<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ma&#039;had Adhwa&#039;us Salaf Bandung &#187; Akhlak dan Adab</title>
	<atom:link href="http://adhwaus-salaf.or.id/category/akhlak-dan-adab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adhwaus-salaf.or.id</link>
	<description>- Menuju Masyarakat Islami di atas Al Quran dan As Sunnah -</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 21:30:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Adab Bertamu</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/28/adab-bertamu/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/28/adab-bertamu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 16:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[adab tamu]]></category>
		<category><![CDATA[cara bertamu]]></category>
		<category><![CDATA[tamu menurut islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu &#8216;alaikum. Bagaimanakah adab memasuki rumah orang lain? Saya ingin mendapatkan keterangan yang jelas, syukron. Jazakallahu khoiro. (0818208***) Jawab: Wa&#8217;alaikumussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Sesungguhnya hal itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam KitabNya dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam Sunnahnya. Allah berfirman, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span><a name="sub2"></a></span></div>
<div><span style="line-height: 150%;"><strong>Tanya: Assalamu &#8216;alaikum. Bagaimanakah adab memasuki rumah orang lain? Saya ingin mendapatkan keterangan yang jelas, syukron. Jazakallahu khoiro. (0818208***)</strong></p>
<p><strong>Jawab:</strong> Wa&#8217;alaikumussalaam warohmatullahi wabarokatuh. </span></div>
<div><span style="line-height: 150%;">Sesungguhnya hal itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam KitabNya dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam Sunnahnya. Allah berfirman, </span></div>
<div><span style="line-height: 150%;">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.&#8221; (QS An Nuur: 27). <span id="more-161"></span></span></div>
<div></div>
<div><span style="line-height: 150%;">Dalam ayat ini diterangkan tentang beberapa adab memasuki rumah orang lain, di antaranya </span></div>
<div><span style="line-height: 150%;">pertama: meminta izin berikut mengucapkan salam tiga kali (dalam artian mengucapkan salam sudah termasuk di dalamnya meminta izin), bila setelah itu belum juga ada jawaban maka hendaknya kembali pulang. Dalilnya hadits riwayat Bukhari dari Abu Sa&#8217;id Al Khudri. </span></div>
<div></div>
<div><span style="line-height: 150%;">Kedua: hendaknya tidak berdiri tepat di depan pintu rumah orang yang didatangi, namun berdiri di sebelah kanan atau kirinya pintu. Dalilnya hadits riwayat Abu Dawud dari Abdullah bin Bisyr. </span></div>
<div></div>
<div><span style="line-height: 150%;">Ketiga: bila ditanya oleh penghuni rumah &#8220;Siapa?&#8221;, tidak diperkenankan menjawab, &#8220;Saya&#8221; tetapi harus menyebutkan namanya. </span></div>
<div><span style="line-height: 150%;">Dalilnya saat Jabir bin Abdillah mendatangi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian ditanya, &#8220;Siapa?&#8221;, beliau menjawab, &#8220;Saya.&#8221; lalu Rasulullah berkata, &#8220;Saya! Saya!&#8221; seolah beliau membencinya. (HR Bukhari dari Jabir). Keempat: bila rumah yang didatangi tidak ada penghuni laki-lakinya (suaminya), yang ada hanya perempuan (istrinya) maka tidak boleh meminta izin untuk masuk. Berkata Ibnu Katsir, &#8220;Berkata Ibnu Juraij, aku bertanya kepada Atho`, bolehkah seorang laki-laki minta izin masuk rumah kepada istri (yang suaminya sedang keluar rumah)? Beliau menjawab: Tidak.&#8221; Kelima: bila si penghuni rumah menyuruh untuk pulang (sebelum diizinkan masuk) maka wajib untuk pulang. Dalilnya firman Allah, </span></div>
<div></div>
<div><span style="line-height: 150%;">&#8220;Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS An Nuur: 28). </span></div>
<div></div>
<div><span style="line-height: 150%;">Wal &#8216;ilmu &#8216;indallah.</span></div>
<div></div>
<div>
<p><strong>Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.</strong></p>
<p><strong>SUMBER :  Buletin Al Wala&#8217; Wal Bara&#8217;</strong><span> <strong>Edisi ke-43 Tahun ke-2 / 17 September 2004 M / 02 Sya&#8217;ban 1425 H</strong></span></div>
<div></div>
