strong>صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً</strong><strong> </strong><strong>»</strong></p>
<p>&#8220;Berpuasalah pada hri asyura&#8217;,dan selisihilah bangsa yahudi, berpuasalah sebelumnya satu hari dan setelahnya satu hari.&#8221;</p>
<p>(HR.Ahmad (5/217),Ibnu Khuzaimah (3039),Al-Baihaqi (2/443)</p>
<p>Namun hadits ini sanadnya lemah,dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila Al-Anshari, dia sangat buruk hafalannya. Demikian pula Dawud bin Ali Al-Qurasyi Al-Hasyimi, terdapat kelemahan padanya. Sehingga hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:</p>
<p>وَعَلَى هَذَا فَصِيَام عَاشُورَاء عَلَى ثَلَاث مَرَاتِب : أَدْنَاهَا أَنْ يُصَامَ وَحْدَهُ ، وَفَوْقَهُ أَنْ يُصَام التَّاسِعُ مَعَهُ ، وَفَوْقَهُ أَنْ يُصَامَ التَّاسِعُ وَالْحَادِي عَشَرَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ</p>
<p>Berdasarkan hal ini maka berpuasa hari asyura&#8217; ada tiga tingkatan: yang terendah adalah berpuasa hanya pada hari kesepuluh, kemudian diatasnya adalah berpuasa pada hari kesembilan bersamanya,dan diatasnya adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesebelas, wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>(fathul bari:6/280)</p>
<p>Namun sebagaimana yang telah kita jelaskan, bahwa hadits yang menyebutkan sehari setelahnya adalah hadits yang lemah.Namun tetap dibolehkan berpuasa pada hari tersebut berdasarkan keumuman hadits tentang anjuran berpuasa pada bulan muharram.</p>
<p>Hanya saja, puasa muharram sama seperti puasa sunnah lainnya, yang tidak diperbolehkan menyendirikan satu puasa pada hari jum&#8217;at, namun hendaknya dibarengi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam bersabda:</p>
<p>« لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إِلاَّ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ »</p>
<p><em>&#8220;</em><em>J</em><em>angan sekali-kali salah seorang kalian berpuasa pada hari jum&#8217;at,kecuali jika dia berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya.&#8221;</em></p>
<p><strong>(HR.</strong><strong> </strong><strong>Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)</strong></p>
<p>Kecuali puasa Dawud Alaihis salaam, karena adanya riwayat-riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa yang paling utama. <strong><em>Wallahul Muwaffiq.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al Ustadz Abu Karimah Askary</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/12/05/keutamaan-berpuasa-di-bulan-muharram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengusap Wajah setelah Sholat dan Berdo&#8217;a</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/20/hukum-mengusap-wajah-setelah-sholat-dan-berdoa/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/20/hukum-mengusap-wajah-setelah-sholat-dan-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengusap wajah]]></category>
		<category><![CDATA[mengusap wajah setelah sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Setelah salam (akhir sholat) dan selesai berdo&#8217;a kebanyakan orang menyapu muka. Apakah menyapu muka itu diajarkan Rosulullah? Apa dalilnya? Ahmad Jazuli (dc_bj***@yahoo.com) Jawab: Wa &#8216;alaikumussalaam warahmatullahi wabarokatuh. Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo&#8217;a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarokatuh.</strong></p>
<p><strong>Setelah salam (akhir sholat) dan selesai berdo&#8217;a kebanyakan orang menyapu muka. Apakah menyapu muka itu diajarkan Rosulullah? Apa dalilnya?</strong></p>
<p><strong>Ahmad Jazuli (dc_bj***@yahoo.com)</strong></p>
<p><strong>Jawab: Wa &#8216;alaikumussalaam warahmatullahi wabarokatuh.</strong></p>
<p><strong>Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo&#8217;a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak bisa dijadikan sandaran, di antara hadits-hadits itu:</strong></p>
<p><strong>1. Hadits Umar, &#8220;Adalah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo&#8217;a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.&#8221; Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma&#8217;in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho&#8217;iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho&#8217;ifkan pula oleh Ad Daruquthni.<span id="more-157"></span></strong></p>
<p>2. Hadits dari Saib bin Yazid dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila berdo&#8217;a beliau mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan keduanya.&#8221; Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya no. 1492. Di dalam sanad haditsnya ada rawi yang bernama Hafs bin Hasyim keadaannya majhul (tidak diketahui) dan ada Ibnu Lahi&#8217;ah yang dho&#8217;if.</p>
<p>3. Hadits Ibnu Abbas, &#8220;Apabila kamu telah selesai berdo&#8217;a, maka usaplah wajahmu dengan keduanya (kedua tangan).&#8221; Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi pada sanadnya ada rawi yang bernama Sholeh bin Hasan, munkarul hadits seperti kata Al Bukhori. Adapun An Nasa`i beliau mengatakan tentangnya, &#8220;Matrukul hadits.&#8221;</p>
<p>Dari uraian di atas maka jelaslah hadits-hadits dalam masalah ini sangat lemah. Meski banyak, hadits-hadits itu tidaklah saling menguatkan karena kedho&#8217;ifannya yang sangat. Untuk lebih terperincinya lihat Irwa`ul Ghalil: 2/ 178-179.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, &#8220;Seorang yang berdo&#8217;a tidak boleh mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, karena mengusapnya dengan kedua tangan adalah ibadah, butuh kepada dalil yang shohih yang menjadi hujjah bagi seseorang di sisi Allah bila ia mengamalkannya. Adapun hadits dho&#8217;if, maka tidaklah kokoh untuk dijadikan hujjah.&#8221; (Dari Syarhul Mumthi: 4/54). Wal &#8216;ilmu &#8216;indallah.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.</strong></p>
<p><strong>SUMBER :  Buletin Al Wala&#8217; Wal Bara&#8217; <span>Edisi ke-41 Tahun ke-2 / 03 September 2004 M / 18 Rajab 1425 H</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/20/hukum-mengusap-wajah-setelah-sholat-dan-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sunnah-sunnah dalam Shalat</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/24/mengenal-sunnah-sunnah-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/24/mengenal-sunnah-sunnah-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 21:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[doa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnahnya dalam shalat]]></category>
