Sabtu, 15 April 2006
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Dakwah salafiyayah ahlussunnah wal jama’ah dan da’wah hizbiyyah Surruriyyah
(dimulai dengan khutbah hajah)
Ikhwani fiddin akromani wa akromahullahu jami’an. Pada kesempatan malam ini kita akan berbicara seputar dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama’ah dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah.
Pembicaraan dakwah hizbiyyah Surruriyyah sebenarnya sudah banyak dikupas panjang lebar oleh para ulama. Akan tetapi dalam rangka munashahah dan saling mengingatkan bahaya yang ditimbulkan dari dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini, maka tidak ada salahnya untuk kita kembali mengingatkan dan menjelaskan akan bahaya dakwah hizbiyyah Surruriyyah ini.
Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…
Berbicara tentang dakwah hizbiyyah Surruriyyah, maka secara tak langsung kita akan bersinggungan dengan tiga pemahaman bid’ah di dalam Islam. Yaitu antara lain pemahaman Qutbiyyah yang diprakarsai oleh Sayyid Qutb. Kemudian yang kedua, pemahaman Ikhwanul Muslimin (IM) yang diprakarsai oleh Hasan al Banna, dan yang ketiga adalah Surruriyyah itu sendiri yang berafiliasi kepada pemahaman Muhammad Surrur Bin Nayif Zainal Abidin (MSBNZA).
Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…
Pemahaman Quthbiyyah, IM dan Surruriyyah ibaratnya setali tiga uang. Masing-masing saling ada keterkaitan. Sehingga kalau kita berbicara tentang Surruriyyah, maka paling tidak akan menyinggung kelompok/ paham Quthbiyyah dan IM.
Ikhwwani fiddiin ‘azakumullah….
Perlu untuk kita pahami bersama bahwa sesungguhnya perbedaan yang terjadi, perbedaan yang ada antara dakwah Salafiyyah ASWJ dan dakwah hizbiyyah Surruriyyah adalah bukan perbedaan yang disebut ikhtilaful afham –perbedaan penafsiran-. Akan tetapi perbedaan yang ada adalah ikhtilafut thodhar –perbedaan yang kontradiksi- perbedaan yang sangat mendasar, perbedaan ynag terkait dengan hubungan manhaj, perbedaan yang dilandasi dengan berbedanya ideologi. Ini perlu kita ingatkan dan ini perlu kita sampaikan kepada umat bahwa sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam hal manhaj, bukan perbedaan penafsiran. Kenapa kita katakan demikian??
Karena akhir-akhir ini da’i-da’i Surruriyyah menebarkan kerancuan terutama kehadapan orang-orang yang jahil dan orang-orang yang jarang duduk di majlis ilmu. Yaitu mereka (da’i-da’i surruriryyah-red) mengatakan bahwa,
‘Kami dituduh sebagai da’i Surruriyyah atau berpemahaman Surruriyyah, hanyalah karena ketika kami mengambil bantuan dari sebuah lembaga yang menyalurkan dananya untuk anak yatim, faqir miskin, dan kegiatan-kegiatan dakwah islam. Buktinya apa yang kami kaji adalah kitab-kitab salaf, apa yang kami sampaikan adalah ucapan-ucapan para ulama salaf.’
Dengan demikian tertanamlah didalam benak kaum muslimin bahwa sesungguhnya mereka sama (ASWJ dan hizbiyyah Surruriyyah -red), yang berbeda adalah penafsiran saja, manhajnya sama! Nah ini yang perlu kita tekankan bahwa sesungguhnya perbedaan ini menyangkut perbedaan ideologi, menyangkut masalah manhaj.
Ikhwani fiddiin ‘azakumullah…..
Sebelum lebih lanjut kita membahas tentang dakwah hizbiyyah Surruriyyah dan juga keterkaitan da’i-da’i yang kita nyatakan sebagai dai yang berafiliasi dengan pemahaman Surruriyyah, maka alangkah baiknya kalau kita mengetahui gembong atau orang yang memprakarsai lahirnya pemahaman Surruriyyah ini yaitu Muhammad Surrur, seperti apa pemahamannya? Lalu setelah itu kita akan berbicara tentang orang-orang yang terkait dengan pemahaman dia (M Surrur –red).
Istilah Surruriyyah adalah istilah yang keluar dari lisan para ulama salaf. Merekalah orang-orang yang pertama mengistilahkan paham Surruriyyah. Disampaikan oleh Syaikh Abdul Wahab al-Wushobi hafidhahullah beberapa point yang ada kaitannya dengan pemahaman Surruriyyah, diantaranya beliau mengatakan: (bahasa kaset kemudian di transkip)
1. M Surur di dalam bukunya yang berjudul ‘minhajul ‘anbiya’ fi dakwati ilallah’ mengatakan kalimat-kalimat yang kufur diantaranya (hal 81): “Aku perhatikan buku-buku aqidah yang ada sekarang ini aku jumpai, aku dapatkan hanyalah uslub-uslub yang usang, uslub-uslub yang kuno, yang kadaluwarsa, karena didalamnya hanya nash-nash kitabullah saja dan didalamnya disebutkan seputar hukum-hukum.”
-Jadi nash-nash kitabullah dia katakan ushlub-ushlub yang usang, yang kuno yang kadaluwarsa-
(lanjut M surur -red) “O, karena itu maka banyak para syabab, para pemuda yang tak menyukai untuk mengkaji persoalan aqidah.”