<div><span style="line-height: 150%;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/28/adab-bertamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Eksistensi Sebuah Do&#8217;a</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/03/nilai-eksistensi-sebuah-doa/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/03/nilai-eksistensi-sebuah-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 19:25:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[do'a dan kesyirikan]]></category>
		<category><![CDATA[do'a kepada allah]]></category>
		<category><![CDATA[doa dan ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Negeri Arab khususnya dan dunia pada umumnya sebelum diutusnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dipenuhi dengan kesesatan, penyimpangan, dan kebodohan, terlihat dari semaraknya penyembah batu-batuan dan pohon-pohon, pengingkaran terhadap hari kebangkitan, mempercayai perdukunan, tukang sihir, dan paranormal hingga penyimpangan yang sifatnya kemanusiaan, sosial, dan politik. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki rahmat atas hamba-hambaNya, menolongnya dari kesesatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Negeri Arab khususnya dan dunia pada umumnya sebelum diutusnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dipenuhi dengan kesesatan, penyimpangan, dan kebodohan, terlihat dari semaraknya penyembah batu-batuan dan pohon-pohon, pengingkaran terhadap hari kebangkitan, mempercayai perdukunan, tukang sihir, dan paranormal hingga penyimpangan yang sifatnya kemanusiaan, sosial, dan politik.</strong></p>
<p><strong>Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki rahmat atas hamba-hambaNya, menolongnya dari kesesatan menuju hidayah, maka Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka dari kalangannya sendiri yang mereka telah mengenal akhlaqnya, kejujurannya, serta amanahnya. Allah berfirman,</strong></p>
<p><strong>&#8220;Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.&#8221; (Al-Jum&#8217;ah: 2).</strong></p>
<p>Awal mula yang diserukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seperti halnya Rasul-Rasul lainnya, menyeru untuk memurnikan ibadah kepada Allah &#8216;azza wajalla dan meninggalkan peribadahan selainNya. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan Kami tidak mengurus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.&#8221; (Al- Anbiyaa: 25).</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut.&#8221; (An-Nahl: 36).</p>
<p>Inilah pembuka dakwah para Rasul, karenanya ia adalah pondasi yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan lain, jika pondasinya rusak maka tak ada guna cabang-cabang lainnya, tidak ada manfaatnya sholat, puasa, haji, dan shodaqoh, serta seluruh ibadah-ibadah lainnya. Apabila pondasi telah cacat dan tauhid sudah berantakan tidak ada faidahnya amalan-amalan lainnya. Allah berfirman,<span id="more-139"></span></p>
<p>&#8220;Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.&#8221; (Al Kahfi: 110).</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p>&#8220;Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.&#8221; (Al An&#8217;am: 88). &#8221;</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, jika kamu berbuat syirik niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.&#8221; (Az Zumar: 65).</p>
<p>Sungguh seluruh penduduk bumi amat sangat membutuhkan akan risalah yang dibawa olehnya Shalallahu ‘alaihi wassalam daripada kebutuhan mereka terhadap air hujan, sinar matahari, serta seabreg kebutuhan-kebutuhan lainnya, karena tidak ada kehidupan hati, kenikmatannya, kelezatannya, dan kebahagiaannya bahkan tak ada ketenangan hati dan tuma&#8217;ninahnya kecuali dengan mengenal Rabbnya, yang diibadahinya, dan Penciptanya dengan nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, sehingga menjadikanNya lebih dicintai daripada selainNya, menjadikan segala usaha-usahanya dalam hal-hal yang akan mendekatkan diri padaNya dan keridhoanNya.</p>
<p>Para pembaca semoga dirohmati Allah, doa adalah salah satu dari bentuk ibadah di samping ibadah badaniyah &#8211; seperti sholat, maaliyah &#8211; seperti zakat, atau ibadah maaliyah badaniyah &#8211; seperti haji, sebab ibadah adalah satu kata yang memiliki cakupan luas setiap apa yang dicintai dan diridlai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan lahir maupun batin. Sepele memang nampaknya masalah doa ini, tetapi ironisnya banyak di antara kaum muslimin &#8211; kalau tidak keseluruhannya &#8211; berbeda-beda dalam hal menyikapinya, mengaplikasikannya, dan tata cara pelaksanaannya, wallahul musta&#8217;an.</p>