		<category><![CDATA[yang sunnah dalam shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Sunnah-Sunnah Shalat Penulis Buletin Al-Wala wal Bara Bandung Diantara sunnah-sunnah shalat adalah 1. Do&#8217;a Istiftaah 2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala berdiri sebelum ruku&#8217; 3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku&#8217;, bangkit dari ruku&#8217;, dan ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sunnah-Sunnah Shalat</strong></p>
<p><strong>Penulis Buletin Al-Wala wal Bara Bandung</strong><br />
<strong><br />
<img class="alignleft" title="sunnah dalam shalat" src="http://rifafreedom.files.wordpress.com/2008/09/mesjid-al-karomah-martapura-banjar.jpg" alt="" width="215" height="163" />Diantara sunnah-sunnah shalat adalah</strong><br />
1. Do&#8217;a Istiftaah<br />
2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala berdiri sebelum ruku&#8217;<br />
3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku&#8217;, bangkit dari ruku&#8217;, dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka&#8217;at ketiga<br />
4. Tambahan dari sekali tasbih dalam tasbih ruku&#8217; dan sujud<br />
5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku&#8217;<br />
6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah (yaitu bacaan Rabbighfirlii) Diantara dua sujud<br />
7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku&#8217;<br />
8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud<br />
9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud<br />
10. Duduk iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan Diantara dua sujud.<br />
11. Duduk tawarruk (duduk pada lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka&#8217;at<br />
12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud<span id="more-123"></span><br />
13. Mendo&#8217;akan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim &#8216;alaihis salam dan keluarga beliau pada tasyahhud awal<br />
14. Berdo&#8217;a pada tasyahhud akhir<br />
15. Mengeraskan (jahr) bacaan pada shalat Fajar (Shubuh), Jum&#8217;at, Dua Hari Raya, Istisqaa` (minta hujan), dan pada dua raka&#8217;at pertama shalat Maghrib dan &#8216;Isya`<br />
16. Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, &#8216;Ashar, pada raka&#8217;at ketiga shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat &#8216;Isya`<br />
17. Membaca lebih dari surat Al-Fatihah.<br />
Demikian juga kita harus memperhatikan apa-apa yang tersebut dalam riwayat tentang sunnah-sunnah selain yang telah kami sebutkan. Misalnya, tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku&#8217; untuk imam, makmum, dan yang shalat sendiri, karena hal itu termasuk sunnah. Meletakkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka (tidak rapat) pada dua lulut ketika ruku&#8217; juga termasuk sunnah.<br />
<strong><br />
Penjelasan Sunnah-sunnah Shalat</strong><br />
Ketahuilah bahwa sunnah-sunnah shalat itu ada dua macam:<br />
1. Sunnah-sunnah perkataan<br />
2. Sunnah-sunnah perbuatan</p>
<p>Sunnah-sunnah ini tidak wajib dilakukan oleh orang yang shalat, tetapi jika ia melakukan semuanya atau sebagiannya maka ia akan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang meninggalkan semuanya atau sebagiannya maka tidak ada dosa baginya, sebagaimana pembicaraan tentang sunnah-sunnah yang lain (selain sunnah shalat). Namun seharusnya bagi seorang mukmin untuk melakukannya sambil mengingat sabda Al-Mushthafa shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,<br />
&#8220;Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafaa` Ar-Raasyidiin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.&#8221; (HR. At-Tirmidziy dari Al-&#8217;Irbadh bin Sariyah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p><strong>Sunnah-sunnah dalam Shalat itu sebagai berikut:</strong></p>
<p>1. Doa Istiftaah<br />
Dinamakan do&#8217;a Istiftaah karena shalat dibuka dengannya.<br />
Diantara doa istiftaah:</p>
<p>سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ<br />
&#8220;Maha Suci Engkau Ya Allah dan Maha Terpuji, Maha Berkah Nama-Mu, Maha Tinggi Kemuliaan-Mu, dan tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Engkau.&#8221;<br />
Makna Subhaanakallaahumma, &#8220;Saya mensucikan-Mu dengan pensucian yang layak bagi Kemuliaan-Mu, Ya Allah.&#8221;<br />
Wabihamdika, ada yang mengatakan maknanya, &#8220;Saya mengumpulkan tasbih dan pujian bagi-Mu.&#8221;<br />
Watabaarakasmuka, maknanya, &#8220;Berkah dapat tercapai dengan menyebut-Mu.&#8221;<br />
Wata&#8217;aalaa jadduka, maknanya, &#8220;Maha Mulia Keagungan-Mu.&#8221;<br />
Wa laa ilaaha ghairuka, maknanya, &#8220;Tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) di bumi maupun di langit selain-Mu.&#8221;<br />
Boleh membaca do&#8217;a istiftaah dengan do&#8217;a yang mana saja yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Mustahab (termasuk sunnah) jika seorang muslim melakukan doa istiftaah kadang dengan do&#8217;a yang ini, kadang dengan do&#8217;a yang itu, agar dia tergolong orang yang melakukan sunnah keseluruhannya (dalam masalah ini).<br />
Diantara do&#8217;a-do&#8217;a istiftaah yang tersebut dalam riwayat adalah</p>
<p>اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ<br />
&#8220;Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dengan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, es dan embun.&#8221;</p>
<p><strong>2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada saat berdiri sebelum ruku&#8217;</strong><br />
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Wa`il bin Hujr radhiyallahu &#8216;anhu,<br />
&#8220;Lalu Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meletakkan tangan yang kanan di atas tangan yang kiri.&#8221; (HR. Al-Imam Ahmad dan Muslim)<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda,<br />
إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيْلِ فِطْرِنَا وَتَأْخِيْرِ سُحُوْرِنَا وَأَنْ نَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِي الصَّلاَةِ<br />