Dari sini terlihat bahwa apa yang diusahakan MSZA ini bukan dalam rangka memahamkan umat dalam masalah aqidah, yang dia pahamkan ke tengah-tengah pemuda itu adalah bagaimana caranya supaya para pemuda itu lebih memahami apa yang diistilahkan dengan fiqhul waqi’ –kondisi realita yan ada-. Ini jelas mirip sekali dengan prinsip dakwah IM, karena IM juga merupakan kelompok yang memiliki pemahaman mengesampingkan dakwah kepada tauhid. Penyebab dari apa yang dilakukan oleh IM itu adalah karena mereka meyakini bahwa kesyirikan yang terjadi saat ini bukan dalam hal ibadah, akan tetapi dalam hal politik.
“Sehingga kita tidak perlu berbicara tentang masalah tauhid, yang kita butuhkan ini bicara tentang realita, kondisi saat ini.“
Tentang apa yang diucapkan oleh M Surur ini ditanyakan kepada Syaikh Utsaimin rohimahullah, maka beliau mengatakan:”kalimat yang diucapkannya ini adalah kalimat kufur.” Ketika ditanyakan juga pertanyaan M Surur ini kepada Syaikh Solih Fauzan, beliau juga mengatakan bahwa kalimat ini adalah kaliamt yang kufur, bahkan beliau bertanya, ” Siapa yang mengucapakan kalimat seperti ini? Penanya menjawab bahwa yang mengatakan adalah M Surur. Syaikh Fauzan mengatakan, ”Orang ini adalah orang yang brengsek orang yang jelek!!” demikian pula Syaikh bin Baz ditanya tentang pertanyaan M Surur ini, maka beliau mengatakan: “Ini adalah kalimat riddah, kalimat yang dapt mengeluarkan seseorang dari keislamannya, dan hal yang jelek sekali.” Beliau juga ditanya, ”Bagaiamana hukum menjual bukunya yaitu ’minhajul ‘anbiya fi da’wati ilallah’ karya M Surur itu?” Syaikh menjawab, ”Haram! Haram untuk menjual buku tersebut bahkanyang layak buku tersebut disobek-sobek sehingga tidak ada orang yang bisa membacanya.”
2. Kemudian yang berikutnya: M Surur pernah mengatakan bahwa para ulama dalam bidang aqidah –yang diamksud aadalah ulama ASWJ salafiyyah – mereka itu sesungguhnya orang-orang yang munafik, mereka itu adalah para pendusta, mereka itu adalah jasus (mata-mata – red).
Ini adalah ucapan dia – m.surur- yang juga ia ucapkan dalam kitabnya –minhajul anbiya fi da’wati ilallah- yang kemudian ucapan ini kemudian ia tuangkan dalam majalah yang disebut dengan majalah ‘as-sunnah’. Dia punya majalah namanya as-sunnah, namanya bagus, tapi pada hakikatnya sangat-sangat bertolak belakang dengan nama majalahnya. Karena justru yang ada dalam majalah tersebut adalah penghinaan, pelecehan terhadap para ulama ahlus sunnah. Ini yang kedua
3. Kemudian point yang ketiga. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi hafidhahullah mengatakan: ”M Surur adalah orang yang menyanjung Hasan At-Turabi. Saat Hasan Atturabi mengatakan bahwa seorang muslim dibolehkan menganut agama Yahudi dan Nasrani sebagaimana mereka dibolehkan menganut agama Islam.”
Hal itu dipuji habis-habisan oleh MSZA!!? Padahal termasuk mutaqodahnya ahlus-sunnah waljamaah adalah bahwa siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang akfir yang tulen, yang asli maka dia kafir dan siapa yang masih ragu akan kekafiran orang-orang kafir tulen atau yang asli maka dia kafir. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-bayyinah ayat 6:
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul kitabdan orang-oragn musyrik masuk dalam neraka jahannam, mereka kekal didalamnya, mereka itulah sejelek-jelek makhluk.”
Sementara Hasan At-Turabi dengan lantangnya mengatakan bahwa tidak boleh kita mengatakan orang Yahudi kafir, mengatakan kepada orang nashrani kafir, karena bagaimanapun Yahudi dan Nasrani ini adalah agama samawi yang diturunkan dari langit. Oleh karena itu bagaimanapun kenyataannya pada hakikatnya kita bersaudara dengan mereka. Ini ucapan Hasan at Turabi.
Ucapan Hasan at-Turabi yang seperti ini dipuji habis-habisan oleh M Sururi.
Dalam point dua (2) dia sikat, dia habisi ulama Ahlus-sunnah, dalam point yang ketiga diangkat orang yang bejat akhlaknya, seoarnga yang bejat aqidahnya, seorang yang bejat ideologinya, mana keadilannya???!!! Padahal M Surur dan para pengikutnya itu adalah orang yang senantiasa menggembar-gemborkan ‘kita harus inshaf, kita harus adil’. Dia sendiri tidak adil!! Menghujat habis-habisan ulama ahlus-sunnah dan mengangkat habis-habisan orang yang ideologinya sesat. Dan inshaf/keadilan menurut Surruriyyah adalah kalo kita mengkritik seseorang tidak boleh kita hanya menyebutkan kesalahan-kesalahan saja, tetapi harus disertai penyebuan kebaikannya. Ini timbangaan inshaf/keadilan menurut mereka.
