Insya Allah kembali hadir di tengah-tengah kaum Muslimuun di Kota Bandung Kajian Ilmiyyah Islamiyyah, pada:

Hari/ Tanggal : Sabtu, 1 Januari 2011 M / 24 Muharram 1432 H

Waktu : Pukul 09.00 WIB s/d Ashar

Tempat : Masjid Agung Al Ukhuwah Balai Kota Bandung
(Jl. Wastu Kencana No. 27 Bandung)

—> Peta: http://www.wikimapia.org/#lat=-6.9107277&lon=107.60867&z=17&l=0&m=b

Pemateri : Al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
(Mudir Ma’had Dhiya’us Sunnah kota Cirebon, Murid Al Alamah Al Muhaddits Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah)
Tentang Pemateri —->http://muhammad-assewed.blogspot.com/

Tema : “KETIKA SUNNAH MULAI DITINGGALKAN”

Selengkapnya klik pamflet ini :
http://www.salafy.or.id/upload/bandung12011.jpg


 

Adab Bertamu

On April 28, 2010, in Akhlak dan Adab, by Admin
Tanya: Assalamu ‘alaikum. Bagaimanakah adab memasuki rumah orang lain? Saya ingin mendapatkan keterangan yang jelas, syukron. Jazakallahu khoiro. (0818208***)

Jawab: Wa’alaikumussalaam warohmatullahi wabarokatuh.

Sesungguhnya hal itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam KitabNya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An Nuur: 27).

Continue reading »

Tagged with:  

Pergolakan Taqlid dalam Sorotan (Bagian Kedua)

On April 25, 2010, in Manhaj, by Admin

Di kota asalnya Aleppo (Syria) saat dia Abu Ghuddah berkhuthbah di atas mimbar pada hari Jum’at, dia menyibukkan diri dengan mencela ahli tauhid yang dikenal di negerinya dengan salafiyyun, dan juga ahli tauhid di Saudi Arabia dan yang lainnya yang dijuluki Wahabiyyah. Dia mengumumkan permusuhannya yang keras terhadap mereka dan nyata-nyata menyesatkannya lewat perkataannya, “Sesungguhnya isti’anah (minta pertolongan) kepada yang sudah mati selain kepada Allah, dan istighotsah kepada mereka adalah boleh bukan syirik. Siapa yang mengira hal itu syirik atau kufur, maka ia kafir!” Dalam keadaan semua orang tahu kalau mereka para ahli tauhid ahlissunnah menyatakan perbuatan itu adalah kesyirikan dan dakwah mereka semata-mata memurnikan peribadahan kepada Allah dan ikhlash dalam hal ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Abu Ghuddah menafikan kalau kalam Allah itu terdiri dari huruf dan suara, seperti keyakinannya Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Pada komentarnya terhadap kitab asma` wash shifat halaman 194 karya Imam Al Baihaqi dia mengatakan, “Sesungguhnya Musa ‘alaihis salam ketika Allah Ta’ala mengajak bicara kepadanya, beliau tidak mendengar suaraNya…”

Ini jelas-jelas sangat bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah aqidahnya para sahabat, tapi nampaknya ini semua adalah buah taqlidnya kepada Al Kautsari di saat Kautsari menolak ketinggian Allah Ta’ala atas makhlukNya.

Sungguh tidak ada baiknya pada diri Abu Ghuddah walau ia sempat tinggal di Saudi Arabia mengajar beberapa tahun lamanya, menyembunyikan jati dirinya berkura-kura dalam perahu alias berpura-pura tidak tahu-menahu.

Bagai bobok manggih gorowong serasa mendapatkan jalan untuk mencela dan menjatuhkan seorang ulama ahlussunnah muhaddits negeri Syam Syaikh Nashiruddin Al Albani, saat beliau mengkritik dan mendho’ifkan salah satu sanad hadits dalam Shahih Bukhari �bukan matannya!-. Abu Ghuddah dan Syaikh Abdullah Al Ghimari menampakkan reaksi pengingkaran yang keras padahal Abu Ghuddah sendiri tahu kalau Al Kautsari yang menjadi guru kebanggaannya mengingkari matan hadits tersebut, lalu kenapa dia diam tidak berkomentar? Karena Kautsari adalah gurunya! Taqlid plus licik, bukan karena ada urusan pribadi dengan Albani tetapi karena memang kebenciannya terhadap sunnah dan ahlissunnah.