<p>Tidak dipungkiri kalau di sana masih banyak yang menganggap bahwa doa itu bukan termasuk ibadah, dengan kenyataan tak sedikit yang memohon di hadapan kuburan orang yang dianggap sholih, memohon di hadapan batu besar yang dikira memiliki keanehan, manggut-manggut di hadapan pohon besar yang tak dapat melihat dan mendengar. Tidak mustahil kalau di sana masih ada yang merasa tidak butuh kepada doa karena kesombongannya dan tak ada keimanannya. Satu perkara yang tidak dapat dipungkiri pula bahwa sebagian kaum bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam hal doa dan cara berdoa. Wa ilallahil musytaka.</p>
<p>Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, ketahuilah bahwa mayoritas orang-orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan, pangkal kesyirikannya ialah berdoa kepada selain Allah. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,</p>
<p>&#8220;Doa itu adalah ibadah.&#8221; (HR Ahmad 4/267, Tirmidzi 5/426, Al Hakim dalam Mustadrak 1/491 dan menshohihkannya, dan disepakati oleh Al Imam Adz Dzahabi, dari sahabat Nu&#8217;man bin Basyir RA). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mati sedang ia berdoa kepada tandingan-tandingan selain Allah, maka akan masuk neraka.&#8221; (HR Al Bukhori no 4497 dari sahabat Abdullah ibnu Mas&#8217;ud). Hadits ini menerangkan bahwa doa adalah bagian dari ibadah-ibadah yang paling agung, termasuk ke dalam hak-hak Allah yang paling mulia, dimana jika seorang hamba memalingkannya kepada selain Allah dengan demikian ia berarti telah musyrik, telah menjadikan bagi Allah tandingan-tandinganNya dalam hal uluhiyahNya.</p>
<p>Namun apabila seseorang meminta doa kepada orang lain yang sholih, kemudian masih hidup, dan dalam perkara-perkara yang dimampuinya, maka tidaklah termasuk kemusyrikan, hal ini dibagi menjadi beberapa bagian di antaranya:</p>
<p>Pertama: meminta doa kepada seorang yang sholih untuk kemaslahatan umum kaum muslimin, seperti ini dibolehkan, dengan dalil hadits Anas tentang seorang laki-laki yang meminta doa dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam agar diturunkan hujan.</p>
<p>Kedua: meminta doa kepada orang lain untuk kemaslahatan dirinya, sebagian ulama membolehkan hal ini dan yang lainnya menyatakan tidak semestinya, karena dikhawatirkan termasuk dalam bab meminta-minta kepada orang lain dan dikhawatirkan pula yang meminta doa akan bersandar kepada doa orang lain sedang dia lupa mendoakan dirinya sendiri. (Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Majmu&#8217;ul Fatawa jilid ke-1).</p>
<p>Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas menyatakan bahwa doa itu adalah ibadah. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.&#8221; (Al Mu&#8217;min: 60).</p>
<p>Adapun sisi pendalilah dari ayat ini yang menunjukkan bahwa doa itu adalah ibadah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama: dalam ayat ini Allah telah memerintah dengan firmanNya, &#8220;Berdoalah kepadaKu.&#8221; Sedangkan Allah tidak akan memerintah kecuali yang wajib atau mustahab.</p>
<p>Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya sebagai ibadah, dengan firmanNya, &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu.&#8221;</p>
<p>Ketiga: Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas hamba-hambaNya yang berdoa dengan pengkabulan atas doa-doanya, dengan firmanNya, &#8220;Berdoalah kepadaKu niscaya akan Kuperkenankan bagimu.&#8221;</p>
<p>Berkata Ibnul Araby Al Maliki rohimahullah, &#8220;Segi penamaan doa dengan ibadah sangatlah jelas, karena terkandung di dalamnya pengakuan dari seorang hamba akan ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya, sedangkan segala kekuasaan dan kekuatan hanyalah milik Allah, yang demikian itulah ketundukan dan kepatuhan yang sempurna.&#8221;</p>
<p>Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, di dalam banyak ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala mencegah dari berdoa kepada selainNya. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zholim.&#8221; (Yunus: 106).</p>
<p>Dan Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diadzab.&#8221; (Asy Syu&#8217;araa: 213).</p>