Tentu saja timbangan inshaf dan keadilan yang seperti ini salah!! Menyelesihi manhaj ahlus-sunnah!! Inshaf ataupun adil menurut ulama ahlus-sunnah adalah meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya. Menyatakan yang hak adalah hak dan yang bathil adalah bathil, berani mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu adalah benar. Sementara timbangan M Surur terbalik, entah berlandaskan di atas apa pernyataannya itu!! Hasan at-turabi juga mengatakan –seperti yang tadi telah kita singgung- bahwa seorang muslim boleh menganut agama yahudi dan nashrani. Tentu saja ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dinyatakan oleh Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahabat Ibnu Abbas:
”Siapa yang mengubah agamanya, siapa yang keluar dari agamanya, perangi dia, bunuh dia!”
ini malah seenak perutnya mengatakan, ”boleh-boleh saja orang islam menganut agama Yahudi dan Nashrani.”
4. kemudain point yang lain:
MSBNZA juga memuji habis-habisan orang-orang yang mencela dan melecehkan hijab islami, yang melecehkan hijab yang melecehkan cadar, yang melecehkan pakaian muslimah yang sempurna. Dimana banyak orang yang mengatakan kalo hijab islami yang sempurna, hijab mar’ah yang sempurna adalah seperti kemah (tenda –red)!!! Orang yang mengatakan seperti ini dipuji habis-habisan oleh M Surur.
Dan tentu saja kalimat yang seperti ini adalah kalimat kufur, karena persoalan seperti ini pernah disampaikan kepada Lajnah Daimah (Komisi fatwa ulama Saudi) –semoga Allah merahmati mereka semua- . Ketika ditanya tentang orang yang mencela hijab wanita muslimah dan mengatakan bahwa hijab wanita muslimah itu adalah seperti kemah, maka mereka para ulama semua mengatakan:”Ini merupakan kekufuran, siapa yang berani melecehkan, siapa yagn berani menghina wanita muslimah karena berpegang teguh dengan ajaran agama atau melecehkan seorang muslim yang berpegang teguh terhadap agama, maka dia kafir” Mereka berdalil dengan sebuah ayat yang berbunyi: (QS At-taubah 65-66) ”Katakanlah apakah terhadap Allah dan ayat-ayatnya serta rasulnya kalian melecehkan? Tidak alasan bagi kalian, sungguh kalian telah kufur setelah kalian beriman”
Kemudian para ulama juga menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hatim di dalam kitab tafsirnya. Di dalam hadist tersebut dikatakan, ”Ada seorang laki-laki di saat terjadi perang Tabuk laki-laki itu mengatakan: ’aku tidak melihat orang-oragn yang ahli Qiroahitu kecuali mereka adalah para pendusta-pendusta sunnah dan aku tak melihat keadaan mereka itukecuali sebagai orang-orang yang paling pengecut ketika berjumpa dnegan musuh-musuh Allah dan aku juga tak melihat mereka kecuali merka adalah orang-orang yang mementingkan perutnya.’ Kemudian ada laki-laki yang mendengarkan, dia berkata, ’Demi Allah, aku akan beritahukan kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam dengan apa yang diucapkannya’. Diapun datang kehadapan rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam, ketika itu Allah menurunkan ayat tadi (QS At taubah:65-66). Dan ayat tersbut seolah menjadi jawaban dari kejadian yang ada saat itu.
Orang yang pertama (yaitu yang mengucapkan kalimat-kalimat yang isinya penghinaan) datang kepada rasulullah saw sambil memegangi pelana untanya dia berkata, ”Wahai rasulullah (yang saat itu sedang menunggangi unta), sesungguhnya apa yang kami katakan hanya sendaugurau saja, tidak serius, hanya main-main saja….” Namun rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam tetap menjawab dengan ayat Allah tadi.
Setelah menyampaikan hadis ini, berkata para ulama yang tergabung dalam Lajnah -Komisi Fatwa-: Allah menjadikan cemoohan, penghinaan, dan pelecehan yang ditujukan kepada kaum mukiminin adalah berarti pelecehan dan penghinaan terhadap Allah dan kepada ayat-ayat-Nya, juga terhadap rasul-Nya. Memang pada hakikatnya orang tersebut tidak mendustakan Allah, tidak menghina rasulullah, akan tetapi yang dihina hanyalah seorang ahli qiroah, seorang quro. Akan tetapi Allah menyatakan kekufuranya setelah dia beriman. Karana pada hakikatnya siapa yang menghina seorang mukmin berari dia telah menghina Allah, menghina yat-ayatnya, dan menghina rasulnya. Sehingga ucapan atau pujian yang menjurus kepada kekufuran yagn dilontarkan oleh M surur kepada para penghina hijab adalah pujian yang menjurus kepada kekufuran dan dinyatakan oleh para ulama sebagai kalimat yang kufur.