Continue reading »

Tagged with:  

Tanya: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Setelah salam (akhir sholat) dan selesai berdo’a kebanyakan orang menyapu muka. Apakah menyapu muka itu diajarkan Rosulullah? Apa dalilnya?

Ahmad Jazuli (dc_bj***@yahoo.com)

Jawab: Wa ‘alaikumussalaam warahmatullahi wabarokatuh.

Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo’a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak bisa dijadikan sandaran, di antara hadits-hadits itu:

1. Hadits Umar, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma’in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho’iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho’ifkan pula oleh Ad Daruquthni.

Continue reading »

Allah Jalla Sya`nuhu telah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrikin benci. Dia menurunkan kitabNya yang berisikan petunjuk dan cahaya bagi siapa yang mengikutinya. Kemudian Dia membebaninya untuk menerangkannya seraya berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS An Nahl: 44).

Beliaupun melaksanakannya dengan baik dan sempurna, beliaulah pengungkap Kitabullah, penunjuk akan makna-maknanya, hal itu dipersaksikan para sahabat-sahabatnya yang Allah telah meridhai dan memilih mereka untuk NabiNya, sehingga merekalah orang-orang yang pertama yang menukilnya.

Menjadi sebuah aksioma bila kemudian mereka adalah manusia-manusia yang paling tahu terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terhadap apa yang diinginkan Allah dalam kitabNya, tampil sebagai peran pengganti dalam mengungkap isi-isinya setelah Rasulullah, selaras dengan penuturan salah seorang di antaranya sahabat Jabir bin Abdillah, “Rasulullah ada di hadapan kami sedang Al Qur`an turun kepadanya, beliau mengetahui tafsirnya, maka apa yang beliau amalkan kami pun mengamalkannya.” (HR Muslim, Abu Daud). Karenanya para sahabat Nabi paling berpegang teguh dengan syariat dan berpijak di atas nash-nash sebab mereka tahu kalau agama telah sempurna tidak membutuhkan tambahan dan syariat pun telah terang lagi gamblang tidak butuh penjelasan ulang perkaranya hanyalah taslim (penyerahan) dan patuh.

Para pembaca, fenomena kepribadian yang seperti itu sangatlah nadir (sedikit / sukar dicari) di zaman kita ini, di dalam memahami agama orang lebih cenderung berusaha menambah penjelasan baru apalagi kalau dirasa bertolak belakang dengan amalannya atau bahkan tuturut munding. Kumaha kalolobaan jelema atawa kumaha ceuk nu ditokohkeun bari jeung teu nyaho hujahna lantaran kadung mercayakeun alias taqlid, tanpa sedikitpun melirik kitab ataupun sunnah apalagi faham para sahabat dalam menginterpretasikan keduanya. Wa ilallahil musytaka.

Continue reading »

HUKUM “SUMPAH POCONG”

On April 14, 2010, in Kontemporer, by Admin

Sumpah Pocong

Tanya: Assalamu ‘alaikum wr. wb. Ada yang ingin ana tanyakan, apakah Islam membolehkan umatnya untuk melakukan sumpah pocong? Karena ada sebagian orang Islam yang melakukannya. (08197890***)

Jawab: Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.

Pertama, Islam tidak mengenal adanya sumpah pocong, hal ini menunjukkan bahwa sumpah pocong bukan berasal dari Islam.

Continue reading »

Hanya KepadaMu Kumohon Pertolongan

On April 7, 2010, in Aqidah, by Admin

Seorang hamba meski memiliki kedudukan yang tinggi, kekuatan yang mumpuni, serta kekuasaan yang luas, tetaplah dikatakan faqir, lemah dan dalam keadaan amat sangat membutuhkan, tidak punya kemampuan dengan sendirinya untuk mendapatkan kemaslahatan dan menolak segala macam kemudharatan.