&#8220;Sesungguhnya kami, kalangan para Nabi, telah diperintahkan untuk menyegerakan buka puasa kami, mengakhirkan sahur kami, serta agar kami meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri dalam shalat.&#8221; (HR. Abu Dawud dengan sanad yang hasan dari Thawus secara mursal)</p>
<p>Dan masih ada lagi selain cara di atas sebagaimana di terangkan dalam berbagai riwayat. Namun dalam hal ini, pendapat yang terpilih dan rajih adalah meletakkan tangan di atas dada (yaitu tepat di dada, bukan di atas dada mendekati leher), atau yang mendekati dada yaitu di sekitar hati, wallaahu a&#8217;lam.<br />
Asy-Syaikh Al-Albaniy menjelaskan bahwa meletakkan kedua tangan di dada inilah yang shahih di dalam sunnah, adapun selain itu riwayatnya dha&#8217;if atau laa ashla lahu (tidak ada asalnya), lihat kitab beliau Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (bersambung insya Allah). Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>Pada edisi yang lalu telah dijelaskan do&#8217;a istiftaah dan meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri pada dada saat berdiri sebelum ruku&#8217;, sekarang akan dilanjutkan dengan sunnah-sunnah yang lainnya, yaitu:</p>
<p><strong>3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jarinya yang rapat terbuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku&#8217;, bangkit dari ruku&#8217; dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka&#8217;at ketiga</strong></p>
<p>Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang rapat terbuka /tidak terkepal (dan tentunya menghadap ke kiblat).<br />
Juga berdasarkan hadits Abu Humaid radhiyallahu &#8216;anhu, &#8220;Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan setinggi kedua bahunya.&#8221; (HR. Abu Dawud)<br />
Dan hadits Malik bin Huwairits, &#8220;Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga setinggi ujung kedua telinganya.&#8221; (Muttafaqun &#8216;alaih)<br />
Mengangkat kedua tangan adalah isyarat membuka hijab antara seorang hamba dengan Rabbnya, sebagaimana telunjuk mengisyaratkan ke-Esaan Allah &#8216;azza wa jalla.<br />
Pada Hadits &#8216;Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, jika beliau berdiri untuk shalat wajib maka beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan beliau setinggi kedua bahunya. Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melakukan seperti itu apabila telah selesai dari bacaannya dan hendak ruku&#8217;, demikian pula setelah mengangkat kepala dari ruku&#8217;. Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengangkat tangannya sama sekali ketika duduk di dalam shalat. Apabila telah berdiri selesai melakukan dua sujud (maksudnya adalah dua raka&#8217;at), maka beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kembali mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidziy menshahihkannya).</p>
<p><strong>4. Tambahan dari sekali dalam tasbih ruku&#8217; dan sujud</strong><br />
Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu &#8216;anhu bahwa ia mendengarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkan tatkala ruku&#8217;, Subhaana rabbiyal &#8216;azhiim, sedangkan tatkala sujud, Subhaana rabbiyal a&#8217;laa. (HR. Abu Dawud)<br />
Boleh juga ditambah dengan wabihamdih. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)<br />
Yang wajib adalah satu kali, sedangkan batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali dan maksimalnya sepuluh kali (bagi imam). Sebagaimana dikatakan oleh para &#8216;ulama, &#8220;Bagi imam, batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali dan maksimalnya sepuluh kali.&#8221;<br />
Boleh juga do&#8217;a yang lain seperti dalam hadits Abu Hurairah, bahwa di dalam sujudnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkan,</p>
<p>اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ وَدِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَأَخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ<br />
&#8220;Ya Allah, ampunilah bagiku dosaku semuanya, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, serta yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.&#8221; (HR. Muslim)<br />
Atau memilih do&#8217;a yang lain, lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu &#8216;alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Albaniy.<br />
Jika mau maka boleh berdo&#8217;a (dengan bahasa Arab) ketika sujud, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,<br />
&#8220;Adapun ketika sujud, maka perbanyaklah do&#8217;a padanya, sebab sangat pantas dikabulkan bagi kalian (dengan keadaan seperti itu).&#8221; (HR. Muslim)<br />
Ketahuilah bahwa tidak boleh membaca ayat atau surat Al-Qur`an saat ruku&#8217; dan sujud karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarangnya!! (HR. Muslim)</p>
<p><strong>5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku&#8217;</strong><br />
Seperti menambahkan,</p>
<p>مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ<br />
&#8220;Sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh semua yang Engkau kehendaki selain itu.&#8221; (HR. Muslim)<br />
Jika mau maka boleh menambahkan lagi,</p>
<p>أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ<br />
وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ<br />
&#8220;Pemilik pujian dan kemuliaan yang paling pantas untuk dikatakan oleh seorang hamba, semua kami hamba-Mu, Ya Allah, tidak ada penghalang terhadap apa yang Engkau berikan, tidak ada pemberi terhadap apa yang Engkau tahan, dan tidak dapat memberi manfaat selain daripada-Mu.&#8221; (HR. Muslim, Abu Dawud dan Abu &#8216;Awanah)<br />
Boleh juga tanpa wawu Rabbanaa lakal hamdu. (Muttafaqun &#8216;alaih)<br />
Boleh mengucapkan do&#8217;a yang lain yang disebutkan dalam berbagai riwayat, lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah di antara dua sujud</strong><br />
Yang wajib adalah satu kali sesuai riwayat Hudzaifah bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkan di antara dua sujud, Rabbighfirlii (Rabbku ampunkanlah aku!). (HR. An Nasa`iy dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku&#8217;</strong><br />
Berdasarkan hadits &#8216;A`isyah, &#8220;Jika ruku&#8217;, maka beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak meninggikan kepalanya dan tidak pula menurunkannya, akan tetapi di antara itu.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p><strong>8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud</strong><br />