5. Point yang berikutnya: MSBNZA mengatakan tentang kaum luth:
”Andaikata mereka kaum Luth itu beriman kepada Allah maka sesungguhnya tidak akan bermanfaat keislaman itu bagi mereka, kecuali jika mereka meninggalkan perbuatan homoseksualnya”
Maknanya apa perkataan ini??? Maknanya adalah bahwa MSBNZA mengkafirkan pelaku dosa besar. Dia kafirkan!!!? Dan ini merupakan menhajnya khawarij dan bukan manhajnya ahlussunnah. Adapun aswj mereka tidak mengkafirkan seorang muslim hanya karena dia melakukan dosa besar dan pernyataan ’kafir’ –menurut ahlus sunnah- terhadap seseorang mempunyai syarat-syarat dan mempunyai ketentuan-ketentuan syar’inya. Sehingga aswj mengatakan, ”Andaikata mereka -kaum luth- beriman kepada Allah, maka sesungguhnya akan bermanfaat keimanan mereka itu, adapun perbuatan homoseksualnya –dosa besar- selam mereka tidak menganggap homoseksual tersebut sebagai sesuatu yang halal, setealh menyampaikan hujjah kepadanya, maka mereka masih tetap di atas kehendak Allah. Jika Allah berkehendak mengampuni merkea, maka mereka akan diampuni, dan jika Allah berkehendak untuk tidak mengampuni mereka, maka tidak akan diampuni. Ini merupakan mu’taqod aslussunnah. Jelas berbeda!!!! Yach berbeda 100% dengan apa yang diyakini oleh MSBNZA
6. Point yang berikutnya:
Muhammad Surrur juga memberikan pujian terhadap orang yang mencela Khilafah Usman bin Affan. Dia mengatakan bahwa Khilafah Usman adalah khilafah yang hampa, kosong, khilafah yang tidak ada artinya. Khilafah yang tidak berguna.
Dan orang-orang yang mengatakan demikian adalah Sayyid Qutb, dipuji oleh Muhammad Surrur!! Padahal Usman bin Affan adalah salah seorang yang diberi kabar gembira oleh rasulullah bahwa usman bin affan akan masuk jannah, Usmn bin Affan akan masuk jannah!!! Sementara Sayyid Qutb mencelanya! Dan Usman bin Affan dibunuh sebagai seorang syuhada, dibunuh oleh orang-orang Khawarij saat Usman bin Affan membaca Alquran. Adapun disebut dalam sejarah yang lainny saat Usman sholat tahajud didatangi oleh orang-oragn Khawarij kemudian mereka membunuh Usman, dikatakan dalam sebuah kisahada tetesn darah yang keluar dari tubuh Usman yang kemudian jatuh dalam alquran tepat pada ayat yang berbunyi ’fasayakfikahumullah’-Allah swt akan membalas kejahatan mereka- Jadi Usman bin afffan adalah salah seorang sahabat yang mulia. Jadi tidak benar kalo dikatakan khilafahnya adalah khilafah yang hampa, yang tak berguna, yang kosong.
7. Kemudian point yang lainya: M Surur memuji bahkan membela orang yang menuduh sebagian sahabat Nabi dengan tuduhan kemunafikan. Dan orang tersebut adalah Sayyid Qutb. Dia menuduh salah seorang sahabat Nabi –yaitu Amir bin Ash- dengan tuduhan kemunafikan.
Padaha Nabi dalam banyak hadis menyampaikan tentang keutamaan-keutamaan mereka, ”Barangsiapa yang mencintai Anshor maka itu merupakan tanda keimananya, demikian pula barangsiapa yang mencintai Muhajirin dan keseluruhan Sahabat.”
Namun Dia –Sayyid Qutb- berani mengatakan Amir bin Ash adalah salah seorang sahabat yang munafiq. Ini adalah Sayyid Qutb, kemudian dipuji oleh MSBNZA
8. Point berikutnya: M Surur membela orang yang mengatakan bahwa ajaran islam merupakan kompilasi, campuran dari ajaran-ajaran nashrani dengan penganut Sosialisme.
Orang yang mengatakan ini adalah Sayyid Qutb bahwa ajaran Islam itu adalah kompilasi, campuran, hasil rangkuman dari ajaran nashrani dan paham sosialisme. Dan ini merupakan kalimat yang jelek sekali karena Allah menyatakan dalam Al-quran:
”Siapa yang menghendaki selain agama Islam meka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong kepada golongan orang yang merugi”
Bagaimana bisa dia –Sayyid Qutb- mengatakan bahwasanya ajaran islam ini merupakan rangkuman dari ajaran nashrani dan paham sosialisme. Dan hal ini dipuji habis-habisan oleh MSBNZA
9. Kemudian MSBNZA membela orang yang mengatakan bahwa permusuhan kita, peperangan kita terhadap yahudi dan nashrani bukan karena agama.
Orang ini adalah Hasan al-Banna. Karena itu kita katakan dimuka tadi bahwasanya paham Surruriyyah, Quthbiyyah dan IM adalah setali tiga uang, masing-masing ada saling keterkaitan. M Surur membela Hasan Al-Banna yang mengatakan bahwa permusuha kita, peperangan kita terhadap Yahudi dan Nashrani bukan karena agama, akan tetapi karena negara saja; hanya karena tanah saja; hanya karena wilayah saja; hanya dalam rangka membela wilayah, bukan karena mereka kafir. Ini….!! padahal Allah menyatakan dalam Al-Quran,
”Tidak akan ridlo akan kalian orang-orang Yahudi dan Nashrani sehingga kalian mengikuti ajaran mereka.”