Bagaimana tidak, sedang segala daya, upaya, kekuatan, semuanya di tangan sang penciptanya, Dzat yang Maha Kaya yang tidak butuh kepada sesuatu apapun. Allah berfirman,

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu maka dari Allah-lah (datangnya) dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan maka hanya kepadaNyalah kamu meminta pertolongan.” (QS An Nahl: 53).

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus: 107).

Bila demikian keadaannya, maka sangatlah pantas dan sudah seharusnya bagi hamba-hambaNya untuk senantiasa meminta pertolongan kepadaNya baik dalam meraih kemaslahatan dunia lebih-lebih kemaslahatan Diennya, siapa yang ditolong Allah, maka dialah yang mendapat pertolongan dan taufiq dan siapa yang dihinakan Allah, maka dialah yang merugi dan binasa. Allah berfirman,

Continue reading »

 

Nilai Eksistensi Sebuah Do’a

On April 3, 2010, in Akhlak dan Adab, by Admin

Negeri Arab khususnya dan dunia pada umumnya sebelum diutusnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dipenuhi dengan kesesatan, penyimpangan, dan kebodohan, terlihat dari semaraknya penyembah batu-batuan dan pohon-pohon, pengingkaran terhadap hari kebangkitan, mempercayai perdukunan, tukang sihir, dan paranormal hingga penyimpangan yang sifatnya kemanusiaan, sosial, dan politik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki rahmat atas hamba-hambaNya, menolongnya dari kesesatan menuju hidayah, maka Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka dari kalangannya sendiri yang mereka telah mengenal akhlaqnya, kejujurannya, serta amanahnya. Allah berfirman,

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jum’ah: 2).

Awal mula yang diserukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seperti halnya Rasul-Rasul lainnya, menyeru untuk memurnikan ibadah kepada Allah ‘azza wajalla dan meninggalkan peribadahan selainNya. Allah berfirman,

“Dan Kami tidak mengurus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al- Anbiyaa: 25).

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut.” (An-Nahl: 36).

Inilah pembuka dakwah para Rasul, karenanya ia adalah pondasi yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan lain, jika pondasinya rusak maka tak ada guna cabang-cabang lainnya, tidak ada manfaatnya sholat, puasa, haji, dan shodaqoh, serta seluruh ibadah-ibadah lainnya. Apabila pondasi telah cacat dan tauhid sudah berantakan tidak ada faidahnya amalan-amalan lainnya. Allah berfirman,

Continue reading »

Mengenal Sunnah-sunnah dalam Shalat

On March 24, 2010, in Fiqih, by Admin

Sunnah-Sunnah Shalat

Penulis Buletin Al-Wala wal Bara Bandung

Diantara sunnah-sunnah shalat adalah

1. Do’a Istiftaah
2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala berdiri sebelum ruku’
3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku’, bangkit dari ruku’, dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka’at ketiga
4. Tambahan dari sekali tasbih dalam tasbih ruku’ dan sujud
5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’
6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah (yaitu bacaan Rabbighfirlii) Diantara dua sujud
7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku’
8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud
9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud
10. Duduk iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan Diantara dua sujud.
11. Duduk tawarruk (duduk pada lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka’at
12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud

Continue reading »

Dzikir-dzikir Setelah Shalat Wajib

Penulis : Bulletin Al-Wala wal Bara Bandung

Keutamaan Berdzikir

Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan, seperti berdzikir secara berjama’ah (lebih jelasnya lihat kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharul Ibtidaa’, Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah, dan lain-lain).

Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh ‘A`isyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim). Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc.
Diantara ayat yang menjelaskan keutamaan berdzikir adalah:

1. Firman Allah,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah:152)

2. Firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzaab:41)

3. Firman Allah, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar/jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab:35)

4. Firman Allah,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf:205)

Adapun di dalam As-Sunnah, Diantaranya:
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)
Adapun lafazh Al-Imam Muslim adalah,

Continue reading »