<strong><br />
9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud</strong><br />
Berdasarkan hadits tentang sifat shalat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak merapatkan kedua siku ke lantai. (HR. Al Bukhariy dan Abu Dawud)<br />
Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengangkat kedua sikunya dari lantai dan menjauhkannya dari dua sisinya sehingga tampak putih ketiaknya dari belakang. (Muttafaqun &#8216;alaih)</p>
<p><strong>10. Duduk Iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan di antara dua sujud</strong><br />
Berdasarkan hadits riwayat &#8216;A`isyah bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjadikan alas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. (HR. Muslim)<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab berkata, &#8220;Lalu duduk iftirasy untuk bertasyahhud, meletakkan kedua tangan di atas paha dengan jari-jari tangan kiri dibentangkan dan rapat menghadap Kiblat, sedangkan pada tangan kanannya maka anak jari dan jari manis dikepal, serta jari tengah dilingkarkan dengan ibu jari, lalu bertasyahhud dengan sirr, sementara telunjuk memberi isyarat tauhid.&#8221;</p>
<p><strong>11. Duduk tawarruk (duduk dengan pantat menyentuh lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka&#8217;at</strong><br />
Abu Humaid As-Sa&#8217;idiy berkata, &#8220;Jika beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam duduk pada raka&#8217;at terakhir maka beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan yang lain (kanan) serta duduk dengan pantat menyentuh lantai.&#8221; (HR. Al-Bukhariy 2/828)<br />
Dan dalam hadits Rifa&#8217;ah bin Rafi&#8217; dijelaskan, &#8220;Lalu jika kamu telah duduk di pertengahan (akan selesainya) shalat maka thuma&#8217;ninahlah, rapatkan ke lantai paha kirimu lalu bertasyahhud.&#8221; (HR. Abu Dawud no.860)</p>
<p><strong>12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud<br />
</strong><br />
<strong>13. Mendo&#8217;akan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim &#8216;alaihis sallam dan keluarga beliau pada tasyahhud awal</p>
<p>14. Berdo&#8217;a pada tasyahhud akhir</strong><br />
Berdasarkan hadits, &#8220;Lalu hendaklah ia memilih do&#8217;a yang dia suka.&#8221;<br />
Banyak do&#8217;a-do&#8217;a setelah tasyahhud yang terdapat dalam berbagai riwayat, silahkan meruju&#8217; kitab Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>15. Menjahrkan (mengeraskan) bacaan pada shalat Fajr, Jum&#8217;at, Dua Hari Raya, Istisqaa` (minta hujan) dan pada dua raka&#8217;at pertama shalat Maghrib dan &#8216;Isya`</strong></p>
<p><strong>16. Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, &#8216;Ashar, pada raka&#8217;at ketiga shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat &#8216;Isya`</strong><br />
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, &#8220;Telah disepakati akan mustahab-nya menjahrkan bacaan pada tempat-tempat jahr dan mensirrkan pada tempat-tempat sirr, serta kaum muslimin tidak berselisih pendapat tentang tempat-tempatnya. Atas dasar perbuatan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang jelas pada penukilan &#8216;ulama khalaf dari &#8216;ulama salaf.&#8221;</p>
<p><strong>17. Membaca lebih dari Al-Fatihah</strong><br />
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, &#8220;Membaca surat setelah Al-Fatihah adalah disunnahkan pada dua raka&#8217;at (awal) dari semua shalat, kita tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.&#8221;</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>Sunnah-sunnah yang lain dalam Shalat</strong></p>
<p>Termasuk sunnah, yaitu imam menjahrkan takbirnya dan pada saat mengucapkan tasmii&#8217; (sami&#8217;allaahu liman hamidah), sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Jika imam takbir maka bertakbirlah kalian.&#8221;<br />
Juga sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Jika imam mengucapkan Sami&#8217;allaahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Rabbanaa walakal hamdu.&#8221; (Muttafaqun &#8216;alaih)<br />
Adapun makmum dan orang yang shalat sendiri, maka mereka mensirrkan kedua ucapan tersebut.<br />
Disunnahkan mengucapkan ta&#8217;awwudz secara sirr, dengan mengucapkan A&#8217;uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, atau A&#8217;uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wanafkhihi wanaftsih (aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk, dari semburannya, kesombongannya dan hembusannya). Lalu membaca basmalah dengan sirr (pelan), basmalah tidak termasuk Al-Fatihah, tidak pula surat-surat lainnya (kecuali pada surat An-Naml ayat 30, pent), namun basmalah merupakan satu ayat tersendiri yang berada di awal tiap surat kecuali At-Taubah.</p>
<p>Disunnahkan menulis basmalah di awal tiap kitab sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Sulaiman dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, serta hendaklah diucapkan di tiap permulaan suatu pekerjaan, sebab ia dapat mengusir syaithan.<br />
Ketika membaca Al-Fatihah disunnahkan untuk berhenti pada tiap ayat sebagaimana cara Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membacanya, lalu mengucapkan aamiin (Ya Allah, kabulkanlah!) setelah diam sejenak agar diketahui bahwa kata aamiin bukan dari Al-Qur`an. Tidak boleh mengucapkan Rabighfirlii sebelum aamiin, karena tidak ada dalilnya. Imam dan makmum menjahrkan aamiin secara bersamaan pada shalat jahr, setelah itu disunnahkan bagi imam untuk diam sejenak pada shalat jahr berdasarkan hadits Samurah.</p>
<p>Disunnahkan membaca satu surat secara utuh setelah Al-Fatihah (dari awal sampai akhir ayat dalam satu surat) walaupun boleh hanya membaca satu ayat, yang menurut Al-Imam Ahmad mustahab (sunnah/disukai) satu ayat tersebut panjang. Adapun di luar shalat, maka membaca basmalah boleh dengan jahr atau sirr.</p>
<p>Hendaklah surat yang dibaca pada shalat Fajr (Shubuh), surat yang termasuk dalam Thiwaal Al-Mufashshal (surat-surat panjang dari mufashshal), berdasarkan ucapan Aus, &#8220;Saya telah menanyakan kepada para shahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bagaimana kalian membagi Al-Qur`an?&#8221; Maka masing-masing mereka berkata, &#8220;Tiga bagian, lima, tujuh, sembilan, sebelas dan tiga belas, ditambah satu bagian Al-Mufashshal (yang dimulai dari surat Qaaf hingga An-Naas).&#8221;<br />