<p>Pada ayat lain Allah menjelekkan perbuatan orang-orang musyrikin berdoa kepada selain Allah. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan sekarang ini adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaanNya dan menurunkan untukmu rizki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.&#8221; (Al Mu&#8217;min: 12-14).</p>
<p>Memurnikan ibadah kepadaNya adalah memurnikan doa kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi dengan kesesatan dan kerugian atas orang-orang yang berdoa kepada selainNya. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.&#8221; (Al Ahqaaf: 5-6).</p>
<p>Dan Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;&#8230; yang berbuat demikian itulah Allah Tuhanmu kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.&#8221; (Faathir: 13-14).</p>
<p>Seluruh nash-nash ini dan yang semisalnya di dalam Al Quranul Karim maupun sunnah yang suci sebagai penjelasan bagi orang-orang yang Allah bukakan penglihatannya dan terangkan hatinya serta lapangkan dadanya tentang betapa pentingnya doa dan begitu tinggi kedudukannya dalam aqidah al Islamiyah.</p>
<p>Dengan tingginya kedudukan doa dalam aqidah al Islamiyah, maka Allah mengancam orang-orang yang tidak tunduk padaNya dengan doa.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.&#8221; (Al Mu&#8217;min: 60).</p>
<p>Jadi sikap sombong dari berdoa kepada Allah dan menyelewengkan doa kepada selain Allah adalah bentuk kemaksiatan yang besar terhadapNya.</p>
<p>dan sebagai bentuk pembangkangan serta pendustaan terhadap nabi-nabiNya dan Rasul-RasulNya dimana telah sepakat risalah dan dakwah mereka menyeru kepada wajibnya mengesakan Allah dalam hal ibadah dan yang paling besarnya di antara ibadah itu adalah doa.</p>
<p>Sebagaimana halnya ibadah-ibadah lain memiliki cara dan etika, maka berdoapun demikian tak lepas dari itu, sebab kita mesti pahami bahwa agama itu adalah kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah disyariatkan olehNya dan oleh RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam, sebagai contoh misalnya suatu ketika Rasulullah berwudlu, kemudian setelah selesai darinya beliau mengatakan, &#8220;Ini adalah wudluku dan wudlu para nabi sebelumku, barangsiapa menambahi atau bahkan mengurangi maka ia telah berbuat jahat dan zholim.&#8221;</p>
<p>Contoh lainnya saat Rasulullah mengatakan, &#8220;Sholatlah kalian seperti kalian telah melihat aku sholat.&#8221; Demikian pula dengan pernyataan beliau, &#8220;Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka akan tertolak.&#8221; Dan begitu banyak contoh-contoh lainnya dalam hal ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan etika berdoa itu dalam firmanNya,</p>
<p>&#8220;Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.&#8221; (Al A&#8217;raaf: 55).</p>
<p>Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, betapa besar karunia dan kasih sayang Allah kepada makhlukNya, menjaga, memelihara, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, sungguh benar apa yang dikatakan dalam sebuah syair:</p>
<p>Allah akan marah jika engkau tinggalkan meminta padaNya</p>
<p>Sedang Bani Adam jika dipinta akan marah.</p>
<p>Sudah semestinya memang kita selaku hambaNya yang fakir untuk meminta kepada Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah, segala urusan hanyalah milik Allah dan akan dikembalikan kepadaNya. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;KepunyaanNyalah kerajaan langit-langit dan bumi. Dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.&#8221; (Al Hadid: 5).</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishshowab wal ilmu indallah.</p>
<p><strong>Penulis : Ustadz Abu Hamzah Yusuf</strong></p>
<p><strong>Edisi : 11/Tahun : 1</strong></p>
<p><strong>Sumber : Buletin Al-Wala&#8217; wal Bara&#8217; Edisi 13 Tahun 1/14 Maret 2003M/11 Muharram 1424H</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/04/03/nilai-eksistensi-sebuah-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Asy-Syaikh Shalih Abdul Aziz Al-Ghusn</title>
		<link>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/nasehat-asy-syaikh-shalih-abdul-aziz-al-ghusn/</link>