Di dalam ayat ini Allah tidak menyatakan bahwasanya orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani tidak akan ridho kepada kamu sampai kamu menyerahkan ’sepetak tanah’ kepada mereka atau menyerahkan kekeuasaanmu kepada mereka, tetapi sampai kamu mengikuti agama mereka!!! Berarti landasan permusuhan kita dengan Yahudi adalah karena kekafiran mereka, karena agama, bukan karena tanah!! Demikian pula Allah menyatakan dalam firmannya,
”Mereka tetap berusaha untuk memerangi kalian sampai mereka bisa memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka mampu untuk melakukan hal itu.”
dan inilah (point 9 -red) hasil pemahaman yang diyakini oleh M Surur sebagai fiqhul waqi’, fiqh realita hingga menjerumuskan dia kepada pemahaman yang bejat seperti ini, pemahaman yang salah seperti ini!!
10. kemudian juga M Surur memuji Hasan al-Banna dan para dai-dainya yang menyeru kepada teori plualis; penyatuan agama
11. Disebutkan oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab al-Wushobi bahwa M Surur membela orang yang menyeru kepada pemahaman sosialisme, orang yang menyatakan behwasanya dinnul islam itu adalah berarti paham sosialisme. Orang yang menyatakan seperti ini tidak lain adalah pentolan-pentolan IM yaitu: Al-Ghozali dan Musthofa as-Siba’i. Buku-buku mereka berdua banyak dikonsumsi oleh kaum muslimin di Indonesia. Mereka berdua mengatakan bahwa ajaran Islam adalah paham sosialismem. Ini berbahaya!!!
12. M Surur jugamengatakan bahwa Ahlus sunnah, mereka adlah orang-orang khawarij, murji’ah dan qodariyyah.
Ini ucapan M Surur, dia mencoba menutup mata, sebab dia sendiri juga tahu kalau ahlus-sunnah itu selalau mengingatkan ummat dari bahaya Khawarij, mengingatkan ummat dari bahaya murji’ah, mengingatkan ummat dari bahaya qodariyyah. Tetapi dia ingin mengelabui ummat dengan emngatkan bahwasanya ahlus-sunnah itu adalah Murji’ah, ahlus-sunnah itu adalah Khawarij, ahlus-sunnah itu adalah qodariyyah.
13. kemudian M Surur juga memuji dan membela orang yang mengatakan bahwasanya Syaikh bin Baz itu mendekati kekufuran dan orang itu tiada lain adalah tokoh IM yaitu al-Mis’ari.
Al-Mis’ari menyatakan bahwa Syaikh bin Baz itu mendekati kekufuran. Dipuji habis-habisan oleh M Surur.
14. M Surur juga memberikan pembelaannya kepada orang yang mengatakanbahwa para anbiya’, mereka tidak sukses di dalam mengemban kepentingan-kepentingan Allah untuk menyampaikan dakwah islam dan tidak ada yang sukses kecuali imam-imam kami.
Orang yang mengatakan seperti ini adalah Khumaini, dan dipuji oleh M Surur bahwa Khumaini adalah Imam Kabir, dengan pujian yang luar biasa tingginya.
Itulah diantara pemahaman-pemahaman yang dianut oleh M Surur, dan kalo kita simpulkan dari pemahaman tadi, maka paling tidak menjadi lima point:
Point I: Bahwa dakwah Surruriyyah adalah dakwah yang tidak perhatian yang namanya manhaj, tidak perhatian terhadap yang namanya ideologi. Menurut mereka hal itu tidak penting. Dan tentu saja hal ini sangat dekat sekali dengan dakwah IM. Karena itu dai manapun, siapapun yang perhatiannya sedikit bahkan kurang bahkan tidak sama sekali adalah dai-dai yang berafiliasi kepada pemahaman sururi. Kaitannya dengan beberapa dai yang kita nyatakan sebagai dai Surruriyyah adalah termasuk dari point yang pertama ini.
a. Ada seorang da’i yang bernama Abdul Hakim Abdat. Dalama sebuah ceramah yang dia sampaikan di Sumatra –datanya ada bukti tentang masalah ini ada-. Dia mengatakan bahwa semua murid-murid yang keluar dari LIPIA manhajnya bagus dan bahasa arabnya bagus.
Sedangkan orang yang beelajar di LIPIA –semua tahu- campur aduk , ada IM, ada NII, bahkan saya tahu kebanyakan yang belajar disana saya tahu karena pernaha sama-sama belajar di Ngruki, NII. Berarti kalau dia katakan ’semua murid keluaran LIPIA itu manhajnya bagus’, dia menyatakan kalau IM manhajnya bagus, NII manhajnya bagus, dan pinter-pinter bahasa arabnya!!?? Ini ucapannya Abdul Hakim Abdat. Lho kok bisa begitu?? Padahal dalam perjalanannya LIPIA dari berdiri hingga sekarang, tidak pernah mngeluarkan seorang dai salafy, tidak pernah!! Lalu siapa yang dimaksud Abdul Hakim Abdat ini, bahwa murid-murid LIPIA manhajnya bagus? Siapa? Abu Qotadah? Abu Qotadah ketika belajar di LIPIA dia tidak mengenal manhaj salaf, sampai keluar dari LIPIA pun tidak mengenal manhaj salaf. Yang dia kenal adalah prinsip NII, manhajnya NII. Dia –Abu Qotadah- baru kenal salaf ketika dia duduk di majlis Syaikh Muqbil, ketika belajar disana. Setelah keluar dari LIPIA tidak ngerti!! Jadi tidak ada seorang pun yang kelaur dari LIPIA langsung bermanhaj salaf, paham tentang salaf, tidak ada!! Justru kenyataan yang ada adalah sebaliknya, yang tadinya IM masuk kedalam LIPIA keluar jadi daimya IM, yang tadinya NII masuk LIPIA, keluar tetap jadi dainya NII. Ini nyata! Ini realita!! Kalau kita buktikan banyak sekali ya orang-orangnya, ini menunjukkan orang ini –abdul hakim- betul-betul goblok dalam masalah manhaj, nggak ngerti maslah manhaj, nggak ada perhatian dalam masalah manhaj!!