Kemudian pada shalat Maghrib membaca Qishaar Al-Mufashshal (surat-surat pendek dari mufashshal). Adapun pada shalat-shalat yang lain, maka membaca Ausath Al-Mufashshal (yang sedang dari mufashshal) jika tidak ada &#8216;udzur/halangan, namun jika ada halangan maka membaca yang pendek saja.</p>
<p>Tidak mengapa bagi wanita membaca dengan jahr pada shalat jahr, selama tidak ada laki-laki ajnabiy (yang bukan mahram) yang mendengarkannya.</p>
<p>Adapun orang yang melakukan shalat sunnah di malam hari, maka hendaklah ia memperhatikan maslahat, jika di dekatnya ada orang yang merasa terganggu hendaklah ia sirrkan, adapun jika orang di dekatnya justru memperhatikan bacaannya maka hendaklah ia jahrkan. Tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan sebagaimana Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakr radhiyallahu &#8216;anhu ketika shalat malam agar meninggikan sedikit suaranya dan memerintahkan &#8216;Umar radhiyallahu &#8216;anhu agar menurunkan sedikit suaranya.<br />
Hendaklah menjahrkan bacaan pada tempat jahr dan mensirrkannya pada tempat sirr, walaupun tetap sah shalatnya kalau ia melakukan kebalikannya, akan tetapi sunnah lebih berhak untuk diikuti. Adapun tertib ayat, maka wajib diperhatikan karena tertib ayat harus berdasarkan nash.</p>
<p>Termasuk sunnah, berpaling ke kanan dan kiri saat salam, dan hendaklah berpaling ke kiri lebih dalam hingga pipi terlihat. Imam menjahrkan pada salam pertama saja, adapun selain imam maka hendaklah mensirrkan kedua salam itu. Disunnahkan untuk tidak memanjangkan suara saat memberi salam serta berniat dengannya untuk keluar dari (mengakhiri) shalat dan memberi salam kepada malaikat penjaga dan orang-orang yang hadir.</p>
<p>Termasuk sunnah, setelah shalat imam (berbalik) condong ke makmum baik pada sisi kanan atau kirinya, imam tidak lama duduk menghadap Kiblat setelah salam, dan makmum tidak pergi sebelum imam. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,<br />
إِنِّيْ إِمَامُكُمْ فَلاَ تَسْبِقُوْنِيْ بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ وَلاَ بِالإِنْصِرَافِ<br />
&#8220;Sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah mendahuluiku dalam ruku&#8217;, sujud dan pergi.&#8221;</p>
<p>Jika ada jama&#8217;ah wanita yang ikut shalat, maka hendaklah jama&#8217;ah wanita itu keluar terlebih dahulu, sedangkan jama&#8217;ah laki-laki tetap pada tempatnya untuk berdzikir agar tidak berpapasan dengan wanita.<br />
Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>Disadur dari Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li &#8216;Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu &#8216;alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Abaniy.</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>Sumber : Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-27 Tahun ke-3 / 03 Juni 2005 M / 25 Rabi&#8217;uts Tsani 1426 H dan Edisi ke-28 Tahun ke-3 / 10 Juni 2005 M / 02 Jumadil Ula 1426 H)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/24/mengenal-sunnah-sunnah-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Bacaan Dzikir Setelah Salam dari Shalat Wajib</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/20/mengenal-bacaan-dzikir-setelah-salam-dari-shalat-wajib/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/20/mengenal-bacaan-dzikir-setelah-salam-dari-shalat-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 21:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan dzikir setelah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[berdzikir salafy]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir setelah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Dzikir-dzikir Setelah Shalat Wajib Penulis : Bulletin Al-Wala wal Bara Bandung Keutamaan Berdzikir Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dzikir-dzikir Setelah Shalat Wajib</strong></p>
<p><strong>Penulis : Bulletin Al-Wala wal Bara Bandung</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Keutamaan Berdzikir</strong></p>
<p>Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan, seperti berdzikir secara berjama&#8217;ah (lebih jelasnya lihat kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, Al-Ibdaa&#8217; fii Kamaalisy Syar&#8217;i wa Khatharul Ibtidaa&#8217;, Bid&#8217;ahnya Dzikir Berjama&#8217;ah, dan lain-lain).</p>
<p>Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh &#8216;A`isyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim). Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc.<br />
Diantara ayat yang menjelaskan keutamaan berdzikir adalah:</p>
<p>1. Firman Allah,<br />
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ<br />
&#8220;Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.&#8221; (Al-Baqarah:152)</p>
<p>2. Firman Allah,<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا<br />
&#8220;Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.&#8221; (Al-Ahzaab:41)</p>
<p>3. Firman Allah, &#8220;Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar/jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu&#8217;, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.&#8221; (Al-Ahzaab:35)</p>
<p>4. Firman Allah,<br />
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين<br />
&#8220;Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.&#8221; (Al-A&#8217;raaf:205)</p>
<p>Adapun di dalam As-Sunnah, Diantaranya:<br />
1. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,<br />
مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ<br />
&#8220;Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)<br />
Adapun lafazh Al-Imam Muslim adalah,<span id="more-120"></span></p>
<p>مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ<br />
&#8220;Permisalan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.&#8221;</p>
<p>2. Dari &#8216;Abdullah bin Busrin radhiyallahu &#8216;anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Ya Rasulullah, sesungguhnya syari&#8217;at Islam telah banyak atasku, maka kabarkan kepadaku dengan sesuatu yang aku akan mengikatkan diriku dengannya?&#8221; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab,</p>
<p>لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ<br />