		<comments>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/nasehat-asy-syaikh-shalih-abdul-aziz-al-ghusn/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 01:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Sa&#39;id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhwaus-salaf.or.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat Asy-Syaikh Shalih Abdul Aziz Al-Ghusn (hafizhahullah) untuk Ikhwah Salafiyyin Indonesia [Alih bahasa oleh Syuhada Abu Syakir Al-Iskandar As-Salafy Al-Andunisy] بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji hanya bagi Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) Rabbil &#8216;alamin, shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad yang merupakan sebaik-baik makhluk dan yang paling mulianya serta yang sangat indah akhlaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasehat Asy-Syaikh Shalih Abdul Aziz Al-Ghusn (hafizhahullah) untuk Ikhwah Salafiyyin Indonesia</p>
<p>[Alih bahasa oleh Syuhada Abu Syakir Al-Iskandar As-Salafy Al-Andunisy]</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) Rabbil &#8216;alamin, shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad yang merupakan sebaik-baik makhluk dan yang paling mulianya serta yang sangat indah akhlaknya diantara mereka, Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) menyanjung Beliau dengan firmanNya:</p>
<p>وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya kamu benar-benar berada diatas akhlak yang agung&#8221;.</p>
<p>Dan juga berfirman:</p>
<p>وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حولك (159)</p>
<p>&#8220;Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu&#8221;.</p>
<p>Dan juga berfirman:</p>
<p>فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ (13)</p>
<p>&#8220;maka maafkanlah mereka dan biarkanlah&#8221;.</p>
<p>Ya Ma&#8217;syaral Ahibbah! Wahai sekalian yang aku cintai! Aku wasiatkan kalian dan diriku dengan taqwa kepada Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) baik dalam keadaan yang nampak ataupun tersembunnyi, dan taqwa kepada Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) yaitu mematuhi segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. </p>
<p>Taqwa merupakan wasiat dari Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) untuk generasi awal dan terakhir. Sebagaimana Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) berfirman:</p>
<p>وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا الله (131)</p>
<p>&#8220;Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kalian kepada Allah&#8221;.</p>
<p>Maka ini adalah wasiat yang sangat agung yang mencakup hak-hak Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) dan hak-hak para hambaNya, agar Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) dita&#8217;ati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri. </p>
<p>Dan taqwa merupakan wasiat dari Rasulullah (shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) sebagaimana (yang Beliau sampaikan) didalam khutbatul wada&#8217;. Dan apabila Beliau mengangkat seseorang untuk dijadikan komando pasukan atau tentara Beliau mewasiatinya denga taqwa kepada Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala).</p>
<p>Sebagaimana Beliau mewasiati Mu&#8217;adz (Radhiyallahu &#8216;anhu) dengan ucapannya:</p>
<p>اتق الله حيثما كنت</p>
<p>&#8220;Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada&#8221;.</p>
<p>Dan hendaklah kalian senantiasa ikhlas serta memperbaiki niat dalam ilmu dan amal, karena sesungguhnya kalian diperintahkan akan hal itu sebagaimana didalam firman Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala):</p>
<p>وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (5)</p>
<p>&#8220;Dan tidaklah mereka itu diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya&#8221;.</p>
<p>Dan:</p>
<p>قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14)</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Hanya Allah saja Yang aku ibadahi dengan mengikhlaskan agamaku kepadaNya.&#8221;</p>
<p>Maka perbaikilah niat niscaya engkau akan termasuk dari ahlinya.</p>
<p>Akupun wasiatkan kalian agar bersemangat terhadap al-ilmu an-nafi&#8217; (ilmu yang bermanfaat), tadaburilah al qur`an, dan bersemangatlah untuk mengikuti sunnah Rasulullah (shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) yang Beliau sendiri telah memerintahkan akan hal itu dengan sabdanya:</p>
<p>فعليكم بسنتي، وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور</p>
<p>&#8220;Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para al-khulafa ar-rasyidin al-mahdiyin (yang telah diberi petunjuk oleh Allah) setelahku, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru didalam agama&#8221;.</p>