b. Kemudian ada dai yang bernama Yazid Abdul Qodir Jawwaz. Ini ucapannya sungguh sangat masyhur, dia pernah menyatakan bahwasanya urusan tahdzir –karena ini terkait dengan masalah manhaj- itu urusan ulama, kalau kita itu masih tingkatannya tholabul ilm, masih penuntut ilmu, lagipula disamping kita itu kebanyakan orang-orang yang awwam, nggak pas kalau kita main tahdzir, menyatakan fulan min ahlul bid’ah itu nggak pas.
Ini juga sama!! Menunjukkan kalau dia tidak perhatian dengan yang namanya manhaj!! Jadi jarang sekali pada kenyataannya kita dapatkan pengajian-pengajian mereka yang membahas seputar masalah manhaj. Bagaimana sih prinsip ahlussunnah di dalam bermuamalah dengan ahlul bidah, sehingga ketika sebuah buku meluncur yang ditulis oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad yang berjudul ’Rifqon ahlussunnah li ahlussunnah’ itu mereka sambutannya luar biasa, senaaang sekali mereka, dikaji di berbagai tempat, bahkan diterjemahkan buku itu, padahal para ulama telah mengatakan bahwa buku tersebut khawatir menjadi salah satu jalan ahlul bid’ah untuk menghantam ahlussunnah dan ternyata kenyataannya pun demikian. mereka orang-orang yang kita nyatakan berafiliasi dengan faham Surruriyyah, itu sangat senang semangat untuk mengkaji kitab ini. Bahkan menerjemahkannya ’seperti ini dakwah ahlussunnah, harus rifqon, tidak boleh keras, tidak boleh men-tahdzir, tidak boleh mengatakan kalau ini salah, tidak boleh mengatakan kalau ini bidah’ maknanya kan begitu!! Kalau tidak ada tahdzir berarti makanaya begitu, tidka ada bidah. Tidak ada yang dislahkan, semuanya benar!! Ini buktinya bahwa mereka perhatiannya sangat sedikit terhadap masalah manhaj. Lalu kalau tidak perhatia dengan masalah manhaj, lalu perhatiannya terhadap apa?? Perhatian mereka sesungguhnya ya ikhwan…..terhadap harta!! Terhadap mal!! Saya kasih tahu bukti yang otentik –datanya ada jelas-: Abu Qotadah, yang mungkin, barangkali, sekarang menjadi kebanggaan mereka -dai-dai yang mita nyatakan sebagai dai surrurriyyah.
c. Abu Qotadah itu pernah manyatakan bahwa harta itu sedikit dan banyaknya itu fitnah, maka nikmati sajalah….!!

Syubhat ini !! talbis menyatakan begitu!! Sehingga ketika dia mendapatkan dana untuk membangun sebuah lembaga pendidikan yang disebut darul aitam khusus anak-anak yatim. Yach ketika dapat dana tersebut, kemudian dia ingin membangun di sebuah tempat yang dekat masyarakat, akan tetapi masyarakatnya menolaknya, kemudian apa yang ia lakukan?? Yang dia lakukan adalah meminta bantuan kepada seorang Quburi, Quburi!!! Jelas ana tahu orang itu… kalau ada yang mati, berbondong-bondong bersamanya santrinya datang kebukuran, baca yasinan dana segala macam kuburi!! Dia meminta tolong kepada Quburi itu agar menyampaikan kepada masyarakat supaya diijinkan supaya dia-abu qotadah- diijinkan membangun lembaga pendidikan Darul aitam disitu. Bayangkan!! Sampai kejadian seperti itu ada beberapa muridnya yang keluar, merasa bingung, lo kok begini? Inikah manhaj ahlussunnah meminta bantuan kepada ahlul bid’ah? Keluar, dan sekarang alhamdulillah ngaji bersama kita. Bukan disitu saja, ia (Abu Qotadah -red) berusaha untuk terus berusaha membangun lembaga pendidikan di tempat itu, juga dengan cara menyogok, riswah, menyogok aparat sampai kurang lebih habis 300 juta, untuk hanya sekedar sogok-menyogok, bayangkan!! Awalaupun bukan ia yang terjun secara langsung mengurusi masalah ini, tetapi ia menyetujuinya, dia menyetujuinya!! Ini Abu Qotadah, bekerjasama dengan seorang Quburi, sufi. Jelas semua orang tahu, orang awwam pun tahu kalau ia sufi quburi, itu dimintai tolong sama Abu Qotadah, bagaimana manhajnya? Berarti ia tidak perhatian terhadap manhaj? Jawabnya: ia, dia tidak perhatian terhadap manhaj!! Dan dari atu sisi ini saja menunjukkan bahwa ia berafiliasi pada pemahaman Surruriyyah, M Surur adalah orang yang perhatian dalam masalah aqidah, tidak perhatian dalam masalah manhaj, sehingga dia banyak memuji dai-dai teologi pluralis dan dai-dai yang lain.