&#8220;Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.&#8221; (HR. At-Tirmidziy 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/139 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/317)</p>
<p>3. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,<br />
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ<br />
&#8220;Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.&#8221; (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami&#8217; Ash-Shaghiir 5/340)</p>
<p><strong>Dzikir-dzikir Setelah Salam dari Shalat Wajib</strong></p>
<p>Diantara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad adalah dzikir setelah salam dari shalat wajib. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir, yaitu sebagai berikut:</p>
<p>1. Membaca:<br />
أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ<br />
&#8220;Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik.&#8221; (HR. Muslim 1/414)</p>
<p>2. Membaca:<br />
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ<br />
&#8220;Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak dapat menghalangi dari siksa-Mu.&#8221; (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)</p>
<p>3. Membaca:<br />
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ<br />
&#8220;Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.&#8221; (HR. Muslim 1/415)</p>
<p>4. Membaca:<br />
سُبْحَانَ اللهُ<br />
&#8220;Maha Suci Allah.&#8221; (tiga puluh tiga kali)</p>
<p>اَلْحَمْدُ لِلَّهِ<br />
&#8220;Segala puji bagi Allah.&#8221; (tiga puluh tiga kali)</p>
<p>اَللهُ أَكْبَرُ<br />
&#8220;Allah Maha Besar.&#8221; (tiga puluh tiga kali)<br />
Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,</p>
<p>لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ<br />
&#8220;Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.&#8221;<br />
Barangsiapa mengucapkan dzikir ini setelah selesai dari setiap shalat wajib, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, &#8220;Ada dua sifat (amalan) yang tidaklah seorang muslim menjaga keduanya (yaitu senantiasa mengamalkannya, pent) kecuali dia akan masuk jannah, dua amalan itu (sebenarnya) mudah, akan tetapi yang mengamalkannya sedikit, (dua amalan tersebut adalah): mensucikan Allah Ta&#8217;ala setelah selesai dari setiap shalat wajib sebanyak sepuluh kali (maksudnya membaca Subhaanallaah), memujinya (membaca Alhamdulillaah) sepuluh kali, dan bertakbir (membaca Allaahu Akbar) sepuluh kali, maka itulah jumlahnya 150 kali (dalam lima kali shalat sehari semalam, pent) diucapkan oleh lisan, akan tetapi menjadi 1500 dalam timbangan (di akhirat). Dan amalan yang kedua, bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid 33 kali dan bertasbih 33 kali (atau boleh tasbih dulu, tahmid baru takbir, pent), maka itulah 100 kali diucapkan oleh lisan dan 1000 kali dalam timbangan.&#8221;<br />
Ibnu &#8216;Umar berkata, &#8220;Sungguh aku telah melihat Rasulullah menekuk tangan (yaitu jarinya) ketika mengucapkan dzikir-dzikir tersebut.&#8221;<br />
Para shahabat bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, bagaimana dikatakan bahwa kedua amalan tersebut ringan/mudah akan tetapi sedikit yang mengamalkannya?&#8221;<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8220;Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika hendak tidur, lalu menjadikannya tertidur sebelum mengucapkan dzikir-dzikir tersebut, dan syaithan pun mendatanginya di dalam shalatnya (maksudnya setelah shalat), lalu mengingatkannya tentang kebutuhannya (lalu dia pun pergi) sebelum mengucapkannya.&#8221; (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no.5065, At-Tirmidziy no.3471, An-Nasa`iy 3/74-75, Ibnu Majah no.926 dan Ahmad 2/161,205, lihat Shahiih Kitaab Al-Adzkaar, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy 1/204)</p>
<p>Kita boleh berdzikir dengan tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali dengan ditambah tahlil satu kali atau masing-masing 10 kali, yang penting konsisten, jika memilih yang 10 kali maka dalam satu hari kita memakai dzikir yang 10 kali tersebut.<br />
Hadits ini selayaknya diperhatikan oleh kita semua, jangan sampai amalan yang sebenarnya mudah, tidak bisa kita amalkan.</p>
<p>Tentunya amalan/ibadah semudah apapun tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Setiap beramal apapun seharusnya kita meminta pertolongan kepada Allah, dalam rangka merealisasikan firman Allah,<br />
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ<br />
&#8220;Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.&#8221; (Al-Faatihah:4)</p>
<p>5. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas satu kali setelah shalat Zhuhur, &#8216;Ashar dan &#8216;Isya`. Adapun setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga Fathul Baari 9/62)</p>
<p>6. Membaca ayat kursi yaitu surat Al-Baqarah:255</p>
<p>Barangsiapa membaca ayat ini setiap selesai shalat tidak ada yang dapat mencegahnya masuk jannah kecuali maut. (HR. An-Nasa`iy dalam &#8216;Amalul yaum wal lailah no.100, Ibnus Sunniy no.121 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami&#8217; 5/339 dan Silsilatul Ahaadiits Ash-Shahiihah 2/697 no.972)</p>
<p>7. Membaca:<br />
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ<br />
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Mu&#8217;adz bin Jabal radhiyallahu &#8216;anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memegang kedua tangannya dan berkata, &#8220;Ya Mu&#8217;adz, Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu.&#8221; Lalu beliau bersabda, &#8220;Aku wasiatkan kepadamu Ya Mu&#8217;adz, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan di setiap selesai shalat, ucapan&#8230;&#8221; (lihat di atas):<br />
&#8220;Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.&#8221; (HR. Abu Dawud 2/86 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiih Sunan Abi Dawud 1/284)<br />
Do&#8217;a ini bisa dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam atau setelah salam. (&#8216;Aunul Ma&#8217;buud 4/269)</p>
<p>8. Membaca:<br />
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ<br />
&#8220;Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.&#8221;<br />
Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. (HR. At-Tirmidziy 5/515 dan Ahmad 4/227, lihat takhrijnya dalam Zaadul Ma&#8217;aad 1/300)</p>