<p>Akupun wasiatkan kalian dengan sesuatu yang mana Rasulullah (shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) telah memerintahkannya didalam sabdanya:</p>
<p>لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ؛ لا يَظْلِمُهُ ، وَلا يَخْذُلُهُ ، وَلا يَحْقِرُهُ ، التَّقْوَى هَاهُنَا ، و يُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثلاث مرات بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling bermusuhan, dan janganlah sebagian dari kalian melakukan penjualan diatas penjualan sebagian yang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah dia menzholiminya, dan jangan pula menelantarkannya, dan jangan pula merendahkannya, taqwa itu disini, dan Beliau berisyarat pada dadanya sebanyak tiga kali, cukuplah seseorang dikatakan jahat ketika ia merendahkannya saudaranya yang muslim, setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya&#8221;.</p>
<p><img src="http://adhwaus-salaf.or.id/wp-content/uploads/2010/02/pantai-300x225.jpg" alt="pantai" title="pantai" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-63" /></p>
<p>Hadits yang mulia ini dimulai dengan peringatan dari perbuatan hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan seperti halnya api melalap kayu bakar, dan jika engkau merasakan sesuatu dari sifat tersebut maka sembunyikanlah, janganlah engkau menampakkannya dan jangan pula membicarakannya, karena sungguh telah dikatakan bahwa:</p>
<p>ما خلا جسد من حسد, لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه</p>
<p>&#8220;Tidak ada jasad yang terlepas dari hasad, akan tetapi orang yang hina akan menampakkannya sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya&#8221;.</p>
<p>Ya Ahibbati! Wahai sekalian yang aku cintai! Hendaklah kalian bersatu, saling mencintai, dan menyatukan kalimat, serta melaksanakan hak-hak yang mana Rasulullah (shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) telah memerintahkan dan mewasiatkannya ketika Beliau bersabda:</p>
<p>حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ رواه مسلم</p>
<p>&#8220;Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam:</p>
<p>Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,</p>
<p>Dan jika ia menyerumu maka penuhilah seruannya,</p>
<p>Dan jika ia meminta nasehat darimu maka nasehatilah,</p>
<p>Dan jika ia bersin lalu memuji Allah (yakni mengucapkan alhamdulillah) maka doakanlah,</p>
<p>Dan jika ia sakit maka jenguklah,</p>
<p>Dan jika ia wafat maka ikutilah (yakni mengantarkannya ke pekuburan)&#8221;, diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>Hak-hak atas saudara tidaklah terbatas pada perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits diatas, akan tetapi ini hanyalah merupakan contoh-contoh dan arahan-arahan yang mana kita harus memahami dan memperhatikannya.</p>
<p>Akupun wasiatkan kalian agar menghormati para Ulama dan mengambil ilmu dari mereka, karena sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, maka haruslah kita menghormati dan memuliakan mereka, karena sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) telah mengangkat derajat dan meninggikan kedudukan mereka. </p>
<p>Dan jikalau salah seorang dari mereka keliru didalam sebagian permasalahan ijtihad, maka hal itu tidaklah menjadi penghalang untuk kita istifadah (mengambil faidah) dari ilmu-ilmu mereka, dan tidaklah ada yang selamat dari kesalahan serta kekeliruan kecuali siapa saja yang dijaga oleh Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala), dan kesempurnaan hanyalah milik Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala).</p>
<p>Dan hendaklah kalian berhias dengan akhlak yang baik dan adab yang mulia, karena sesungguhnya akhlak yang baik akan menyebabkan timbangan alhasanat (amal kebaikan) menjadi berat, dan sifat itupun merupakan sebab memasuki jannah, dan juga sebab yang dapat menimbulkan rasa cinta kepada Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) dan RasulNya, serta sebab untuk dekat dengan Beliau di hari kiamat kelak.</p>
<p>Dan tidak ada sesuatupun yang diletakkan diatas timbangan seorang hamba yang lebih berat daripada akhlak yang baik, dan sungguh seorang yang berakhlak baik akan sampai kepada derajat orang yang melakukan shalat dan shaum dikarenakannya.</p>
<p>Disebutkan didalam hadits Abdullah bin Amr (Radhiyallahu &#8216;anhuma) secara marfu&#8217;:</p>