Point 2: Penghinaan, pelecehan, cemoohan yang dilontarkan terhadap ulama salaf dan salaffiyyin. Ini juga bisa dibuktikan:
Abdul Hakim Abdat mengatakan dalam sebuah ceramahnya di Sumatera, ”Orang-orang yang keluar dari LIPIA itu bahasa arabnya bagus, sedangkan salaf lemah bahasa arabnya” (dengan gaya dia)
Ini benar-benar pelecehan penghinaan terhadap salafiyyin dan pujian terhadap hizbiyyin.
Dia juga mengatakan bahwa saat ini kita tidak mungkin untuk tidak bersinggungan dengan IM dan hizbiyyin yang lainnya, sangat tidak mungkin, pasti saja kita akan bersinggungan dengan mereka. (Ini Talbis/dusta)
Contohnya majlis Syaikh Muqbil ada orang-orang ikhwani, majlis Syaikh Rabi’ ada orang-orang ikhwani, majlis Syaikh Utsaimin ada orang-orang ikhwani.
Ini dusta!! Kapan dia bertemu dengan Syaikh Muqbil?? Orang dia duduk dengan para ulama aja tidak, kok berani dia mengatakan seperti itu, dan ini adalah pelecehan terhadap mereka -para ulama!! Kita tahu bagaimana kerasnya Syaikh Muqbil terhadap IM, demikian pula Syaikh Rabi demikian pula Syaikh Utsaimin. Lalu dikatakan di majlis mereka ada IM, lo kok bisa?? Ini kedustaan, ini talbis, ini penipuan, penipuan dalam rangka membuat kerancuan. Ini Abdul Hakim Abdat.
Mereka, ketika kita beritahukan bahwa lembaga Ihyaut-turots adalah lembaga yang diingatkan, yang diwanti-wanti oleh para ulama agar tidak bekerjasama dengannya. Merka malah mengatakan ulam itu bukan hanya Syaikh Mugqbil saja, bukan hanya Syaikh Robi aja ini secara tidak langsung mengandung celaan, cemoohan terhadap Syaikh Muqbil, juga terhadap Syaikh Robi.
Demikian juga Abu Qotadah, ketika disampaikan kepadanya –data ada bisa dibuktikan, dipertanggungjawabkan- ketika kita sampaikan padanya bahwa Syaikh Muqbil telah berbicara tentang Yayasan At-turost, atau lembaga Ihyaut-turost dia mengatakan apa?
”Itu hanyalah informasi yang disampaikan oleh Syaikh Muqbil, sedangkan saya disini, saya masih dalam rangka melihat. Saya coba bergabung dengan mereka untuk mengetahui apa mereka hizbi atau bukan.” (perkataan Abu Qotadah –red)
Lancang ucapannya! Dia anggap apa Syaikh Muqbil?! Dia anggap informasi yang disampaikan Syaikh Muqbil tetang masalah Ihyaut-turost itu kadzab semua? Tidak sesuai kenyataan, padahal nama Syaikh Muqbil dia sandang kemana-mana. Setiap dia mengadakan kajian ada embel-embel dibawahnya murid Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’ie. Tapi sikapnya terhadap Syaikh Muqbil seperti itu. ”Itukan informasi dari dia” bayangkan!! Seperti inikah orang yang bermanhaj salaf? Tentu tidak, tidak bia kita terima pernyataannya yang seperti itu.
Dia –abu Qotadah- pernah ditanya dalam sebuahmajlis taklim –data bisa dibuktikan- pernah ditanya, ”Apa yang menyebabkan antum berselisih dengan Abu hamzah?” jawabanyya apa, ”Saya ingin menjawab selain dari apa pertanyaan ini, coba kalau ada pertanyaan lain jangan pertanyaan seperti ini!”
Ndak di jawab! Padahal umat butuh keterangan bahwa perselisihan antara saya-Abu Hamzah dan dia bukan masalah pribadi bukan masalah harta tapi semata-mata urusan ideologi. Umat butuh penjelasan tapi dia tidak mau menjawabnya, malah dia mengatakan,
”Ya ikhwan sekarang ini mendingan perhatian kepada ibadah, bagaimana cara wudlu yang benar, cara sholat yang benar ini saja kalian belum pada bisa” ini ucapan dia.
Padahal kita yakini bahwa urusan masalah manhaj, wudlu, sholat dan ibadah yang lainnya sama saja. Semua adalah perkara yang harus kita ketahui dan bagian dari ajaran Islam dan Syariat Islam. Karena Allah menyatakan,…”Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.” ambil islam dari segala sisinya, urusan manhaj juga bagain agama, tentang sholat, tentang wudlu juga bagian agama. Ummat butuh penjelasan ini semua. Ya tak bisa kita mengesampingkan urusan manhaj ini, padahal urusan manhaj adalah urusan yang sangat prinsip. Ini Abu Qotadah
Point 3: Diantara prinsip dakwah Surruriyyah adalah memuji para hizbiyyin, memuji ahlul bid’ah dan bekerjasama dengan mereka. Lagi-lagi sebagai contoh yang jelas adalah Abdul Hakim Abdat, memuji LIPIA, memuji orang-orang yang keluar dari LIPIA, memuji lulusan-lulusan LIPA sebagai orang-orang yang manhajnya bagus.