<p>9. Membaca:<br />
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً<br />
&#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.&#8221; Setelah salam dari shalat shubuh. (HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma&#8217;uz Zawaa`id 10/111)<br />
Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah sehingga bisa mengamalkan dzikir-dzikir ini, aamiin.<br />
Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>Maraaji&#8217;: Hishnul Muslim, karya Asy-Syaikh Sa&#8217;id bin &#8216;Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Shahiih Kitaab Al-Adzkaar wa Dha&#8217;iifihii, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy dan Al-Kalimuth Thayyib, karya Ibnu Taimiyyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/03/20/mengenal-bacaan-dzikir-setelah-salam-dari-shalat-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halalkah Daging Biawak?</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/halalkah-daging-biyawak/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/halalkah-daging-biyawak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 04:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Sa&#39;id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirrabil ‘alamin, semoga shalawat dan salam senantiasa terus dilimpahkan kepada Nabi terakhir, Muhammad bin Abdillah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, amma ba&#8217;du. Telah menjadi sesuatu yang lumrah ketika seorang Indonesia mengartikan Dhabb (الضَبُّ ) dengan kata biyawak, baik itu dalam buku terjemahan, artikel, majalah, ataupun bentuk-bentuk media tulis lainnya. Padahal ini merupakan kekeliruan yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillahirrahmanirrahim,<br />
Alhamdulillahirrabil ‘alamin, semoga shalawat dan salam senantiasa terus dilimpahkan kepada Nabi terakhir, Muhammad bin Abdillah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, amma ba&#8217;du.</p>
<p>Telah menjadi sesuatu yang lumrah ketika seorang Indonesia mengartikan Dhabb (الضَبُّ  ) dengan kata biyawak, baik itu dalam buku terjemahan, artikel, majalah, ataupun bentuk-bentuk media tulis lainnya. Padahal ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal, yang nantinya berakibat pada penghalalan daging biyawak itu sendiri. Hal tersebut telah diakui oleh kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, bahwasanya penghalalan sesuatu yang Allah dan Rasul Nya haramkan atau sebaliknya, merupakan salah satu bentuk dari praktek kekufuran.<br />
Salah satu penyebab kekeliruan tersebut karena kebanyakan orang Indonesia dalam menerjemahkan kata-kata bahasa arab terlalu bergantung pada kamus-kamus terjemah yang ada. Misalnya kamus Al Munawwir, yang mana didalamnya tidak sedikit terdapat kekeliruan (tidak sesuai) didalam penterjemahan dari bahasa arab ke dalam bahasa Indonesia. Faedah yang dapat diambil, bahwa tidak semua bahasa arab bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara mutlak.<br />
Maka dengan risalah ini penulis ingin mencoba meluruskan kekeliruan yang ada. Wallahul muwaffiq.</p>
<p>APA ITU DHABB?<br />
Untuk mengetahui apa itu dhabb, pembaca -semoga diberkahi Allah- bisa membuka Kitab Al Hayawan  karya Abu &#8216;Utsman &#8216;Amr bin Bahr Al Jahizh yang terdiri dari delapan jilid atau Tajul &#8216;Arus karya Murtadha Az Zabidi ataupun kamus arab lainnya . Di dalam dua kitab itu disebutkan tentang apa itu dhabb terlebih lagi pada kitab yang pertama, disana kita bisa mengetahui banyak tentang dhabb.<br />
Dan disini penulis hanya mencukupkan beberapa keterangan saja , diantaranya:<br />
-	Dhabb adalah hewan reptil yang hidup di gurun pasir,<br />
-	termasuk dari hewan darat bukan laut atau air,<br />
-	termasuk dari jenis hewan darat yang kepalanya seperti ular,<br />
-	umurnya panjang,<br />
-	sekali bertelur bisa mencapai 60 sampai 70 butir dan telurnya menyerupai telur burung merpati,<br />
-	warna kulitnya bisa berubah dikarenakan perubahan cuaca panas,<br />
-	tidak meminum air bahkan mencukupkan dirinya dengan keringat,<br />
-	ekor adalah senjatanya,<br />
-	gigi-giginya tumbuh berbarengan,<br />
-	mempunyai 4 kaki yang mana semua telapaknya seperti telapak tangan manusia,<br />
-	sebagiannya ada yang mempunyai dua lidah,<br />
-	hewan yang dimakan hanya belalang,<br />
-	terkadang memakan anaknya sendiri,<br />
-	makan tetumbuhan sejenis rumput,<br />
-	menyukai kurma,<br />
-	sebagian orang arab merasa jijik dengannya.</p>
<p>Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya kepada Syaikhuna Shalih Abdul Aziz Al Ghusn (hafizhahullah),<br />
Seperti apa dhabb itu?,<br />
beliau menjawab: &#8220;dhabb adalah hewan barr (padang pasir) yang berjalan diatas perutnya&#8221;.<br />
Apakah dhabb bertaring?,<br />
beliau menjawab: &#8220;dhabb tidak bertaring, hewan ini memakan rerumputan dan tidak meminum air, dan sebagian orang memakan dagingnya&#8221;.                                                                      </p>
<p>APA ITU BIYAWAK?<br />
Berbeda dengan dhabb, diantara keterangan tentang biyawak adalah sebagai berikut:<br />
-	biyawak adalah hewan reptil persis seperti komodo akan tetapi ukurannya lebih kecil,<br />
-	hidup di gua-gua kecil pinggiran sungai,<br />
-	bisa berenang di air dan berjalan di darat seperti halnya buaya,<br />
-	makanannya adalah daging karena hewan ini termasuk dari jenis karnivora,<br />
-	dia memangsa santapannya (hewan-hewan yang dimakannya seperti katak, tikus, ayam atau burung sekalipun) dengan gigi taring,<br />
-	ciri fisiknya mirip dengan komodo dari mulai bentuk perut, leher, kepala, ekor, sampai gaya berjalannya.<br />
Penulis sengaja tidak mencari referensi tentang apa itu biyawak dari kamus-kamus binatang, dikarenakan penulis pernah langsung memelihara hewan tersebut. </p>
<p>DAGING DHABB HALAL DIMAKAN<br />
Berikut ini adalah beberapa hadits yang menjadi dalil akan kehalalan daging dhabb :</p>
<p>عن ابْن عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم:<br />
(الضَبُّ لَسْتُ آكِلَهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).<br />
Dari Ibnu &#8216;Umar -semoga Allah meridhainya-, ia berkata: telah bersabda Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-:<br />