<p>Rasulullah (shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) bersabda:</p>
<p>ألا أخبركم بأحبكم إلي وأقربكم منى مجلسًا يوم القيامة قالوا بلى قال أحسنكم خلقًا</p>
<p>&#8220;Maukah kalian aku beritahukan tentang seseorang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku tempat duduknya pada hari kiamat kelak?&#8221;, para sahabat menjawab: &#8220;tentu&#8221;, Beliaupun bersabda: &#8220;dia adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian&#8221;.</p>
<p>Dan disebutkan didalam hadits Abu Hurairah (Radhiyallahu &#8216;anhu):</p>
<p>أكثر ما يدخل الجنة تقوى الله وحسن الخلق</p>
<p>&#8220;(Amalan) yang paling banyak memasukkan ke jannah adalah akhlak yang baik dan taqwa kepada Allah&#8221;.</p>
<p>Dan termasuk dari perkara yang akan memperkuat ikatan persaudaraan, dan mempersatukan hati, serta menghilangkan (kejelekan) yang ada dalam jiwa, yaitu hendaklah seorang hamba mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan hendaklah menahan diri untuk menyakiti saudaranya baik itu dengan tangan, atau lisan, ataupun yang lainnya.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan didalam hadits Abu Dzar (Radhiyallahu &#8216;anhu), ia berkata:</p>
<p>قلت يا رسول الله أيّ الأعمال أفضل قال الإيمان بالله والجهاد في سبيله, قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ ؟ قَالَ : تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ، قُلْتُ : أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ :  فكُفّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ, فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ</p>
<p>Aku bertanya: &#8220;Wahai Rasulallah amalan apakah yang paling utama?&#8221;, Beliau menjawab: &#8220;iman kepada Allah dan jihad dijalanNya&#8221;, aku bertanya: &#8220;jika aku tidak bisa melakukannya?&#8221;, Beliau menjawab: &#8220;hendaklah engkau menolong orang yang melakukannya atau engkau beramal untuk seorang yang jahil&#8221;, aku bertanya: &#8220;apa pendapatmu jika aku tidak mampu dalam sebagian amalan?&#8221;, Beliau menjawab: &#8220;tahanlah sikap jahatmu dari manusia, karena sesungguhnya hal itu adalah shadaqah darimu untuk dirimu&#8221;.</p>
<p>Dan termasuk dari perkara yang akan mendatangkan rasa cinta serta akhlak yang baik yaitu hendaklah memaafkan kesalahan-kesalahan ikhwan dan janganlah mencela mereka dikarenakan kekelirua-keliruan yang terjadi, dan hendaklah berusaha dengan sungguh agar tercipta sedikitnya perselisihan, dan bersungguh-sungguhlah untuk tegak diatas kebersamaan.</p>
<p>Dan jika salah seorang dari ikhwan tergelincir berbuat kesalahan, maka carilah untuknya sembilan puluh udzur, dan janganlah sibuk dengan aib-aib ikhwan sedangkan engkau lupa dengan aib diri sendiri.</p>
<p>Sebagian Ulama (Rahimahumullah) mengatakan:</p>
<p>المؤمن يطلب معاذير اخوانه, والمنافق يطلب عثراتهم</p>
<p>&#8220;Seorang mukmin akan mencari berbagai udzur bagi saudaranya, sedangkan seorang munafik akan mencari-cari segala kesalahan mereka&#8221;.</p>
<p>Dan terakhir, ketahuilah:</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ (90)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan&#8221;.</p>
<p>Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) memerintahkan (agar kita berlaku) inshaf dan bersikap adil dengan seadil-adilnya walaupun hanya pada diri sendiri, atau terhadap kedua orang tua, ataupun terhadap sanak kerabat.</p>
<p>Dan Allah (Subhanahu wa Ta&#8217;ala) memerintahkan agar kita bersegera terhadap perkara yang akan mendatangkan ampunanNya dan akan menghantarkan kedalam jannah yang luasnya seluas tujuh langit dan bumi, Dia berfirman:</p>
<p>وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)</p>
<p>&#8220;Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan&#8221;.</p>
<p>وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين</p>
<p>KSA Riyadh, 29 Dzulqo&#8217;dah 1430 H</p>
<p>Bertepatan dengan 17 November 2009 M</p>
<p>Ket:</p>
<p>Kurang-lebih 20 tahun yang lalu beliau pensiun dari Majlis Al-Qadha di kota suci Makkah Al-Muharramah sebagai Al-Mufti Al-Qadhi, semenjak itu sampai saat ini beliau bermukim di kota Riyadh dan beliau menghabiskan waktunya untuk duduk di maktabah.</p>
<p>Beliau adalah Shahibul fadhilah Asy-Syaikh Al-Mukarram Shalih bin Abdul Aziz bin Abdillah Al-Ghusn lahir di Buraidah Al-Qashim pada tanggal 01 Rajab tahun 1356 H (berarti usia beliau sekarang kurang lebih 75 tahun).</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>text asli:</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله ربّ العالمين وصلّى الله وسلّم على أشرف خلقه وأكرمهم وأحسنهم خُلُقا أثنى الله عليه</p>