Ini menunjukkan bahwa dia sangat tolol terhadap masalah manhaj, tidak bisa membedakan mana manhaj ikhwani, seperti apa manhaj NII, dan seperti apa manhaj salaf, akhirnya dia manyatakan semua manhajnya bagus.
Abu Haidar juga sama, dia memuji habis-habisan lembaga As-sofwa, ketika dinasehati Ust Muhammad dia katakan, ”As-sofwa ini termasuk pihak yang didholimi”
Ini Abu Haidar yang memuji As-sofwa, kalau Abu Qotadah tidak hanya memuji, tetapi menjadi bagian dari As-sofwa. Padahal semua orang tahu, semua orang bisa membuktikan kalau diantara deretan dai-dai yang tergabung dalam as-sofwa itu ada IM, ada NII dan lain sebagainya. Karena sifatnya as-sofwa itu ada semacam penerimaan dai, dites, kalau lulus jadi dai as-sofwa, akibatnya yang daftar banyak, bermacam-macam, berarti secra tidak langsung dia bekerjasama dengan Lembaga As-sofwa. Ana masih ingat, ketika masih di Ngruki, As-sofwa memberikan bantuan dana untuk pembuatan sebuah perpustakaan plus buku-bukunya. Kita tahu manhajnya Ngruki, Abu Bakar Ba’asyir itu dibantu sama as-Sofwa. Ini merupakan bukti yang tidak bisa diingkari kalau as-sofwwa menumbuhsuburkan semua gerakan dakwah, teramsuk didalmnya orang-orang yang berafiliasi kedalam pemahaman Surruriyyah. Tentu saja seorang Ikhwan yang menjadi dai as-sofwah, dia akan menyeru ummat kepada pemahaman ikhwannya, demikian pula orang-orang yang berafiliasi kepada paham Surruriyyah. Lucu jadinya…., dia mendakwahkan orang, mengajak orang kepada salaf, menyampaikan ucapan-ucapan salaf, tentu saja kondisi ini dimanfaatkna dengan baik oleh As-sofwa untuk mengelabui ummat bahwa mereka itu benar, mereka itu adalah ahlussunnah, mereka adalah pengikut salaf, bahkan Abu Haidar pernah didatangi seseorang yang kemudian ia sudah kelaur dari Abu Haidar dan ngaji di saya, itu pernah mangatakan, ”Saya tidak pernah bertemu Abu Hamzah, kalau sewandainya mereka mengkritik saya karena saya berhubungan dengan as-sofwa, maka saya sudah keluar” Tapi sayang ucapannya ini tidak dibuktikan secara nyata, ia masih berhubungan dengan As-Sofwa, meski tidak secara langsung berhubungan dengan dai-dainya, seperti Abu Qotadah yang masih berhubungan kuat. Ini Abu Haidar.
Point 4: Mengikuti manhajnya Quthbiyyah, sebagaimana yagn telah diucapkan M Surur di atas.
Point 5: Mengikuti prinsipnya IM, yaitu ”kita saling bekerjasama dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaafkan dalam perkara-perkara yang kita berbeda di dalamnya”
Ini persis apa yang menimpa Abu Qotadah, apa yang menimpa Yazzid Jawaas, apa yang menimpa Abu Haidar, apa yang menimpa Abdul Hakim Abdat, dan yang lainnya yang kita klaim sebagai orang-orang atau dai-dai Surruriyyah karena mereka terbukti jelas berhubungan dengannya baik langsung maupun tidak langsung, baik mereka rasa ataupun tidak rasa. Yazzid Jawwas pergaulannya banyak berhubungan dengan ikhwan bahkan dia menjadi salah satu dai dewan dakwah, abu qotadah juga demikian, jelas dia menjadi dai As-Sofwa, apalagi Abdul Hakim Abdat. Kemudian juga dalam kenyataan yang ada, banyak sekali melanggar [rinsip-prinsip ahlus-sunnah seperti terlalu mudah untuk belerjasama dan meminta bantuan kepada para hizbiyyun seperti apa yang menimpa Abu Qotadah, bahkan lucunya, lucunya Abu Qotadah dan pengikutnya itu dia katakan,
”Kami semua menyatakan bahwa As-Sofwa itu bukan salaf (mereka mengatakan begitu) kami hanya menerima dana mereka, ya… dari pada diambil ahlul bidah ya diambil sama kita saja”
NDASMU KUWI mengatakan seperti itu!!! Ini nampak jelas ketololannya atau kebidahannya, dan ini semua akibat dari ketidakhati-hatianya mereka dalam pergaulan dan mereka sangat berambisi untuk mengikuti hawa nafsu, dalam segal persoalan mereka selalu bermudah-mudahan. Dan itupun kita bisa buktikan, banyak contoh yang meninjukkan akan hal tersebut.
Ikhwani fiddin azzakumullah…
Itulah tadi diantara kesimpulan dari beberapa prinsip dakwah Surruriyyah, mudah-mudahan hal ini menjadi kejelasan bagi kita semua, dan harapan kita adalah bahwa kita senantiasa diberi petunjuk-Nya dan dilindungi oleh Allah Swt. Dan kita berdoa kepada Allah dengan doanya kaum mukminin:
”Wahai Rabb kami, anugerahkan kepada kami kesabaran dan kokohkanlah pendirian-pendirian kami dan tolonglah kamia atas kaum-kaum yang kafir.”
Kita cukupkan sampai disini.
(Doa penutup majlis.)
Wallahu a’lam
Comments
Leave a comment Trackback