&#8220;Aku tidak memakan dhabb dan aku tidak mengharamkannya.” </p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما، عَنْ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ:<br />
أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَيْتَ مَيْمُوْنَةَ، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوْذٍ، فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ: أَخْبِرُوْا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَا يُرِيْدُ أَنْ يَأْكُلَ، فَقَالُوْا: هُوَ ضَبٌّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ يَدَهُ، فَقُلْتُ: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: (لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِيْ، فَأَجِدُنِيْ أَعَافُهُ). قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ.<br />
Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-, dari Khalid bin Walid -semoga Allah meridhainya-: bahwasanya ia bersama Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- masuk ke rumah Maimunah -semoga Allah meridhainya-, lalu didatangkan kepada  Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- daging dhabb panggang, kemudian Beliau -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- melayangkan tangannya kearah daging tersebut, lalu sebagian kaum wanita berkata:<br />
&#8220;Beritahu Rasulullah atas apa yang akan dimakannya&#8221;,<br />
maka para sahabat berkata:<br />
&#8220;Wahai Rasulullah! Itu adalah daging dhabb&#8221;,<br />
kemudian Beliau -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- mengangkat tangannya, lalu aku -Khalid- bertanya: &#8220;Apakah daging ini haram wahai Rasulullah?&#8221;,<br />
kemudian Beliau -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda:<br />
&#8220;Tidak, akan tetapi hewan ini tidak ada di tanah kaumku dan aku memperbolehkannya&#8221;,<br />
Khalid berkata:<br />
&#8220;Aku pun mengambilnya lalu memakannya dan Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- melihatnya&#8221;.  </p>
<p>عَنِ ابْنِ عُمَرَ. قَالَ:<br />
سَأَلَ رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، عَنْ أَكْلِ الضَّبِّ؟ فَقَالَ:<br />
(لاَ آكِلُهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).<br />
Dari Ibnu &#8216;Umar -semoga Allah meridhai keduanya-, ia berkata:<br />
&#8220;Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- pernah ditanya ketika sedang berada di atas mimbar tentang memakan dhabb, lalu Beliau menjawab:<br />
&#8220;Aku tidak memakannya dan tidak mengharamkannya&#8221;.  </p>
<p>عن ابْن عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فِيْهِمْ سَعْدٌ. وَأُتُوْا بِلَحْمِ ضَبٍّ. فَنَادَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ.<br />
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (كُلُوْا، فَإِنَّهُ حَلاَلٌ. وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِيْ).<br />
“Dari Ibnu &#8216;Umar -semoga Allah meridhai keduanya-: bahwasanya Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersama beberapa orang dari sahabatnya -semoga Allah meridhai mereka-, diantaranya adalah Sa&#8217;d. Didatangkan kepada mereka daging dhabb, lalu ada seorang wanita berteriak:<br />
&#8220;Itu adalah daging dhabb&#8221;,<br />
kemudian Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda:<br />
&#8220;Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya daging ini halal. Akan tetapi bukan dari makananku&#8221;.  </p>
<p><img src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2010/02/daging-biawak-286x300.jpg" alt="daging biawak" title="daging biawak" width="286" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-71" /></p>
<p>DAGING BIYAWAK HARAM DIMAKAN<br />
Berbeda dengan dhabb, dikarenakan biyawak termasuk dari jenis hewan buas dan bertaring, maka masuk kepada larangan Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits-hadits berikut ini:</p>
<p>عَنِ الزُّهْرِيْ:<br />
نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.<br />
Dari Az Zuhri:<br />
&#8220;Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- telah melarang setiap yang bertaring dari hewan buas (untuk dimakan.pent)&#8221;.  </p>
<p>أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.<br />
Dari Abu Tsa&#8217;labah Al Khusyni:<br />
 &#8220;Bahwasanya Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- melarang untuk memakan setiap yang bertaring dari hewan buas&#8221;.  </p>
<p>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ :<br />
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ (كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، فَأَكْلُهُ حَرَامٌ).<br />
Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-, dari Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bahwasanya bersabda:<br />
&#8220;Setiap yang bertaring dari hewan buas, maka memakannya adalah haram&#8221;.  </p>
<p>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:<br />
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ. وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.<br />
Dari Ibnu &#8216;Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-:<br />
&#8220;Bahwasanya Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan dari setiap burung yang bercakar (yakni untuk dimakan.pent)&#8221;.  </p>
<p><img src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2010/02/varanus-salvator.jpg" alt="varanus salvator" title="Struktur gigi biawak air (varanus salvator)" width="200" height="85" class="aligncenter size-full wp-image-73" /></p>
<p>Kesimpulannya, bahwa kata dhabb dalam bahasa arab tidak bisa kita artikan biyawak dalam bahasa Indonesia, karena keduanya adalah hewan yang saling berbeda. Dan kita di Indonesia tidak bisa mendapatkan satu ekor pun dhabb, karena memang disini bukanlah habibatnya. Sehingga kita ketahui dengan dalil-dalil yang ada bahwa daging dhabb halal untuk dimakan, adapun biyawak tidak, yakni daging biyawak haram untuk dimakan karena masuk pada hewan bertaring yang Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- melarang umatnya untuk memakannya.<br />
Semoga risalah ini menjadi secercah sinar yang bermanfaat untuk kaum muslimin.<br />
Wal &#8216;ilmu &#8216;indallah, wallahu a&#8217;lam bish shawab.</p>
<p>Yang senantiasa mengharap ridha dan ampunan Rabbnya,</p>
<p>Syuhada Abu Syakir AlIskandar AlJawaghy AsSalafy<br />
Hayy Ar Royyan, Ad Da`iriy Asy Syarqiy, Riyadh, KSA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/halalkah-daging-biyawak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