<p>بقوله: وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)</p>
<p>وقال تعالى: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ (159)</p>
<p>وقال تعالى: فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ (13)</p>
<p>فيا معشر الأحبّة أوصيكم ونفسي بتقوى الله في السّرّ والعلن, وتقوى الله هي امتثال أوامره واجتناب نواهيه, والتقوى وصية الله للأوّلين والأخرين,</p>
<p>كما قال تعالى: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا الله (131)</p>
<p>فهي الوصية العظيمة الجامعة لحقوق الله وحقوق عباده, بأن يطاع فلايعصى, ويذكر فلاينسى, ويشكر فلايكفر, والتقوى وصية الرسول صلى الله عليه وسلم لأمّته كما في خطبة الوداع,</p>
<p>وكان إذا أمّر أميرا على جيش أو سرية أوصاه بتقوى الله, ووصّى بها معاذا رضي الله عنه</p>
<p>قائلا له: اتق الله حيثما كنت</p>
<p>وعليكم بالإخلاص وحسن النية في العلم والعمل, فإنكم مأمورين بذلك</p>
<p>في قوله تعالى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (5)</p>
<p>قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14)</p>
<p>فانو الخير تكن من أهله,</p>
<p>كما أوصيكم بالحرص على العلم النافع, تدبّر كتاب الله, واتباع سنّة رسوله صلى الله عليه وسلم التي حثّ عليها الرسول صلى الله عليه وسلم</p>
<p>بقوله: فعليكم بسنتي، وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور</p>
<p>كما أوصيكم بما أرشد إليه المصطفى صلى الله عليه وسلم</p>
<p>بقوله: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ؛ لا يَظْلِمُهُ ، وَلا يَخْذُلُهُ ، وَلا يَحْقِرُهُ ، التَّقْوَى هَاهُنَا ، و يُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثلاث مرات بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ</p>
<p>فبدأ هذا الحديث الشريف بالتحذير من الحسد, فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب, وإذا أحسست شيئً من ذلك لأحد إخوانك فاكتمه ولاتظهره ولاتحدّث به, فإنه قد قيل ما خلا جسد من حسد, لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه,</p>
<p>وعليكم ياأحبّتي بالتآلف والمحبّة وجمع الكلمة وأداء الحقوق التي حثّ عليها الرسول صلى الله عليه وسلم ورغّب فيها</p>
<p>قائلا: حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ رواه مسلم</p>
<p>وحقوق الإخوة ليست محصورة في هذه, وإنما هي نماذج وتوجيهات ينبغي فهمها والإعتناء بها,</p>
<p>كما أوصيكم باحترام العلماء والأخذ منهم فإن العلماء ورثة الأنبياء, فينبغي احترامهم واجلالهم, فإن الله رفع قدرهم وأعلى شأنهم, حتى ولو غلِط بعضهم في بعض مسائل الإجتهاد, فلايكون ذلك مانعا من الإستفادة من علومهم, ولايسلَم من الأخطاء الا من عصَمه الله والكمال لله وحده,</p>
<p>وعليكم بالأخلاق الحسنة والآداب الفاضلة فإن حسن الخلق يثقل ميزان الحسنات, وهو سبب لدخول الجنة, والى محبة الله ومحبة رسوله والقرب منه يوم القيامة,</p>
<p>فإنه ما من شيئ يوضع في ميزان العبد أثقل من حسن الخلق, وإن صاحب حسن الخلق ليبلغ به درجة صاحب الصوم و الصلاة,</p>
<p>وفي حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما مرفوعا</p>
<p>ألا أخبركم بأحبكم إلي وأقربكم منى مجلسًا يوم القيامة قالوا بلى قال أحسنكم خلقًا</p>
<p>وفي حديث ابي هريرة رضي الله عنه</p>
<p>أكثر ما يدخل الجنة تقوى الله وحسن الخلق</p>
<p>ومما يقوّي الترابط بين الإخوة ويألّف قلوبهم ويزيل ما في النفوس, أن يحبّ المرء لأخيه ما يحبّ لنفسه, وأن يكُفّ عنهم الأذى باليد أو بالسان أو غيره,</p>
<p>كما في الصحيحين من حديث ابي ذرّ رضي الله عنه قال:</p>
<p>قلت يا رسول الله أيّ الأعمال أفضل قال الإيمان بالله والجهاد في سبيله, قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ ؟ قَالَ : تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ، قُلْتُ : أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ :  فكُفَّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ, فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ</p>
<p>ومما تقتضيه المحبة وحسن الخلق, الصفْح عن عثْرات الإخوان وترك تأنيبهم بها والحرص على قلّة الخلاف والحرص على لزوم الموافقة,</p>
<p>وإذا زلّ أحد اخوانك فاطلب له تسعين عذرا, و لا تشتغل بعيوب الناس وتنسى عيب نفسك,</p>
<p>قال بعض الفضلاء: المؤمن يطلب معاذير اخوانه, والمنافق يطلب عثْراتهم,</p>
<p>وأخيرا اعلموا</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ (90)</p>
<p>وحثّ على الإنصاف والقوامة بالقسط ولو على النفس أو الوالدين أو الأقربين,</p>
<p>وأمر الله بالمسارعة إلى ما يوجب مغفرته ويدخل الجنة التي عرضها السموات والأرض,</p>
<p>قائلا: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)</p>
<p>	وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/nasehat-asy-syaikh-shalih-abdul-aziz-al-ghusn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

